INLAND NIEUWJAAR, Lebaran Di Bangka Masa Hindia Belanda

0
IMG-20260320-WA0006

Oleh: Dato’ Akhmad Elvian DPMP
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

______________________

Lebaran atau Hari Raya oleh orang Eropa dan pejabat Hindia Belanda disebut dengan Tahun Baru Pribumi (Inlands Nieuwjaar).

Kebiasaan berpakaian serba baru dan menyiapkan makanan serta perayaan yang meriah setidaknya telah dimulai sebelum tahun 1900.

Pilihan menggunakan Sungkok dan kain sarung pelekat sebagai busana sholat tampak masih dominan dikenakan.

Terkait penentuan hari raya dari zaman Kolonial telah terjadi perbedaan Perbedaan tersebut dikarenakan perbedaan perhitungan Tahun Hijriyah (Muhammedaansche) dengan Tahun Masehi (Gregoriaansche),dan oleh sebab itu Hari raya idul fitri ditetapkan 2 Hari penanggalan agar dapat mengakomodir masing masing perbedaan.

Penjelasaan terkait hal di atas selengkapnya dapat dibaca pada Koran Belanda De Indische courant, tanggal 25 Februari 1931.

Selanjutnya harian De Indische courant juga menyebutkan asal mula dari istilah “Lebaran” sebagai perayaan yang menutup puasa sebulan penuh. Lebaran merupakan kata dari bahasa Arab: “albarian” yang memiliki arti “sarapan”.

‘Setelah berpantang dari segala makanan di siang hari selama sebulan, tidak hanya dari segala kenikmatan makanan dan minuman, tetapi juga dari merokok, menggunakan wewangian, singkatnya dari segala sesuatu yang dapat memberikan kesegaran atau keringanan. Pada I Syawal, orang beriman dapat menjalani kehidupan seperti biasa kembali dan bisa bergaul lagi dengan istrinya,”.

Selengkapnya dalam Koran dinyatakan: Lebaran moet de versoendaniseering zijn van het Arabische word : albarian, waaraan de beteekenis van ,,ontbijt” wordt toegekend. Na zich gedurende een maand des daags van elle voedsel te hebben onthouden, niet allen van alle genot van spijs en drank, maar ook van het rooken van tabak, het gebruik van parfumerieën, in één word van alles wat eenige verfrissching of verlichting zou kunnen schenken, mag de geloovige op I Sjawwal het leven weder uitleven en zijn echtgenote opnieuw omhelzen.

Penanda waktu di Masyarakat bahwa besok adalah hari raya adalah dengan pemukulan beduk di masjid dan surau kampung.

See also  Pasal "PENGANGKAT" Dalam Kitab Hukum Adat Sindang Mardika di Pulau Bangka.

Peran para penghulu, khatib dan modin sangat besar pada saat momentum idul fitri terutama pada saat pelaksanaan sholat ied dan kegiatan nganggung di masjid di kampung kampung di pulau Bangka.

Anak anak juga menyambut idul fitri dengan riang gembira dengan bermain di masjid sambil memukul beduk ketiter dan bermain siram siraman air di bak wudhu.

Biasanya kulit beduk sampai pecah dan air wudhu di bak menjadi kering. Suasana serba baru dikatakan oleh orang Belanda sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kesulitan ekonomi pada masa masa berikutnya dan para pejabat pribumi seperti demang dan batin dianjurkan untuk berhemat menggunakan keuangan negara, termasuk untuk menjamu ambtenar ambtenar governement.

Suasana meriah tidak hanya dirayakan oleh orang yang berpuasa akan tetapi dirayakan oleh seluruh masyarakat termasuk yang tidak berpuasa.

Kebiasaan memberikan THR belum ada masa ini. Setiap rumah tangga keluarga batih biasanya menyiapkan 3 dulang makanan untuk diantarkan ke masjid setelah sholat Ied dan 2 dulang diantarkan ke rumah orang tua dan mertua.

Kegiatan nganggung di masjid dilakukan setelah sholat Ied dan saling kunjung ke keluarga kerabat terdekat dilaksanakan sampai hitungan hari raya keberapa yang ditandai dengan kue kue kering seperti kue rintak sagu, semprong, dan sempret serta kue satu yang dibuat oleh masing-masing rumah tangga seminggu sebelumnya habis di toples ruangan tamu (tinggal gerbeknya).

Untuk penganan seperti ketupat dan lepet dengan lauk pauknya biasanya hanya dihidangkan bagi keluarga yang berkunjung ke rumah. Suasana idul fitri di pulau Bangka sangat meriah bila bersamaan dengan musim mutik sahang.

Pasar di Pangkalpinang sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat dari kampung kampung untuk membeli segala macam keperluan yang serba baru.

See also  KOTA KAPUR, menggali kepingan sejarah yang lama terkubur

Bila semangat bekerja yang giat dilakukan oleh masyarakat Bangka dapat dipertahankan sepanjang tahun sama seperti giatnya bekerja menjelang penyambutan hari raya tentu sangat luar biasa baik dan dapat meningkatkan profuktivitas dan kemakmuran pada kehidupan masyarakat.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *