IMG-20260319-WA0004


Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP.
(Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia)

==============

Beduk adalah gendang besar yang terbuat dari kayu, dilobangi dan untuk resonansinya menggunakan kulit sapi atau kerbau yang telah dikeringkan.

Sepanjang sejarahnya Beduk dijadikan sebagai sarana komunikasi tradisional pada masyarakat di masjid atau surau di kampung kampung di pulau Bangka yang pada waktu itu jumlah komunitas masyarakatnya masih kecil dan sederhana yaitu kampung kecil dihuni sampai 60 bubung rumah yang dipimpin seorang Lengan dan kampung besar dihuni di atas 60 bubung rumah dipimpin oleh seorang Gegading.

Beduk secara tradisional berfungsi sebagai penanda waktu sholat dengan ciri bunyi jumlah pukulan terakhir sama dengan jumlah rakaat sholat, selanjutnya beduk juga sebagai penanda kematian seseorang yang disebut beduk panjang dengan durasi bunyi pukulan yang lama dan panjang.

Pada saat bulan Ramadhan, beduk juga sebagai penanda waktu sahur, dan berbuka puasa. Pada masa lampau beduk juga dipukul sebagai penanda dimulainya hari puasa, setelah penghulu, khatib dan modin bersepakat setelah melihat hilal untuk memulai puasa.

Pada saat hari raya bunyi beduk ditunggu tunggu dan dipukul dengan cara khas menggunakan 2 alat pukulan dengan irama kegembiraan yang disebut dengan beduk ketiter, (berasal dari kata kena titer/titir atau kena pukul sehingga berbunyi).

Beduk Ketiter menjadi kegembiraan tersendiri bagi anak anak untuk memukulnya, bila perlu, beduk dipukul sampai pecah dan selanjutnya skan digantikan dengan kulit baru yang biasanya sudah disiapkan di masjid.

Di pulau Bangka, Beduk juga digunakan sebagai sarana mitigasi bencana seperti penyakit menular, kebakaran dan banjir serta gempa. Misalnya seperti di Kota Pangkalpinang pada minggu kedua bulan Januari 1986, melalui pemukulan beduk di masjid masjid diberitakan bahwa pintu air rusak dan jebol sehingga terjadi banjir besar dan masyarakat diminta untuk mengungsi ke tempat tempat yang terlindung dari banjir besar.

See also  Kongian di Pulau Bangka, Dalam Catatan Kolonial Belanda

Saat ini kita sedang menantikan bunyi beduk ketiter karena menunggu pengumuman tentang tanggal 1 Syawal. Bunyi beduk yang selalu dinantikan sebagai tanda kemenangan.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *