PULAU KELAPAN Dalam Catatan Perjalanan JELAJAH BANGKA

Kita tidak pernah tahu kemana nasib akan membawa.
Banyak yang kita inginkan, namun terkadang sedikit yang kita dapatkan.
Sempurna yang dibayangkan, kecewa yang dihasilkan.
Bahagia  didamba, tangis yang ada.

Manusia hanya berencana, tapi Tuhan yang menentukan.
Begitu pepatah yang gampang sekali terucap.
Namun tak jarang sulit diterima.

Mungkin disitu salah satu fungsi Agama.
Sebagai peredam gulana ketika duka sedang mendera.
Kita bisa menerima dengan sabar, ikhlas dan berlapang dada.
Sekaligus pelajaran agar terhindar dari sifat sombongnya manusia.

Namun, bisa jadi hal semacam ini yang membuat Karl Marx sampai mengatakan:
“Religion is … the opium of the people”.
Agama adalah Candu Manusia!*

Hanya saja, tak selamanya nasib menjadikan kita lara.
Ketika Tuhan berkehendak, maka tak satupun kuasa yang bisa menolak.
Seperti hari ini, keberuntungan demi keberuntungan terus menghampiri kami.
Semua diluar dugaan, jauh dari rencana.
Perjalanan yang dipayungi  dewi fortuna mengantarkan kami hingga disini, Pulau Kelapan.

Kawan…
sebelum melanjutkan tulisan ini, saya minta maaf duluan.

Mungkin ini akan membosankan karena lebih banyak bercerita tentang perjalanannya.
Makanya tulisan ini diberi judul “Pulau Kelapan DALAM CATATAN PERJALANAN Jelajah Bangka”.
Namun tetap harus ku tulis karena banyak hikmah yang bisa didapatkan.
Bagi yang mau langsung, silahkan scroll ke bawah ya. 🙂

♠    ♠    ♠    ♠    ♠    ♠    ♠    ♠

11 Jam sebelumnya. Pukul 06:58 pagi
Tin tin….
klakson mobil dibunyikan.
Tidak terlalu keras memang, namun cukup terdengar oleh ku.
Jemputan datang. Ku raih tas dengan segala perlengkapannya, mengunci pintu dan segera ku hampiri mereka.
Dibalik kemudi, ku lihat Bang Dek sedang tersenyum.
Disebelahnya, duduk Dwi Hardiansyah menyodorkan tangan sambil menanyakan kabarku.
Sementara di bak belakang sudah “pewe”, Bang Adi Gusman ditemani seorang rekan wartawan, Doni.
Meraka semua adalah sahabatku sesama penJelajahBangka.

Rencananya hari ini kami akan berkunjung ke Pulau Kelapan.
Seperti biasa, ala backpacker aku lebih senang duduk di bak belakang.
Menikmati terpaan angin disetiap kampung yang akan dilalui.
Leluasa memandang aktifitas warga dalam kesederhanaan sehari-hari.

Bismillah…Otw Toboali ! 

2 Jam perjalanan Pangkalpinang – Toboali ditempuh dengan aman, lancar terkendali .
Memasuki kota Toboali, Doni yang juga merupakan anggota PPM (Pemuda Panca Marga) Kota Pangkalpinang mencoba menghubungi ketua PPM Basel, mungkin semacam pemberitahuan izin memasuki suatu wilayah.
Diujung pembicaraan, entah seperti apa awalnya, kami “diperintahkan” untuk berbalik arah dan wajib singgah di Markas Cabang PPM Bangka Selatan!

Hadeh !
Dengan berat hati dan sedikit kesal tentu saja, kami berbalik arah.
Belasan menit waktu terbuang, demi sebuah solidaritas.
Cari punya cari, tanya punya tanya akhirnya Macab PPM Basel ditemukan.

“Tertawa jangan terbahak
Menangis jangan meraung”

*Nasehat yang sering ku dengar dari (alm) Ayahku.

Dibalik kekesalan tadi, rupanya menyimpan kejutan.
Ternyata Bung Wiwid, sang ketua PPM Basel ingin menjamu kami.
Tidak main-main, lempah kulit pisang pakai santan masih mengebul dari wadahnya.
Belum lagi ikan teri yang dioseng dengan tempe berpadu kacang tanah kegemaranku.
Dan yang tak kalah amazingnya adalah Salai ikan parik!.  (nyam..nyam….. nites aek yok!)

LEMPAH-BUAH-PISANG

Ku lirik jam tangan ku, 09:18. Tiba-tiba perut terasa lapar.
Bukan hanya karena belum sarapan. Tapi bagi orang Bangka asli, siapa yang sanggup menolak lempah yang bikin nites aek yok tadi???.

Selanjutnya, demi kesopanan dan tata krama, kami makan sambil ngobrol santai bersama Bung Wiwid beserta rekannya Faisal Laoshi.
Tak perlu waktu lama, semua hidangan tadi dapat kami selesaikan dengan baik.
Alhamdulillah.

Karena diluar dugaan, maka bolehlah ini ku sebut sebagai keberuntungan bagi kami.

Perut terisi, tenaga  pun bugar kembali.
Rupanya tak hanya itu kejutan dan keberuntungan yang diberikan Tuhan kepada kami melalui Ketua PPM Basel.
Karena perjalanan selanjutnya akan sangat istimewa bagi kami.
Bayangkan, kendaraan gogek bak terbuka kami ternyata akan dikawal oleh mobil khusus dari Ketua PPM Basel.  Mantab….
Perjalananpun semakin lancar, tak ada ragu dan tak ada tanya.
Dari Toboali hingga ke ujung dermaga Pelabuhan Sadai berjalan dengan damai.
Bagiku, ini adalah keberuntungan kedua kami. Thanks to PPM Basel.

♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥

Sesampai di Sadai, kami mulai bertanya tentang penyeberangan ke Pulau Kelapan.
Rupanya tidak ada kapal ataupun perahu khusus yang kesana, semua harus sewa.
Ada informasi 300ribu/orang untuk minimal 10 orang.
Umumnya hanya meminta 200ribu/orang dengan minimal yang sama, 10 orang.
Dan yang paling murah adalah 1 juta untuk kami berlima.
Alasannya adalah, Pulau Kelapan cukup jauh. Membutuhkan waktu 2 Jam dari dermaga Sadai.
Meski sudah paling murah, namun 1 juta bukan lah uang yang kecil untuk ukuran kantong kami.

Ketar-ketir khawatir tidak mampu sewa buat penyeberangan, kami terus bicara dengan siapa saja yang ada disana sambil menambah informasi tentang Pulau Kelapan.

Kelapan adalah Pulau tak berpenghuni.
Sekelilingnya hanya ditumbuhi bakau dengan akar yang merambat kemana-mana.
Tidak ada pantai sama sekali, makanya tidak ada perahu yang bisa sandar.
Air tawar tidak ada, dan daratannya dihuni oleh jenis nyamuk yang tak mempan segala macam racun, baik oles maupun bakar.
”Kalau ngotot  ke Pulau Kelapan, kalian harus bawa kelambu!”.
Begitu peringatan seorang teman terngiang ditelingaku.

Jangankan menetap, untuk berkunjung kesana pun orang enggan.
Tidak heran referensi tentang Pulau Kelapan amatlah sedikit.
Kalaupun kesana, orang-orang hanya diperairannya saja untuk snorkling, sangat jarang ada orang yang berani menginjakkan kaki didaratannya.
Setidaknya, begitulah gambaran Pulau Kelapan yang kami terima selama ini.

Lantas apa yang membuat kami tetap ingin berkunjung kesana?
Karena bagaimanapun, Kelapan adalah bagian dari Bangka, jadi wajib dikunjungi!.

Namun apa daya, keinginan saja tak cukup rupanya tanpa diimbangi dengan finansial yang baik.

“kalau bergantung pada manusia, maka siap-siaplah kecewa.
Namun kalau percaya padaTuhan, siap-siaplah terhenyak”

Untuk kalimat pertama, aku bisa mengerti apa yang (alm) Ayahku maksudkan.
Tapi kalimat kedua, butuh proses dan bukti nyata, baru kita benar-benar bisa terhenyak.

Secara hitungan matematis, kami hampir gagal untuk menyeberang ke Pulau Kelapan.
Sambil mengulur waktu, kami terus mencari celah untuk bisa kesana.
Entah darimana datangnya, tiba-tiba seorang pemuda menanyakan kemana kami hendak pergi.
Mendapat jawaban kami berniat ke Pulau Kelapan, dengan santai beliau bilang

Tu ade urang yang nek pulang ke Kelapan”.

(Hah?!!!  Pulang ke Kelapan?    Maksudnya??   Bukankah Kelapan tidak ada penduduk???)
Setengah sadar, antara girang dan penasaran diimbangi rasa takut kecewa, kami dekati orang yang dimaksud.
Kami tanyakan, “Abang mau ke Pulau Kelapan?”.
Ibarat lagu, jawaban yang kami terima adalah bagaikan petir disiang hari.

katanya:
“Iya saya mau pulang ke Kelapan, kalian mau ikut ?”

JELEGARRR !!!
Tiba-tiba hati ku bernyanyi, Bagaikan Petiiirrrr Disiang Hariii….

Kalau Tuhan sudah berkehendak, mudah sekali bukan???
Dan seperti kata Ayahku dulu, Bikin Kita Terhenyak !
(hehe.  Kawan…  tak usahlah kau fikirkan, karena ini adalah Keajaiban. Yang ketiga!)

♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥

Bang Sanudin namanya, beliau menjanjikan jam 3 baru bertolak pulang, karena masih ada urusan bongkar muat untuk keperluan keluarga di Pulau Kelapan.
Ku fikir tak apalah, yang penting penyeberangan sudah aman.

Ku tengadahkan wajah ke langit, tersenyum pada awan, berterimakasih pada Yang Kuasa.
Matahari hampir diatas kepala, mendekati jam 12 berarti.

Ting !
Aku baru teringat kalau tadi ada pesan WA dari seorang teman.
Beliau meminta kami untuk mampir kerumahnya.
Mungkin karena tadi terlalu fokus masalah penyeberangan, membuat ku lupa untuk membalas pesannya.
Boro-boro membalas, membacanya saja belum sepenuh faham.
Ku raih HP dan kembali membaca pesan beliau.

WA1

wah… sudah lebih satu jam yang lalu ternyata.
Segera Aku Replay…
WA2
Beliau jawab

WA3
Oke.
Setelah mengucapkan terimakasih,
kepada orang-orang yang ada didermaga, ku tanyakan rumah dengan nama dan ciri-ciri tersebut.

Allahu Akbar! Ternyata rumah itu hanya berjarak 100 meter dari tempat kami berdiri !
Lemas lututku, kenapa kebetulan ini bertubi-tubi???
Ini bukan perkara main-main saudara, Sungguh!.
Kalian dapat membuktikannya sendiri kalau sedang berada disana!

Lantas, salahkah aku jikalau hal ini aku masukkan kedalam keberuntungan yang keempat ?

Kepanasan berdiri disamping dermaga sadai, kami mulai berjalan menuju rumah Bu ****wati.
Ternyata suami beliau adalah seorang saudagar besar disini.
Usahanya berkembang hingga Muara Angke, Jakarta.

Kedatangan kami rupanya sudah ditunggu oleh penjaga rumah.
Seperti pesannnya, si Empu sedang berada di Bandung untuk menghadiri ulang tahun putri tercintanya, sweet seventeens.

Dirumah ini kami beristirahat menikmati udara Sadai, 157 Km dari Pangkalpinang.
Enak, tenang dan nyaman sekali suasananya.

SANTAI-DITERAS

Ngobrol dalam nuansa keakraban memang efektif menghabiskan waktu.
Tak terasa pukul 3 sudah didepan mata.
Bergegas, ku kirim pesan ke Nyonya rumah, untuk berterimakasih dan mohon pamit.

Begitu pesan terkirim, ku lihat Typing… disudut kiri atas.
Berarti Bu ****wati sedang membalas pesan WA ku.
Batal ku tutup HP, ku tunggu repaly dari beliau.
Benar saja…

WA5

Kawan….. kau tak percaya?
Ini, ku fotokan saja buktinya.

IKAN KEPITING

Nah, kalau sudah begini, apa yg harus ku katakan padamu?
Selain…, INI ADALAH keberuntungan yang kelima!

♣    ♣    ♣    ♣    ♣    ♣    ♣    ♣

Di dermaga, rupanya Bang Sanudin sudah menunggu.
Bahu membahu kami pindahkan barang-barang kedalam perahu.

Beres semua, tali pengikat kapalpun dilepas.
Ku lihat Bang Sanudin menarik tuas kopel, baling-baling berputar terbalik, air disekitarnya bergolak,  perahu bergerak mundur.
Ini sengaja dilakukan untuk menjauhkan perahu dari beton dermaga sekaligus memberi ruang terhadap perahu yang ada didepan.
Setelah mempunyai jarak yang aman, kopel  didorong beserta tali gas yang mulai dikencangkan.
Perlahan, perahu meninggalkan dermaga. bye bye sadai……

Laut tenang, angin bertiup sepoi, penyeberangan kami berhias senyuman.

Dari Bang Sanudin, kami tahu bahwa belum tentu seminggu sekali ada kapal dari Kelapan yang sandar di Dermaga Sadai.
Membayangkan hal itu, merinding kudukku.
Apa jadinya seandainya kami datang bukan hari ini???

Atau kalau pun hari ini, belum tentu jam nya bisa tepat.
Kalau datang terlalu pagi, pastinya Bang Sanudin belum sandar, dan itu sudah pasti kami tidak bertemu.
Pun kalau terlalu sore, pastinya beliau sudah berangkat.
Bicara probability maka peluang terjadinya seperti ini sangatlah kecil.

Saya menyadari dengan sesungguh hati, bahwa ada semacam invisible hand yang turut andil dalam mengatur perjalanan JELAJAH BANGKA kali ini!

♦    ♦    ♦    ♦    ♦    ♦    ♦    ♦

Lebih dari satu jam kami dilaut, melewati beberapa pulau.
Daerah ini, Selatan Bangka memang terkenal memiliki banyak pulau.
Rupanya perahu kami tidak langsung ke Pulau Kelapan, namun transit dulu di Tanjung Sangkar Pulau Lepar.
“Wah… rupanya bukan hanya Pesawat saja yang ada transitnya”.
Gurau ku ke kawan-kawan untuk memecah kesunyian.

Ternyata ada barang lain yang hendak diangkut dari sini.
Ku lihat ada banyak sekali bongkahan batu es yang mungkin akan digunakan nelayan untuk mengawetkan ikan selama berada dilaut.
Rupanya perahu ini semacam “perahu induk”.
Dari sini baru nantinya didistribusikan ke perahu-perahu lainnya.
Muatan perahu ini adalah sebagian besar berisi kebutuhan masyarakat di Pulau Kelapan.

20 menit disini, lumayan bisa selfi-selfi 😀

TANJUNG-NYIUR
Yang mana saya? yang jelas bukan yang megang tongsis

Sudah pukul 17:15, ketika perahu kami bertolak dari Tanjung Sangkar.
Perjalanan selanjutnya akan ditarik garis lurus langsung menuju Pulau Kelapan.

Kalau sebelumnya gelombang tenang dan anginnya teduh, itu karena posisinya terlindung oleh Pulau Lepar yang cukup besar.

Permasalahannya, sekarang dari Lepar menuju Kelapan bisa dibilang sudah tidak ada pelindung apapun.

Gelombang makin membesar, perahu mulai terasa goyang.
Ku lirik Bang Sanudin sang nakhoda, beliau santai saja. Aman, fikirku.

5 menit meninggalkan Tanjung Sangkar, gelombang makin tinggi, perahu makin goyang.
Makin ketengah, gelombang makin membesar, para penumpang mulai sibuk cari pegangan.
Ku lirik lagi Bang Sanudin, masih santai.

Perahu kami sarat muatan sehingga tidak bisa melaju kencang.
Angin makin kuat berhembus, dingin mulai terasa. Prediksiku ketinggian gelombang 1 meter ketika itu.

Berada ditengah antara Pulau Lepar dengan Pulau Kelapan, baru lah horor itu hadir.
Ombak semakin besar mempermainkan perahu kami.
Ketika berada diatas gelombang, rasanya kami adalah yang paling tinggi hingga bisa melihat kemanapun sejauh mata memandang.
Namun ketika puncak gelombang berlalu, maka perahu langsung terhempas ke lembah gelombang terdalam.
Saat berada didasar gelombang, hanya dinding air laut yang nampak menghadang.
DUA METER!, tercekat ditenggorokanku.
Dari kiri kanan, air sudah masuk. Pakaian yang kami kenakan sudah basah semua.
Nyawa rasanya masih tertingal diatas, ketika perahu kami dengan cepatnya terhempas kebawah.
Haluan kapal terendam, berada dibawah permukaan air. Naik lagi ke puncak gelombang sejauh mata memandang. Terhempas lagi masuk kebawah permukaan air. Begitu berulang-ulang.
Ucapan “Allahu Akbar –  Allahu Akbar” sudah beberapa kali terdengar.

Semua orang berpegangan pada apapun yang bisa dipegang.
Yang terdekat dengan tiang, bisa leluasa berpegangan pada tiang perahu.
Bagi yang duduk dipinggir, berpegang pada tali dengan muka pucat pasi.
Yang tidak kebagian pegangan hanya bisa pasrah memeluk tas yang mungkin harus diselamatkan.
Aku sudah tak berani menolehkan kepala ke arah Nakhoda.
Dari raungan suara mesin dan sesekali melepaskan gas, aku sudah tahu bahwa nakhodapun sedang berupaya keras menyelamatkan kapal.

Cesss…. tiba-tiba tubuhku bergetar, hatiku tersadar.
Dari tadi kami selalu diberi kemudahan demi kemudahan.
Dan sekarang, mungkin Tuhan ingin menunjukkan agar kami tetap tak lupa padaNYA.
“Astaghfirullahal’adzhiim…  kami berlindung Hanya padaMu Ya Allah!”

♠    ♠    ♠    ♠    ♠    ♠    ♠    ♠

Didermaga Kelapan, rupanya warga sudah berkumpul. Bukan untuk menyambut kami.
Merupakan kebiasaan bagi mereka menunggu keluarganya yang belum kembali dari laut dalam cuaca yang ektrim.
Ternyata dari ujung dermaga ini, sedari tadi mereka sudah memantau kami.

Muka kami masih pucat ketika perahu sandar.
Dengan menahan senyum seseorang menyapa kami,
“Tidak apa-apa Pak, gelombang seperti itu biasa, yang lebih dari itu saja sering kami temui.
Lagian aman kok, semua terpantau dari sini, kalau ada apa-apa, kami sudah siap menjemput”

Ah… dalam hatiku, kalau tahu begini ngapain tadi aku harus ketakutan!

Hehee, kawan… lumrah sekali bukan ?

♣    ♣    ♣    ♣    ♣    ♣    ♣    ♣

SELAMAT DATANG DI PULAU KELAPAN.

Langit mulai gelap, hampir pukul 6 waktu itu.
Dengan sisa-sisa tenaga dan kaki yang masih gemeteran, kami angkut barang-barang.
Beberapa penduduk menawarkan untuk segera beristirahat sekaligus menginap dirumah mereka.

Dengan alasan ingin menikmati alam Kelapan apa adanya, tawaran tadi terpaksa belum bisa kami penuhi.
Dari Ibu Bunga, guru sekaligus anggota BPD Kelapan, kami disarankan untuk mendirikan kemah disebuah padang yang cukup representatif.
Segera kami menuju lokasi yang dimaksud dengan diantarkan beberapa penduduk.

♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥

Dua tenda selesai didirikan ketika azan maghrib berkumandang.
Senang sekali bisa mendengar azan di Pulau kecil yang hanya berisi 34 bubung rumah ini.

Tubuh terasa sangat lelah setelah perjalan panjang dan terpaan gelombang.
Badan kerasa lengket oleh keringat dan air laut.
Bergantian, kami mandi disumber air tawar yang telah ditunjuk warga.

Berkemah dipinggir pantai, kurang lengkap kalau tidak bakar-bakar.
Tentunya yang dimaksud disini adalah bakar ikan ya 😀
Lumayan, ikan dan kepiting 1 fiber pemberian Bu **wati segera kami eksekusi.

IKAN-BAKAR

♣    ♣    ♣    ♣    ♣    ♣    ♣    ♣

Malam yang indah, spesial sekali terasa.
Beberapa pemuda datang dan bergabung serta.
Makan bersama dialam terbuka sangat luar biasa.
Cuaca cerah cenderung gerah ditambah sambal yang cetar membahana,
Buka baju adalah solusinya 😀

PEMUDA KELAPAN
Indah sekali bukan?

Urusan perut, sudah aman.
Beberapa pemuda masih berdatangan.
Naah… itu dia, ada yang membawa gitar ditangan.
Langsung saja, kita mainkan.

Mau tahu lagu apa yang dibawakan Pemuda Kelapan?
Ini, sengaja saya rekam untuk mu teman 😉


Sebelum tidur, aku sempatkan bertafakkur.
Memandang langit, saat bintang bertabur.
Hidup memang harus banyak bersyukur.
Karena bahagia, bukan harta saja yang diukur.

Malam ini…  kami akhiri dengan mendengkur.
ZzzZzZzzZZzz….Ggrrgrrrgrrrr……..

♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥    ♥

Azan subuh berkumandang mendayu.
Rupanya surau kecil itu cukup aktif, fikirku.
Dikejauhan terdengar kokok ayam menyambut hari baru.
Malas sekali bangun rasanya karena mata masih sayu.

Rencananya kami akan berburu sunrise pagi ini.
Sebelum berangkat, rupanya teman-teman sudah menyeduh kopi.
Lumayan untuk mengisi energi .
Karena harus mendaki bukit, walau tak terlalu tinggi.

Sampai dipuncak, nafas ngos-ngosan.
Sayangnya, mentari yang diharapkan tertutup awan.
Istirahat sebentar sambil menikmati pemandangan.
Nafas teratur, pasukan balik kanan.

Ada yang menyebutkan bahwa Pulau Kelapan adalah Pulau pengintaian, entah apa dasarnya.
Namun Pulau ini memang memiliki bukit, meski tak terlalu tinggi namun cukup untuk memantau sekitar. Ditambah lagi, Kelapan termasuk Pulau terluar dari gugusan Pulau-Pulau di Bangka.

Selain itu, terdapat tanah datar yang keras sepanjang ratusan meter dan tergolong rapi untuk ukuran padang liar.  Tanah seperti ini mengingatkan seperti  landasan pacu pesawat terbang tempo dulu.

Ada juga goa. Goa ini disebut goa naga, karena dulunya pernah terlihat semburan api yang menyebabkan pepohonan disekitarnya menjadi layu. Anda tak percaya?…. tenang dulu 😀
Bagiku ini bukanlah murni mitos, hanya saja mungkin karena keterbatasan “wawasan” sehingga menjadikan ceritanya seolah begitu.

Kawan… saya tidak tahu persis diujung selatan sana ada minyak bumi atau gas. Yang jelas ketika di pesawat dalam penerbangan Jakarta menuju Bangka, kilang ini kadang terlihat.
Menurutku, ada korelasi antara minyak bumi atau gas di ujung selatan dengan goa yang ada di Kelapan. Tapi entahlah, itu hanya terlintas difikiran saya saja.

Disamping Pulau Kelapan ada Pulau Seniur. Di Pulau ini terdapat bangkai kapal perang peninggalan Jepang. Masyarakat meyakini itu kapal perang dari beberapa meriam yang menempel dikapal. Sayangnya meriam-meriam itu telah diangkat dan tak satupun masyarakat tahu kemana meriam itu dibawa. Lebih disayangkannya lagi, bangkai kapal perang itu juga telah tiada. Beberapa tahun yang lalu, kapal itu dipotong-potong dan dibawa entah kemana.

♠    ♠    ♠    ♠    ♠    ♠    ♠    ♠

Di Pulau kelapan terdapat 34 bubung rumah. Dihuni oleh 43 KK dan diketuai oleh seorang Kadus.
Seperti masyarakat kepulauan lainnya, profesi sehari-hari mereka adalah nelayan. Namun saat musim barat turun, biasanya mereka mengurangi aktivitas melaut, karena ketika itu angin cukup kencang bertiup. Saat seperti ini lebih banyak digunakan untuk memperbaiki jaring dan perahu atau ada beberapa yang memilih untuk berkebun.

Kelapan sudah memiliki SD. Meski bersifat Filial (jarak jauh/cabang/menginduk) namun bangunannya cukup baik. SD ini dihuni oleh 15 orang murid dan 1 orang guru PNS, dibantu beberapa tenaga honorer.
Setelah menamatkan pendidikannya di SD ini, anak-anak Kelapan melanjutkan SMP nya di Pulau Lepar. Otomatis mereka harus indekost dan terpisah dari orang tua.

SD-KELAPAN

Untuk urusan energi listrik, pada tahun 2011 pernah didirikan PLTS bantuan dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Namun saat ini PLTS tersebut rusak dan sama sekali tidak dapat digunakan. Dan Kelapanpun kembali kegelapan.
Pernah ada usaha untuk perbaikan namun ternyata biayanya tidak sedikit, dan itu harus dibebankan kepada warga.
Karena untuk makan saja penghasilan mereka pas-pasan, maka terbengkalailah alat tersebut. Padahal mereka berharap sekali bisa menikmati terang dimalam hari.

PLTS-KELAPAN

Semua penduduk Kelapan sangatlah ramah, tentunya ini bukan sekedar basa basi.
Setiap bertemu kami, mereka selalu menyapa dan meminta untuk singgah dirumahnya.
Mereka sangat welcome terhadap tamu. Ini kami rasakan selama 3 hari berada disana.
Tua-muda, besar-kecil semuanya ramah.
Bahkan ketika kami akan berkeliling Pulau, mereka malah dengan riang gembira turut serta.
Dan ini adalah Keberuntungan terbesar bagi kami!

ANAK2-KELAPAN

pantai-kelapan

keliling-pulau-kelapan

PANTAI KELAPAN

Umumnya orang ke Kelapan hanya untuk snorkling.
Dan itu berarti hanya diperairannya saja.
Jarang sekali ada orang yang menjejakkkan kakinya diPulau ini.
Mungkin termasuk yang lagi baca, hehee….

PULAU KELAPAN BANGKA

Karena lautnya masih terjaga, airnya sangat jernih. Selain terumbu karang, kita juga dapat dengan mudah melihat makhluk laut lainnya. Dalam perjalanan ini beberapa kali kami melihat tripang, kepiting dan ini ada 1 yang agak aneh, mereka menyebutnya “handuk laut”. Oleh sebagian orang, handuk ini bisa dimakan.

HANDUK LAUT

Karena kepergian #JELAJAHBANGKA kali ini bertepatan dengan 17 Agustus, tak lupa kami mengibarkan Merah Putih di Perairan Pulau Kelapan. Biar lebih kerasa Nasionalisme nya, bahwa Kelapanpun bagian dari Indonesia.
MERAH PUTIH DI KELAPAN

O ya, sebelum lupa.
Aku kasih tahu dulu kenapa disebut Pulau Kelapan.
Dari Kepala Dusun yang kami temui, nama Kelapan berasal dari kata KE LAPAN atau KEDELAPAN dalam bahasa Indonesianya.
Maksudnya, Pulau ini adalah Pulau Kedelapan dihitung dari ujung Selatan Bangka.

Pulau-pulau itu adalah:
1. Pulau Tinggi
2. Pulau Panjang
3. Pulau Air
4. Pulau Burung
5. Pulau Ibul
6. Pulau Lepar
7. Pulau Seniur
8. Pulau Kelapan

Memang ada beberapa pulau lainnya, tapi karena kecil dan hampir tidak pernah disingahi, jadinya tidak masuk kedalam hitungan.

KADUS KELAPAN
Pak Abdul Hamid. Kadus Kelapan

 

Teman…
Banyak orang mengatakan Pulau Kelapan tidaklah indah.
Namun bagi kami, Selalu ada cara untuk melihat sesuatu menjadi lebih indah.
Kebersamaan yang hangat terjalin menjadi persaudaraan yang tulus.
Sesederhana itu. Itupun suatu keindahan bagi kami.

Ada perjumpaan, pasti ada perpisahan.
Saatnya tiba, kami harus pulang.
Walau terasa berat meninggalkan Kelapan.
Apa daya, ada tugas lain yang musti ditunaikan.

Sesampai dirumah, fikiranku masih disana.
Ingin ku kabarkan kalau kami sudah tiba.
Belum sempat diraih, tiba-tiba HP ku bersuara.
Rupanya ada sms yang diterima
Langsung saja ku buka dan kubaca.

Klik.

                Sender:  Sanudin KELAPAN
.               Date: Augt 18, 2016
.               Time 06:26 pm

               “Assalamu’alaikum Bang Alvin.
              Apa Abang dan teman2 sudah sampai rumah kah?”

================================
⇒Pulau Kelapan, 16-17-18 Agustus 2016
Teman seperjalanan:  Setiardi (Ardi/Bangdek), Dwi Hardiansyah, Adi Gusman & Doni Fachrum.
Terimakasih: Bung Wiwid (Ketua PPM Basel), Faisal Laoshi, Ibu *Wati, Ibu Bunga, Pak Hamid (Kadus Kelapan), Bang Sanudin, Bang Budi, Bang Abdal & Segenap Warga Kelapan lainnya.
+ Pemilik Mobil & Perahu tentu saja
😀

Comments

comments

About Alvin Azra 19 Articles
Hanya orang biasa, yang menggugat diri sendiri karena malu atas minimnya pengetahuan tentang Sejarah, Adat dan Budaya daerahnya. Rutin melakukan #JelajahBangka untuk belajar guna meng-upgrade pengetahuan terhadap hal-hal tadi. Hasilnya ditulis dan dipublish di www.JelajahBangka.com. Dapat dihubungi melalui alvinazra@jelajahbangka.com

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.