SIANGAU, Indahnya Pantai & Perjalanan Yang Tak Terlupakan.

Pantai Siangau

150 Km !
Hmm… membayangkan jarak sejauh itu, agak ngeri-ngeri sedap rasanya.

Sebagai gambaran,
Jarak 150 Km itu kurang lebih dari Jakarta hingga ke Bandung.

Setidaknya, begitulah hasil tanya saya pada Mbah Gugel.
Dan data tersebut telah diperkuat oleh Menteri Perhubungan, ketika beliau mengomentari tentang kereta cepat Jakarta-Bandung.

Pertanyaannya: Apa hubungannya Pak Menteri, Kereta Cepat dan Siangau ?
Ga’ ada !. hehee… Abaikan saja, tak perlu difikirkan. Karena memang tak ada hubungannya :mrgreen:

*mari kita lanjutkan

Pantai Siangau…
Terletak diujung utara pulau Bangka.
Tak kurang dari 150Km dari tempat kami berada, Pangkalpinang, Ibukota Propinsi Kep.Bangka-Belitung.
Artinya, dibutuhkan waktu sekitar 6 Jam untuk bisa PP ke sana.
Dan Dahsyatnya, perjalanan selama 6 Jam itu akan kami tempuh dengan jalan bermotor ria.

ENAM JAM DIATAS JOK MOTOR !!!
πŸ˜€  itu lah ngeri-ngeri sedap yang tadi saya katakan.

Tapi masalahnya, saya sendiri tidak punya motor.  πŸ™„
hehee… Untungnya saya punya sahabat baik yang bersedia membonceng sekaligus menjemput.
Alhamdulillah, terimakasih buat sahabat  Dwi Hardiansyah   πŸ˜†

Watu itu adalah sehari sebelum keberangkatan.

Bahasan selanjutnya, sebagaimana hukum melakukan perjalanan jauh,
dimana kita masih awam dengan tujuan, maka haruslah ditunjuk seorang pemimpin perjalanan.
Seorang yg mempunyai wawasan dan pengetahuan lebih, terhadap medan yg akan kita tuju.

Dan untuk perjalanan kali ini, tidak sulit bagi kami menentukan siapa yang akan memimpin, karna ada seorang sahabat dari Parit 25, kampung yang cukup dekat dengan Siangau, Sahabat Joo Andy Bankeky yang akrab kami sapa, Bang Joo.

Oke, setelah semua persiapan beres.
Tinggal istirahat mengumpulkan tenaga, supaya besok bisa berangkat dalam kondisi prima.

——————————

06:48, Angka yg ditunjukkan jam tanganku ketika sahabat Dwi datang menjemput.
Setelah pamit kepada Emak dirumah, perjalanan Jelajah Bangka pun dimulai.

Jalanan masih lengang pagi itu.
Minggu, saat perkantoran tutup dan sekolah libur.
Kendaraan kami melaju dengan tenang.

Keluar dari Pangkalpinang, kami menyusuri pinggiran kota.
Selanjutnya perjalanan mulai memasuki daerah perkampungan.
Dibeberapa tempat, terlihat tenda-tenda pernikahan.

Mungkin  saat itu adalah bulan yang dianggap baik untuk menikah,
karena hampir ditiap kampung yang kami lalui, ada saja orang yang sedang menyelenggarakan pesta tersebut.
Dan seperti umumnya pesta pernikahan di Bangka, tenda-tenda digelar hingga menutupi sebagian jalan.
Agak menggangu memang, namun karena alasan kurangnya halaman,  maka hal-hal semacam itu menjadi lumrah dan ujung-ujungnya menjadi mahfum bersama.

Akibatnya laju kendaraanpun otomatis dikurangi dengan tingkat waspada yang dilebihkan lagi.

Tiap melewati ujung kampung, yang biasanya dibatasi pemandian umum atau hutan, jalanan kembali sepi, Gas pun boleh ditarik kembali.

. . .

Waktu adalah waktu.
Kita hidup dalam dimensi ruang dan waktu.
Namun betapa seringnya kita lupa akan waktu.
Hingga tidak merasakan, betapa cepat berlalunya waktu.

Begitupun dengan perjalanan ini,
Sudah cukup jauh meninggalkan Pangkalpinang, tanpa disadari .

Sekian jam berada diatas roda dua,
Rasa pegal-pun mulai mendera.

Mengetahui kondisi itu,
Pimpinan pasukan menginstruksikan untuk singgah di Rumah Makan daerah Maras Senang.
Bukan untuk makan sodara-sodara, hanya ingin melepas penat dan numpang ke toliet saja ternyata. Hadeh! πŸ˜€

RUMAH MAKAN
istirahat sejenak di RM.Buluh Perindu Maras Senang

Otot mulai rileks, badan berangsur bugar, perjalanan kembali dilanjutkan.

Rupanya memang tidak asyik kalau konvoi itu lancar-lancar saja.
Kami sempat mengalami kendala.
Ban motor sahabat kami, Adi Gusman bocor!
Jadi deh bocor bocor bocor beneran.

Apa boleh buat,
Hidup memang tak selamanya sesuai harapan.

Namun disinilah terujinya nilai-nilai kebersamaan dan kesetiaan.
Semua kawan-kawan menepi untuk menunggu dan menemani.
Alhamdulillah, sampai disini semua terlihat kompak dan happy.  😎

TAMBAL BAN
berbagi rejeki dengan tukang tambal ban

Ban selesai ditambal, perjalanan kembali dilanjutkan.

Untuk memperpendek jarak tempuh,
Pemimpin perjalanan yang berada didepan memutuskan untuk belok kanan disimpang bulin atau ada yang menyebutnya simpang Rukem.
Kami yang dibelakang tinggal mengikuti saja.
Konsekwensi dari jalan ini adalah kami akan melewati lebih banyak jalur hutan, jauh dari perkampungan warga. Namun tak apalah, toh kami bukan mencari keramaian.

Dan benar saja, setelah melewati kampung terakhir, dikanan-kiri kami hanya ada hutan dan hutan.
Sejauh mata memandang, hanya hutan yang terlihat.

Suasana seketika hening, jelas terdengar suara binatang hutan. kriiiek… kriiiiekk kriiieekkk.
Aroma alam menyeruak. Khas bau pohon, tanah dan lembab.
Embun yg masih tersisa di ujung daun-daun muda, berkilau ditimpa cahaya mentari pagi yang sukses menerobos lebatnya pepohonan.
Sesekali terlihat pohon karet yang bergetah, berwarna putih dan masih menetes kedalam wadah berupa potongan tempurung kelapa.
Harumnya pandan hutan tercium kental sekali.
Spontan… aku pun menarik nafas dalam-dalam.
Aaaahhhhh…… lega nya,  kuulang lagi.
Phhuuuu….. segaaar.

Dapat kurasakan paru-paru dalam dada ku merespon hal tersebut.
Adem… dan ringan kurasa.
Mungkin sesaknya udara berpolusi yang selama ini bersarang didada telah berganti dengan oksigen yang jauh lebih berkualitas.

Tak ku sia-siakan kesempatan ini,
Ppffhuuuu…. udara terakhir yang ku hirup, perlahan ku hembuskan dalam suasana suka cita.
Dengan mata terpejam, senyum yang merekah, damai kurasa.

Inilah mungkin salah satu alasan mengapa aku menyukai berpetualang di alam.

Aku meyakini bahwa manusia harus selaras dan serasi dengan alam.
Tidak dapat dipisahkan, semakin menjauh dari alam, maka akan semakin cepat capek fisik dan psikis kita.
Tak heran manusia kini lebih gampang emosi dan mudah panik, karena kurang rekreasi dan jarang piknik! πŸ˜€

———-

Keluar dari hutan, Benar saja ternyata,
kami langsung memasuki kota kecamatan Parit 3.
Artinya kami tidak perlu melewati Jebus, jalur yang umum digunakan untuk menuju Siangau.

Dari pasar Parit 3 kami berbelok ke kanan menuju Parit 25, kampung tempat dilahirkannya Sang Pemimpin perjalanan ini.

Lelah sudah tak terkatakan,
Pantat rasanya panas bukan buatan,
Peluh menghambur diseluruh badan,
Perut lapar menahan keroncongan.

Pendek kata, kamipun tiba,
Di Kampung parit dua lima,
Kediaman Bang Joo dan orang tua,
Akhirnya… Pucuk dicinta, ulam-pun tiba !

Rupanya Bang Joo sudah mengatur sedemikian rupa,
kami disambut dengan beragam penganan yang terbuat dari ketela,
Penduduk setempat menyebutnya dengan Setila.
Ditambah kopi manis buatan Ibunda.

Maknyusss…. hidangan pembuka yang luarrr biasa!

Tak lama berselang, makan siangpun disajikan.
Wahh…wah…waaah…
begitu melihat Sambel Belacin, Gureng ikan Ciw, Lempah ikan uset dan Lempah kuning daging sapi pakai pucuk kedondong, kami yang kesemuanya adalah orang Bangka asli, rasanya sangat sulit menolak tawaran tuan rumah kali ini.
Semua makan dengan lahap dan tak cukup kalau belum nambah.
Kecuali si imut-imut adiknya Firmand Syah, karena malu sama Ardi, teman kami yang suka menggodanya 😳

MAKAN
Menikmati hidangan dari tuan rumah di Parit 25.   (difoto oleh Dwi Hardiansyah)

Perut kenyang, fikiranpun tenang.
Zuhur telah ditunaikan, perjalanan dilanjutkan.

Dan…
Dekat saja ternyata,
Hanya beberapa menit kamipun tiba.

Allahu Akbar,
Maha Besar Allah dengan segala Ciptaan-NYA.
Tertegun tubuhku, terpatri kaki ku, tak berkedip mataku.

Gugusan batu-batu granit sebesar rumah berhamburan.
Berdiri, rebah, miring dan tak jarang hampir tumbang.
Terserak, hingga tumpang tindih semaunya.
Sangat tidak rapi, lagi teramat berantakan.
Namun siapa yang berani memungkiri, kalau ini adalah seni arsitektur tingkat tinggi !

Airnya…
Bening seperti kaca
Dengan ombak yang mengalun mesra
Riaknya bersama bebatuan seperti sedang bercerita
Suara deburnya ibarat nyanyian dari syurga

Dikejauhan…
Samar terdengar nyanyian sang camar
Mengabarkan hati yang sedang damai
melengkapi indahnya suasana di Siangau.

Birunya langit sangat mesra kala disandingkan dengan putihnya awan.
Membentang luas laksana kanvas raksasa yang dilukis tangan halus Bidadari.

Melihat kebawah, alangkah luasnya hamparan pasir putih. Bersih.
Rasanya sayang tuk menjejakkan kaki, khawatir menodai.

Disini…
Masih dalam keadaan tertegun
Belum berhenti perasaan terkagum
Rasa syukur mengalir seiring nafas
Gemetar, menjadi saksi Kebesaran Ilahi.

SIANGAU…
Sungguh indah dan memukau !

———————————
*Kenangan Siangau, 08 Nov 2015
Terimakasih sahabat, Kalian Ruarrr Biasa !

 

SIANGAW

SIANGAU

PANTAI SIANGAU

BATU SIANGAU

SIANGAU BANGKA

PANTAI PASIR PUTIH

BATU PANTAI

BATU PANTAAI SIANGAU

AIR LAUT JERNIH

Comments

comments

About Alvin Azra 19 Articles
Hanya orang biasa, yang menggugat diri sendiri karena malu atas minimnya pengetahuan tentang Sejarah, Adat dan Budaya daerahnya. Rutin melakukan #JelajahBangka untuk belajar guna meng-upgrade pengetahuan terhadap hal-hal tadi. Hasilnya ditulis dan dipublish di www.JelajahBangka.com. Dapat dihubungi melalui alvinazra@jelajahbangka.com

2 Comments

  1. keren banget mas. sangat menginspirasi dan sangat menikmati tulisan2 nya.
    foto2nya jg bagus2.
    ditunggu jelajah bangka selanjutnya dan selanjutnya lagi.
    bravo!

    • Terimakasih Mas Rizal sudah mampir.
      Ini sekedar aja, semacam gudang pribadi, tuk membuang foto2 dan cerita2 perjalanan iseng ku πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published.