Tragedi Tenggelamnya Kapal Uap Vyner Brooke di Bangka Barat

Pernah melihat bangkai kapal yang terdampar dekat menara suar Tanjung Kelian, Muntok?
Ya, itu lah SS Vyner Brooke. Kapal Uap Kerajaan Inggris yang menjadi bagian dari saksi sejarah Perang Dunia II.
SS berati Kapal Uap (Steam Ship), sedangkan Vyner Brooke diambil dari nama Raja yang menguasai Serawak Malaysia yang waktu itu dibawah jajahan Inggris.
Pada awalnya SS Vyner Brooke adalah sebuah kapal kargo dengan jalur pelayaran antara Singapura ke Kuching, kemudian kapal ini diambil alih oleh Angkatan Laut Inggris sebagai alat angkut bagi tentara.

Tragedi bermula ketika pertempuran di Semenanjung  Malaya mencapai puncaknya diawal tahun 1942. Pertempuran meluas hingga pulau Singapura. Korban berjatuhan, baik yang meninggal maupun terluka. Dalam keadaan terdesak dan tempat yang tidak kondusif tersebut, kapal SS Vyner Brooke “diperintahkan” untuk mengevakuasi para pengungsi yang terdiri atas warga sipil, sebagian tentara yang terluka dan perawat dari Australia. Minggu kedua dibulan Februari 1942, kapal bertolak dari Singapura ke Batavia dengan jalur pelayaran melewati Selat Bangka.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Meskipun sudah menghindar sebisanya, ternyata kapal ini masih juga terdeteksi oleh pihak musuh.  SS Vyner Brooke kemudian dibombardir tentara Jepang menggunakan pesawat tempur. 14 Februari 1942 Kapal Uap tersebut mengakhiri masa baktinya, perlahan namun pasti kapal tenggelam dalam pelukan dasar laut dekat Pulau Bangka.

Tragedi rupanya tidak selesai sampai disini. Beberapa penumpang yang terluka dan selamat masih berjuang mempertahankan hidup dengan menaiki sekoci dan berusaha mendekati pantai terdekat. Berjam-jam terombang ambing dilaut, terpapar langsung sinar matahari membuat mereka makin cepat lelah, haus, lapar dalam kondisi kejiwaan yang tidak menentu. Beberapa orang yang tiba didaratan terlebih dahulu, langsung membuatkan Api sebagai penanda sekaligus penyemangat bagi kawan-kawan mereka yang masih berjuang ditengah laut.

Dalam keadaan payah, terluka dan sakit-sakitan, mereka menyadari kecil kemungkinan untuk bertahan hidup dipinggir pantai tersebut, beberapa orang berinisiatif untuk menyerahkan diri kepada tentara Jepang dengan harapan untuk menjadi tawanan dan diperlakukan dengan baik. Sesuai dengan “hukum peperangan” bahwa warga sipil, orang sakit, tim medis dan jurnalis tidak boleh diperangi. Namun apa daya, harapan tinggal harapan, bukan perlakuan baik yang mereka dapatkan, malahan pembantaian secara tragis yang diberikan Jepang. 22 orang dari 65 perawat yang tersisa tidak luput dari pembantaian ini. Mereka disuruh berbaris dan berbalik badan menghadap kelaut, kemudian diperintahkan berjalan menyongsong ombak yang datang. Setelah beberapa meter dari bibir pantai, mereka diberondong tembakan tentara Jepang. Korban kembali berjatuhan, laut yang biru memerah diwarnai darah.

Tragedi ini sangat membekas bagi seorang perawat yang lolos dari pembantaian tersebut. Beliau terkena tembakan namun tidak membuatnya mati. Suster Vivian Bullwinkel tetap hidup, menjadi saksi sejarah dan menceritakan kembali peristiwa tersebut pada Pengadilan Kejahatan Perang.

16 Februari 2020, hari ini tepat 78 tahun yang lalu, tragedi itu terjadi.

Saat ini, dilokasi peristiwa tersebut telah didirikan monumen untuk mengenang korban, para penumpang kapal SS Vyner Brooke di dekat menara suar, pantai Tanjung Kelian, Muntok – Bangka Barat.

Monumen Peringatan Tragedi Pembantaian Penumpang Kapal SS Vyner Brooke di Tanjung Kalian, Mentok – Bangka Barat.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.