3 Mei 1851, Surat Residen Bangka, Nomor 2465: Permintaan Dana Untuk Anggaran Kesehatan.

IMG_20260503_143549

Dato’ Akhmad Elvian*)


Kondisi penduduk pulau Bangka setelah berkecamuknya perang Bangka yang dipimpin Depati Amir, sangat mengkhawatirkan. Di samping kekurangan bahan pangan, garam dan obat-obatan, berbagai macam penyakit seperti demam, disentri dan cacar air serta kolera melanda penduduk pulau Bangka.

Untuk mengatasi berbagai macam penyakit tersebut, berdasarkan Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1851, Bundel Bangka No. 42, dilakukan pengobatan dan vaksinasi dengan baik oleh seorang petugas vaksin pribumi yang sejauh ini ditempatkan di ibukota (Mentok).

Dalam surat saya (residen Bangka) Tanggal 3 Mei 1851, Nomor 2465, kepada pemerintah pusat diminta sejumlah besar dana karena jumlah yang tersedia f 280 (gulden) terlalu sedikit, sehingga perlu ditambah setiap tahun, agar anggaran kesehatan untuk penduduk cukup memadai. Selanjutnya dalam surat saya (residen Bangka) Tanggal 10 Januari 1852 Nomor 131, dokter sipil diminta untuk menyebarkan cara kerja ini (vaksinasi) ke daerah sekitarnya. Dengan kedatangan saya kemarin (inspeksi), bahan vaksin cacar itu sudah usang. Saya telah meminta bahan baru dari Palembang dan juga menyampaikan kepada perwira kesehatan di Toboali agar segera menarik vaksin usang tersebut.

Toboali pada masa setelah perang yang dipimpin oleh Depati Amir juga dijadikan sebagai tempat untuk penahanan orang rantai (kettingganger) dan orang buangan, sedikitnya sebanyak 22 orang dari 146 orang narapidana pemerintah yang dirantai ditempatkan di Toboali dan para narapidana dipekerjakan untuk mengerjakan proyek militer yang ada di distrik Toboali (Kemungkinan besar proyek militer yang dikerjakan adalah Benteng Toboali).

Setelah Toboali dan pulau Lepar ditaklukkan kembali oleh Belanda pada bulan Maret 1820 Masehi, Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun Benteng yang lebih permanen dan dijelaskan oleh Lange, bahwa Benteng terletak di bukit yang tingginya sekitar 40 kaki, di tepi laut yang agak menjorok, dan berbentuk teluk kecil. Lokasi yang tepat dan sebagai alasan yang sangat baik untuk mendirikan sebuah benteng, diberikan dengan nama Toboali Baru, tetapi penduduk asli dan orang Cina tidak pernah menyebutnya dan mereka menyebutnya Sabang.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. 44, Masjid Baitul Isti'mar, Kampung Buyan.

Bukit yang dimaksud, terletak di 3° Lintang Selatan dan 106°28’30” Bujur Timur dari Greenwich, di kakinya bukit memiliki keuntungan dengan adanya sumur untuk air minum yang baik walaupun berada di pinggir laut (maksudnya berair tawar). Tebing dari bukit digunakan untuk membangun bagian benteng, yang pertama adalah benteng tembok pembatas yang ada di lereng tanah, tetapi sebagian besar terdiri dari pagar, dan bangunan terbuat dari kayu.

Namun, untuk menjaga kekuatan bangunan yang ada harus diperbarui, terutama untuk menahan angin dengan pengaturan tinggi dan rendah bangunan. Karena banyaknya semut putih (witte mieren) dan untuk menjaga kekuatan bagian yang menghadap sisi laut, ditingkatkan seluruh bagian dengan tanah liat (leem), baik tembok pembatas dan bangunan, dan untuk menutupi yang terakhir dengan pannen. Kekuatan ini diterima, untuk jalannya bukit dibuat agak sedikit tidak teratur, namun dengan pertahanan sayap bersenjata menggunakan lima atau enam buah meriam. Gudang pemerintah berdiri di luar benteng, di kaki bukit, dan terlindung dengan baik. Administrator berada di luar tembok pembatas.

Tempat ini juga merupakan rumah sakit militer, dengan petugas medis; selain merawat yang sakit dan tempat garnisun, benteng ini digunakan juga untuk merawat penduduk dari Koba (Lange, 1850:93,94). Benteng baru Toboali dikatakan, sebagai proyek yang disetujui berdasarkan keputusan pemerintah dan Plan van het Fort Toboaly disusun Tahun 1825 Masehi serta pelaksanaan pembangunannya dimulai pada Tahun 1846 Masehi.

Distrik Toboali, merupakan Satu distrik yang cukup terkenal, termasuk dalam catatan media Hindia Belanda dan merupakan suatu wilayah di pulau Bangka yang menghasilkan banyak Timah. Seperti disebutkan dalam suatu berita Soerabaijasch Handlesblad edisi Tanggal 3 Juni 1884, bahwa melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 27 Mei 1881 Nomor 1, telah diangkat seorang administratur oleh Dinas Urusan Luar Pulau (Uit’s Land Dienst) administratur-administratur tambang Timah yang membawahi wilayah Toboali, Djeboes dan Merawang. Mereka adalah J.F.W. Michel, J. D. Toorop dan R. de Adelhart Toorop (Madjid, 2016:15).

See also  Sukarno Mengunjungi Koba dan Toboali, "Indonesia Raya, Pekik Merdeka dan Pentingnya Pendidikan".

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

** Keterangan Gambar: Pasien di Rumah Sakit Pangkalpinang, Circa 1900, Sumber Rijksmuseum

Comments

comments