1 Mei 1900, Berdasarkan Koloniaal Verslag Tahun 1900-1901, Didatangkan 846 orang Pekerja Tambang Baru dari Cina.
Admin 1 May 2026
Dato’ Akhmad Elvian*)
Berdasarkan Kolonial Verslag atau Laporan Kolonial, Tahun 1900-1901, halaman 129, dinyatakan, bahwa setelah pelaksanaan mekanisasi di bidang energi untuk pengelolaan pertimahan dengan menggunakan mesin uap, termasuk untuk mengangkut bijih timah dari penambangan sampai ke tanurnya, jumlah pekerja baru dari Cina yang didatangkan untuk bekerja di tambang tambang Timah di Pulau Bangka, mulai tahun kerja Tanggal 1 Mei 1900 sampai dengan 30 April 1901 hanya berjumlah 846 orang.
Jumlah ini hanya lebih sedikit bila dibandingkan dengan rekrutmen pada periode sebelumnya yang hanya mendatangkan 704 orang pekerja. Dari 856 pekerja tambang yang didatangkan dari daratan Cina, umumnya berasal dari daerah Liucu sebanyak 106 orang, dari Hainan 150 orang, dan dari daerah Kocu sebanyak 590 orang. Mereka didatangkan ke Pulau Bangka dibawa dengan menggunakan Wangkang langsung dari Cina.
Dalam laporan secara keseluruhan yang diterima dari pemerintahan di Bangka, secara keseluruhan dari eksploitasi Timah kualitas satu selama Tahun 1900-1901 diperoleh hasil sebanyak 175.214 pikul.
Dengan produksi yang cukup tinggi, jumlah hutang yang dimiliki oleh eksploitasi kualitas satu berkurang hingga 43.631 pikul pada Tahun 1900-1901. Produksi dari eksploitasi timah kualitas satu yang dihasilkan selama tahun eksploitasi 1900-1901, rata-rata dilaksanakan oleh sekitar 12.262 orang pekerja dengan sekitar 1.095 orang pekerja pembakar arang. Hal ini menunjukkan telah terjadi kenaikan produktivitas kerja yang luar biasa pada pabrik-pabrik peleburan timah.
Ditinjau dari segi kesehatan, pembebasan dari penyakit Beri-beri belum menunjukkan hasil yang positif. Penyakit Beri-beri telah memakan korban sebanyak, 104 orang meninggal dunia sementara 201 orang harus diangkut ke Buitenzorg, Singapura atau ke Cina. Korban dari penyakit lain berjumlah 203 orang meninggal dunia, sehingga tingkat kematian penduduk mencapai 2,12% dari jumlah keseluruhan penduduk.
Tindakan yang sudah lama diambil untuk mengatasi permasalahan kesehatan ini (Penyakit Beri-beri), sejak Tahun 1895 dengan jumlah pasien yang dirawat telah cukup berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang.

Berdasarkan Koloniaal Verslag 1902, hlm. 72. Kondisi kesehatan penduduk Bangka pada Tahun 1902 tidak sebaik dari tahun sebelumnya. Pada Tahun 1902, Pulau Bangka mengalami musim kemarau yang panjang. Hal ini mengakibatkan banyak penduduk yang mengalami kekurangan air bersih, baik untuk keperluan minum, mandi, maupun keperluan lainnya. Akibat dari penggunaan air yang tidak steril yang sangat membahayakan kehidupan manusia, muncul epidemi Cacar di Distrik Sungeiliat, Koba dan Muntok. Di distrik Muntok, penyakit ini kadang-kadang berdampak kematian.
Sakit perut yang parah, terjadi pada hari-hari terakhir bulan Desember 1901, di distrik Jebus dan Belinyu serta di beberapa tempat di daerah pedalaman distrik Muntok, selama bulan Januari 1902 meminta banyak korban, terutama di distrik Blinyu.
Penyakit Beri-beri yang sampai bulan September 1902 masih sering muncul di antara para pekerja tambang Cina. Pada bulan ini Beri-beri meningkat tajam jumlah penderitanya, khususnya bagi pekerja tambang di distrik Pangkal Pinang, Koba dan Toboali.
Menjelang akhir Tahun 1902, jumlah penderita penyakit ini merosot tajam sebagai dampak dari diterjunkannya tim kesehatan dari dinas kesehatan militer
Sejalan dengan masuknya modal swasta yang mulai menanamkan modalnya di wilayah Hindia Belanda termasuk ke Pulau Bangka, seperti di sektor perkebunan, transportasi dan sektor industri lainnya.
Eksploitasi Trem uap sudah dimulai dan digunakan di Blinyu. Hasilnya sangat memuaskan. Saldo untung yang diperoleh selama periode Tahun 1900 berjumlah f23.731 gulden (penerimaan f 38.274, pengeluaran f 14.543) dibandingkan f 21.612 pada Tahun 1899.
Penerapan listrik bertenaga uap pada eksploitasi tambang juga berkembang pesat. Selama lebih dari satu tahun (pada priode Tahun 1900-1901) telah terpasang 59 instalasi uap, yang digunakan di 35 pertambangan kualitas kelas satu, dengan rata-rata pekerja berjumlah 5.943 Orang dan menghasilkan 98.828 pikul timah, setara dengan produksi per kepala rata-rata 16,63 pikul.
Sementara itu di beberapa eksploitasi pertambangan kualitas satu yang berjumlah 136 tambang, rata-rata dihasilkan produksi per kepala rata-rata 14,28 pikul.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
*keterangan gambar: Stoomtrein op een tinonderneming te Belinyu, anonymous, c. 1900 – c. 1920, Sumber Rijksmuseum
