24 April 1811, Berakhirnya Pengaruh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels di Pulau Bangka.
Admin 24 April 2026
Dato’ Akhmad Elvian*)
Perubahan-perubahan besar yang terjadi di Eropa akibat Perang Napoleon dan Revolusi Francis antara Tahun 1789-1799 Masehi, sangat berpengaruh besar terhadap kondisi koloni-koloni negara Eropa di dunia termasuk di Nusantara.
Pada Tahun 1795 Masehi, kerajaan Belanda diduduki Napoleon Bonaparte dari Francis dan raja kerajaan Belanda, Willem V lari ke kerajaan Inggris. Kerajaan Belanda menjadi daerah vasal, berada di bawah kekuasaan Lois Napoleon dari Francis.
Perubahan besar berikutnya yang terjadi di Eropa dan berpengaruh bagi daerah Nusantara termasuk di Pulau Bangka, adalah dengan dibubarkannya VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) pada tanggal 31 Desember 1799.
Nusantara sebagai koloni Kerajaan Belanda (daerah Hindia Belanda) jatuh ke tangan kekuasaan Napoleon Bonaparte dari Francis dan dikenal dengan masa Republik Bataaf. Kekuasaan atas Hindia Belanda diserahkan Napoleon kepada Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tanggal 1 Januari 1808.
Kekuasaan Francis atas Hindia Belanda atau Masa Republik Bataaf di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels berlangsung sampai dengan tanggal 24 April 1811 dan kemudian dilanjutkan oleh Jan Willem Janssens hingga Kapitulasi Tuntang tanggal 18 September 1811.
Kebutuhan akan timah meningkat drastis pada saat pemerintahan Belanda-Prancis atau masa Republik Bataaf antara Tahun 1808-1811. Hal ini terjadi karena Gubernur Jenderal Daendels (Tahun 1808-1811) dan kemudian dilanjutkan oleh Janssens ( Tahun1811) yang telah menerima perintah langsung dari Napoléon Bonaparte.

Setelah pelantikannya, Daendels memerintahkan untuk segera mengecek persenjataan yang dimiliki oleh pemerintah. Ia memperoleh laporan bahwa jumlah tentara Eropa yang berada di Hindia Timur hanya berjumlah 1.132 orang saja. Sementara senjata api yang ada hampir seluruhnya rusak, karena berkarat (Dalam GH. Von Faber, Oud Soerabaia. Uitgegeven door de gemeente Soerabaia ter gelegenheid van haar zilveren jubileum op 1 April 1931, hlm.29-31).
Melihat kondisi persenjataan yang dimiliki pemerintah, Daendels memerintahkan untuk mengecek bahan dasar amunisi yang dimiliki negara. Mesiu dan Salpeter masih tersedia di gudang.
Untuk kepentingan jangka pendek, Gubernur Jenderal Daendels bersekongkol dengan para pelaut Amerika yang singgah di pelabuhan Batavia untuk menyelundupkan senjata. Namun, senjata yang berkarat itu segera harus direparasi. Untuk itu, ia memerintahkan untuk membangun industri konstruksi di Surabaya untuk mereparasi persenjataan yang dimiliki pemerintah kolonial (Van Deventer,” Daendels-Raffles” dalam Indische Gids. Jilid 1, 1891, hlm. hlm. 793-194.
Dari segi jumlah, persenjataan pemerintah bertambah. Namun, permasalahan lainnya muncul, yakni keterbatasan jumlah pelurunya sangat terbatas. Mayoritas peluru yang ada usianya sudah lebih dari 15 tahun. Oleh karena itu, menurut perkiraan Daendels diperlukan peluru sebanyak 1 juta peluru.
Sambil menunggu jawaban surat dari Kaisar Napoléon Bonaparte tentang permohonan bantuan pengiriman senjata dan peluru, ia memerintahkan untuk membangun pabrik senjata di Kota Semarang (Dalam J. Hageman, Geschiedenis van het Hollandsch Gouvernement op Jawa 1802-1810, 1856,Tijdschrift van bataviaasch Genootschap vor Indische Taal, Land enVolkenkunde Jilid V , hlm, 189 -192).
Untuk mendukung keperluan tersebut, diperlukan timah yang cukup banyak. Oleh karena itu, pemerintah memerlukan cadangan timah dan besi yang cukup banyak. Mengingat bahwa industri amunisi ini merupakan industri strategis, maka pemerintah mengontrol dengan ketat semua bahan dasar pembuatan peluru, termasuk timah. Kebutuhan timah yang disetor dari Bangka, dinaikkan kuotanya.

Pengaruh pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels terhadap Pulau Bangka walaupun berlangsung singkat adalah tersendatnya produksi Timah, karena Daendels membuat kebijakan akan menurunkan harga pembelian Timah dari sultan Palembang (Masa Sultan Mahmud Badaruddin II Tahun 1803-1821), untuk menutupi hutang pembelian Timah yang belum dibayarkan kepada sultan Palembang pada masa VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie).
Kebijakan Daendels menyebabkan sultan Palembang Mahmud Badaruddin II mengancam tidak akan menjual Timah kepada pemerintahan Daendels karena tidak tersedianya biaya untuk operasional pertambangan.
Tindakan Sultan Palembang Mahmud Badaruddin II tersebut ditanggapi oleh Herman Willem Daendels dengan keras yaitu akan menyerbu dan menghancurkan Kesultanan Palembang Darussalam. Akan tetapi tindakan tersebut tidak pernah terbukti hingga Herman Willem Daendels digantikan oleh Jan Willem Janssens.
Pemerintahan Herman Willem Daendels di Hindia Belanda sebenarnya cukup berhasil, beliau digantikan oleh Jan Willem Janssens karena Napoleon membutuhkan seorang jenderal yang handal dalam rangka penyerbuan ke Rusia pada Tahun 1812 Masehi dan pilihannya jatuh kepada Herman Willem Daendels.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
**) Keterangan gambar: ilustrasi Herman Willem Daendels, hasil olah AI.
