28 April 1847, Javasche Courant, lembar ke-2, Memberitakan Wilayah Oelin Diincar Bajak Laut.

IMG-20260428-WA0008

Dato’ Akhmad Elvian*)


Pada masa Hindia Belanda, dalam Javasche Courant, 28 April 1847, lembar ke-2, dinyatakan bahwa wilayah Oelin atau Olim merupakan wilayah yang diincar oleh bajak laut.

Pada tanggal 14 Maret, Empat warga Olim yang sedang dalam perjalanan ke ibukota Toboali, diserang oleh satu sampan yang mengangkut beberapa orang awak. Akan tetapi mereka berhasil lolos dengan meninggalkan perahu dan muatannya.

Sungai Oelin dan Batin Oelin atau sering ditulis Olim dikenal dalam sejarah sebagai salah satu wilayah tempat dimulainya eksplorasi besar-besaran terhadap biji Timah, terutama setelah Timah ditemukan dalam deposit yang besar di sungai Oelin, sungai Bangkakota, dan Sungai lainnya di pesisir Barat Pulau Bangka pada Tahun 1709 Masehi. Jadi wajar bila wilayah Oelin diincar oleh Bajak Laut atau Zeerover.

Dalam catatan F.S.A. De Clercq, “Bijdrage Tot De Geschiedenis van Het Eiland Bangka (Naar een Maleisch Handschrift)”, dalam Bijdragen Tot De Taal, Land, En Volkenkunde in Netherlands Indie (BKI), 1895. Halaman 133 dijelaskan: “Terwijl Ratoe Mahmoed zich Bangka-Kota bevond, waren de vaartuigen, die Wan Akoeb met zijn broeders Wan Sirin en Wan Sabar overvoerden, afgedreven en de rivier Oelim binnengeloopen. Daar zagen zij veel sijamang’s , waarom zij vermoeden, dat er tin zou wezen, om reden zij de bewerking van dit metaal door de Maleiers en Chineezen te Djohor gezien hadden. Zij gingen aan het graven aan de oevers dier rivier, vonden er veel tin en namen een stuk als monster mede. Toen Ratoe Mahmoed dit bericht vernam, was hij zeer verheugd en droeg aan de hoofden op om het geheele eiland Bangka te doorkruisen eu een onderzoek te doen naar de aanwezigheid van tinerts, dat zij op vele plaatsen aantroffen”.

See also  15 April 1813, Dimulainya Pelaksanaan Perjanjian Eksplorasi Timah Inggris dengan Kepala Parit di Pulau Bangka.

Maksudnya: “Saat Ratoe Mahmud berada di Bangka-Kota, kapal-kapal yang membawa Wan Akoeb bersama saudara-saudaranya, Wan Sirin dan Wan Sabar, telah hanyut dan memasuki Sungai Ulim (Oelin). Di sana mereka melihat banyak sijamang, yang membuat mereka curiga bahwa ada timah di sana, karena mereka telah melihat pengolahan logam ini oleh orang Melayu dan Tionghoa di Johor. Mereka mulai menggali di tepi sungai, menemukan banyak timah, dan mengambil sepotong sebagai sampel. Ketika Ratoe Mahmud mendengar berita ini, ia sangat senang dan memerintahkan para kepala rakyat untuk menjelajahi seluruh pulau Bangka dan menyelidiki keberadaan bijih timah, yang mereka temukan di banyak tempat”.

Pada masa kekuasaan Inggris di Pulau Bangka (Tahun 1811-1816 Masehi) terdapat beberapa pemukiman penduduk di pesisir Barat bagian Selatan pulau Bangka. Tujuh mil dari Neerie (Sungai Nyireh) adalah sungai Oelin (Olim). Sungai ini juga termasuk sungai kecil. Sekitar Delapan mil dari muara sungai terdapat benteng kecil untuk keamanan demang atau jenang, atau kepala pribumi, dan orang-orangnya ditempatkan di sini.

Satu mil di luar muara sungai Oelin hanya dapat dilayari oleh sampan atau kolek (kano). Ada Duabelas Campoongs (kampung) di lingkungan tempat ini (batin Oelin), dengan populasi penduduk sebesar 267 orang, yang terdiri dari segala usia.

Mereka telah menghasilkan Seratus Limapuluh peculs (pikul) Timah dalam setahun, dari Lima tambang kecil, mereka juga menawarkan diri untuk mengangkut Timah yang kemudian dikirim ke Minto atau Toobooallie. Mereka juga mengumpulkan setiap tahunnya sekitar Duapuluh peculs lilin (Court, 1821:208, 209).

Dr. Franz Epp, dalam bukunya, Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden, Heidelberg, J.C.B. Mohr, 1852, halaman 212, merinci dengan detil jumlah penduduk di beberapa wilayah pemukiman (kampung) di distrik Toboali termasuk Olim pada Tahun 1848 Masehi atau pada awal sebelum perang Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir, yaitu Toboaly 753 jiwa, Gossong 1.121 jiwa, Nieri (maksudnya Nyire) 1.107 jiwa, Olim 721 jiwa, die minen (maksudnya penduduk yang tinggal pada beberapa lokasi pertambangan) 883 orang, Pulu Lepar (maksudnya pulau Lepar) 964 jiwa penduduk. Total keseluruhan penduduk di distrik Toboali termasuk penduduk di pulau Lepar (ada 1 kampung di Ayer Menga) yaitu 5.549 jiwa.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. 05, Masjid Ar Raudhah, Kampung Katak

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan.
**) Gambar sampur merupakan ilustrasi. Dibuat dengan AI.

Comments

comments