Oleh: Dato’ Akhmad Elvian DPMP.
(Sejarawan dan.Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia)
==============
Ahli epigrafi Louis Charles Damais (1995:85), mengatakan: sumber-sumber kesusasteraan dari luar negeri khususnya India yang menyebut tentang Sumatera, antara lain dari Kitab Milindapanca yang ditulis sekitar abad I Sebelum Masehi, dan Kitab Mahaniddesa yang ditulis sekitar abad III Masehi menyebut nama-nama pulau, seperti Jawadwipa (Pulau Jawa), Swarnabhumi (Pulau Sumatera), dan Vangkadwipa atau Wangkadwipa. Dalam Bahasa Sanksekerta,
Dwipa berarti Pulau dan Vangka atau Wangka berarti Timah, berarti “Pulau penghasil Timah”. Toponimi (sejarah asal usul penamaan wilayah geografis) Wangkadwipa berasal dari kata generik dwipa yang berarti Pulau dan nama diri atau nama spesifik vangka atau wangka yang berarti Timah.
Penamaan Bangka berasal dari kata wangka sangat beralasan mengingat pulau ini kemudian merupakan salah satu penghasil bijih Timah terbesar di dunia dan pada dasarnya sejarah Pulau Bangka umumnya berisi tentang penguasaan atau eksploitasi terhadap bijih Timah oleh berbagai bangsa.
Dalam buku Sanskrit In Indonesia, J.Gonda, 1952 Perubahan konsonan V dan W pada kata vangka/wangka menjadi B dalam pengucapan masyarakat merupakan sesuatu yang biasa terjadi misalnya pada kata Sanksekerta wicara menjadi bicara, wulan menjadi bulan.
Ruarrr Biasah, mksh Dato’ Ooo Dato’