26 April 1803, Residen Palembang Aart Quiryn Palm Melapor Ke Gubernur Jenderal Johannes Sieberg Tentang Perampokan Panglima Raman Di Bangka.

IMG-20260426-WA0006

Dato’ Akhmad Elvian*)


Setelah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Pieter Gerardus van Overstraten digantikan Gubernur Jenderal sementara Johannes Sieberg yang sekaligus merangkap sebagai Ketua Dewan Hindia Belanda (Raad van Indië) dan Sieberg memahami bahwa komoditi pertanian dan komoditi tambang sedang mengalami kenaikan harga yang sangat menggiurkan, namun banyak diganggu oleh para perompak.

Untuk memperoleh keuntungan yang besar dan produk tambang Timah aman sampai di gudang negara di Batavia, Ia membentuk suatu komisi untuk memantau Pulau Bangka di wilayah di Hindia Timur yang menghasilkan Timah (ANRI, Bundel Bangka. Instruksi No. 144).

Ekspedisi ke pulau Bangka dimulai pada 18 Juli 1803, mengikutsertakan kapal perang Maria Rijgersbergen bersama dengan kapal-kapal layar eks VOC, Maria Jacoba dan Beschermer. Ekspedisi merupakan upaya pemerintah kolonial setelah bubarnya VOC untuk mengamankan jalur pelayaran, seperti dilaporkan oleh Residen Palembang Aart Quiryn Palm dalam suratnya kepada Gubernur Jenderal Johannes Sieberg di Batavia pada 26 Maret, 13 dan 26 April 1803.

Dalam suratnya, Ia melaporkan bahwa perompak Lingga dipimpin Panglima Raman (Rahman) telah menyerang beberapa tempat di pulau Bangka dan menjarah semua hasil tambang termasuk harta benda penduduk.

Wilayah yang dirampok, kemudian diduduki oleh perompak Bugis, Arung Maruppu yang merupakan gerombolan dari Panglima Raman. Salah satu tugas dari ekspedisi ini adalah menghancurkan dan mengusir perompak sekaligus merebut kembali beberapa bagian pulau Bangka (Bagian Utara dan Barat) yang dikuasai perompak, kemudian melindungi tambang Timah di sana.

Serangan Kerajaan Lingga yang dipimpin oleh Panglima Raman sebenarnya bertujuan menaklukkan Palembang, mengusir VOC dan menguasai sumber-sumber kekayaan Timah di pulau Bangka.

Dalam pandangan eropasentris dan nerlandosentris, serangan yang berasal dari kerajaan Lingga dipimpin oleh Panglima Raman disebut dengan perampokan.

See also  Asal Nama Kampung Terak Atau Klasah Berdasarkan Sejarah.

Dalam catatan Sejarah, Raman atau Rahman dikatakan sebagai seorang yang berasal dari Lingga, ayahnya seorang saudagar Bugis yang menikah dengan puteri salah satu pemuka orang Laut yang paling terhormat. Dia dibawa ke istana oleh Raja Muda dan kemudian dinobatkan menjadi kepala orang Laut dari Lingga dan terkenal sebagai bajak laut.

Upaya Kesultanan Lingga untuk melemahkan VOC ditulis dalam Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1850, bundel Bangka Nomor 41, bahwa perompak laut (zeerovers) menjarah kekayaan pulau Bangka, umumnya masuk dan merampok wilayah kawasan pesisir Barat dan kawasan pesisir Timur pulau dengan membawa perahu-perahu bersenjata dari teluk Kelabat, kemudian menyilang melalui wilayah pedalaman Bangka menuju kawasan di selat Bangka dan laut Cina, memanfaatkan jalur sungai seperti sungai Layang, sungai Semubur, sungai Jering, dan sungai Merawang.

Dalam perang melawan VOC dan Kesultanan Palembang, Depati Djeroek di Bangka, bernama Depati Karim ikut membantu Panglima Raman, mengalami luka-luka dan gugur, puteranya yang masih kecil bernama Bahrin kemudian dipelihara dan dididik Panglima Raman di Lingga (Bakar, 1969:21).

Epp sebagaimana dikutip Heidues (2008:90) menyatakan: Bahrin dibesarkan sebagai seorang pemuda oleh panglima Rahman, seorang pemimpin orang Laut di pulau Lingga, menunjukkan Bahrin punya hubungan dengan Riau, juga hubungan dengan Palembang. Hal inilah kemudian menyebabkan pada Tahun 1803, Bahrin diangkat sebagai depati di pulau Bangka untuk wilayah Djeroek. Pengangkatan bertujuan untuk mereda ketegangan antara Palembang dan Lingga.

Dalam Semaian 2 Carita Bangka Het Verhaal van Bangka Tekstuitgave Met Introductie en Addenda dinyatakan: ”Maka tempoh itu Depati Depak nama Depati Anggur sudah bikin gelab Timah Tiban dan Timah Parit, jual dengan bajak Lanun yang datang di sini. Maka baginda sahunan pun dapat tahu itu dari dia punya jenang yang jaga di situ, lantas baginda pun kirim satu kepala dari Palembang nama Kemas Ismail dengan beberapa orangnya memukul itu dipati, lantas itu kalah luka. Dengan sebab itu dia sudah lari dengan anak bininya ikut Lanun dan itu anaknya bernama Barin, baru diberanakkan tetapi dipati Anggur mati juga di negeri Lanun dengan sebab dia punya luka yang tersebut tadi. Kemudian di dalam ini tempuh tidak berapa lama lantas Lanun datang memukul tanah Bangka berhimpun di pulau Lepar dan Belitung. Dari situ dia mencuri dan memukul orang kerja parit distrik Toboalih (Toboali) dan Kubak (Koba). Maka banyak Timah dan orang Bangka yang dirampas dan ditangkap (Wieringa, 1990:110).

See also  14 April 1949. Dari Bangka, Mohamad Roem Bicara Atas Nama Presiden Pada Perundingan Roem-Royen Di Batavia.

Diceritakan kembali dari Tuhfat al-Nafis: “Panglima Raman merampok dari Bangka ke Jawa, membawa banyak tahanan dan membawa mereka ke Lingga. Pada saatnya orang-orang Bangka datang untuk menikmati hidup di Lingga dan mereka mendirikan kebun-kebun dan kampung-kampung dan tidak mau kembali lagi. Kadang-kadang kerabat mereka berasal dari Bangka tidak melalui perampokan tetapi secara sukarela dan menyerahkan diri kepada sultan Mahmud, dengan demikian kemudian Lingga menjadi padat penduduknya”.

Orang Mentok yang pindah ke Lingga dibantu oleh Panglima Raman dan kemudian ditempatkan di pulau Singkep. Orang-orang Mentok kemudian secara sembunyi-sembunyi banyak membawa orang-orang dari Sungailiat dan Merawang untuk menambang Timah di Singkep.

Thomas Horsfield, dalam “Report on the Island of Banka,” The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, 1850: hal. 52;224: Bahwa pada Tahun 1793 Masehi, Panglima Raman menaklukkan Koba, beberapa lama kemudian menaklukkan dan menguasai Pangkalpinang selama berbulan-bulan. Seorang Arab bernama Abdullah Djalil, kemudian berhasil mengusir Panglima Raman dan mengembalikan Pangkalpinang ke dalam kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam.

Selanjutnya Horsfield, pada buku yang sama, hal. 299, menyatakan, bahwa Panglima Raman dikalahkan oleh Demang Minyak dalam pertempuran di Bagian Utara Pulau Banka. Demang Minyak adalah seorang yang diangkat Sultan Palembang dan diangerahi gelar Demang Surantakka.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Comments

comments