14 April 1949. Dari Bangka, Mohamad Roem Bicara Atas Nama Presiden Pada Perundingan Roem-Royen Di Batavia.

0
IMG-20260414-WA0001

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Setelah kedatangan Delegasi Republik Indonesia dari Bangka dan Yogyakarta ke Jakarta, maka Perundingan Roem Royen dimulai pada hari Kamis tanggal 14 April 1949 bertempat di Hotel Des Indes, Batavia.

Pertemuan pertama delegasi Indonesia-Belanda dapat dilangsungkan di bawah pengawasan UNCI, yang diketuai oleh Merle Cohran.

Delegasi Belanda terdiri Dr. van Royen, Mr. S. Blom, Mr. ‘sJacob, dr V.D. Velde. Panitia kerja terdiri dari Dr Koets, J. E. v. Hoogstraten, Dr Gicben, T. Elink Schuurman dan kepala staf K.N.I.L.

Delegasi Republik Indonesia antara lain Muhammad Rum, Ir. Djuanda, Prof. Supomo, Mr. Ali Sastroamidjojo, Dr. J. Leimena dan Mr.Latuharhary. Penasehat delegasi republik terdiri atas Soetan Sjahrir, Ir.Laoh, Moh. Natsir, Dr. Darmasetiawan dan Sumarto. Direktur sekretariat adalah A.G. Pringgadigdo, sedangkan sekretarisnya adalah Soedjono.

Delegasi UNCI terdiri R. Herremans (Belgia), H. Merle Cochran (USA), Thomas Kingston Critchley (Australia).

Harian Merdeka menggambarkan sosok Dr. Van Royen sebagai diplomat tampan dan cara mengemukakan argumennya dalam pidato pembukaan perundingan begitu luhur sehingga jika seseorang tidak hati-hati akan mempercayai kebenaran di setiap pernyataannya.

Sementara Harian De Volkskrant edisi 30 April 1949, menyatakan bahwa sosok Muhammad Rum merupakan orang yang tulus, lurus dan jujur tidak sebanding dengan Dr. Van Royen yang licik ini (Harian De Volkskrant edisi 30 April 1949).

Menjelang permbicaraan pertama, Dr. Van Royen mengatakan kepada pers bahwa ada Tiga poin yang harus disepakati, yakni genjatan senjata, pemulihan pemerintahan Republik di Yogyakarta dan waktu pelaksanaan KMB.

Mengenai prasyarat pemerintah Republik harus dipulihkan di Yogyakarta dulu baru mengadakan perundingan, menurutnya tidak mungkin saat ini. Tidak seharusnya pesimis dalam perundingan ini, perbedaan bisa dijembatani dengan niat baik di kedua belah pihak.

See also  FESTIVAL KOTA KAPUR, Karya Anak Muda Yang Peduli Sejarah Negeri.

Pernyataan tersebut menanggapi M. Rum yang menyebut tidak terlalu optimis perundingan ini menghasilkan kesepakatan, tapi harus terus berusaha untuk menemukan solusi damai.

Tujuan konferensi ini sederhana yakni pemulihan pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta. Republik tidak dapat membuat keputusan yang mengikat mengenai genjatan senjata atau kehadiran di KMB sampai pemerintah Republik dipulihkan.

Para pemimpin yang saat ini berada di pengasingan di Bangka, masih mendapat kepercayaan rakyat Indonesia. Untuk menjaga kepercayaan itu harus bertindak atas nama rakyat, yang saat ini menginginkan pemulihan Republik.

Memulai pembicaraan pertamanya Mr. Van Royen bertanya dengan tak terduga: atas nama siapa Mr. Mohammad Rum akan berbicara? Rum menjawab spontan, “Atas nama pribadi (persoonlijk) Presiden dan Wakil presiden RI” (Salim, 1995:51).

_______

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

*Keterangan Gambar: Ilustrasi perundingan Roem-Royen di hotel Des Indes, Batavia 14 April 1949.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *