29 April 1949, Sultan Hamengkubuwono IX, Berkunjung Ke Pulau Bangka
Admin 29 April 2026
Dato’ Akhmad Elvian*)
Pada hari Jumat, 29 April 1949, Mohammad Hatta kembali ke Pulau Bangka setelah 5 hari berada di Jakarta, bersama Sultan Hamengkubuwono IX.
Kunjungan tanggal 29 April 1949 merupakan kunjungan pertama Sultan Yogyakarta ke Pulau Bangka pulau penghasil Timah dan diantar ke Lapangan Udara Kemayoran oleh seluruh delegasi Republik Indonesia termasuk Mr. Moh. Roem dan utusan UNCI, H. Merle Cochran.
Pada hari itu juga, Dua delegasi (Belanda dan Indonesia) melanjutkan perundingan di bawah pengawasan UNCI dan sepakat menyusun kesepakatan kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta dan melanjutkan negoisasi.
Selanjutnya pada tanggal 1 Mei 1949, beberapa delegasi Republik Indonesia datang ke pulau Bangka untuk konsultasi ke Soekarno dan Hatta. Delegasi yang ikut antara lain M. Rum, Ir Djoeanda, Dr Leimena, Soedarpo dari kantor republik di New York dan Mr Soedjarno, mantan kepala departemen publisitas Departemen Penerangan. Mereka kembali ke Jakarta keesokan harinya tanggal 2 Mei 1949 bersama Sultan Hamengkubowono IX. Juru bicara delegasi Republik, Muhamamd Rum telah kembali dari Bangka dengan pedoman tertentu.
Sebagai langkah awal pelaksanaan resolusi Dewan Keamanan PBB, tanggal 28 Januari 1949 yaitu: dipandang perlu untuk kembali ke Yogyakarta; membebaskan para pemimpin yang diasingkan di Bangka dan mengakui wilayah Republik berdasarkan perjanjian Renville.
Pembicaraan genjatan senjata dan persiapan KMB berlangsung sengit. Tanda-tanda kesepakatan nampak dalam pernyataan Dr. Van Royen. Beliau telah mengetahui hasil konsultasi delegasi Republik Indonesia ke Bangka dan berharap dalam beberapa hari mendatang akan ada kesepakatan awal dalam konteks persiapan KMB.
Pembicaraan informal berlangsung intensif, dimana delegasi Republik Indonesia bolak-balik Jakarta-Bangka, pendekatan Merle Corchran ke kedua belah pihak dan pertemuan antara delegasi Republik Indonesia dan delegasi Belanda pada hari Selasa, tanggal 3 Mei 1949. Dr. Van Royen berharap ada kesepakatan yang melaksanakan point 1 dan 2 Resolusi 67 Dewan Keamanan dan penyelenggaraan KMB.

Untuk membahas kesiapan kembalinya para pemimpin Republik Indonesia ke Yogyakarta, Selasa sore dilangsungkan makan siang antara Dr. Van Royen dengan Sultan Hamengkubowo IX di Jakarta.
Dalam Harian Provinciale Drentsche en Asser courant edisi 6 Mei 1949, ditulis bahwa diadakan pertemuan informal pada hari Kamis, tanggal 5 Mei 1949 dihadiri 6 anggota kedua delegasi. Delegasi Belanda yang hadir antara lain Dr. van Royen, Mr. Blom, Koets, Thieves, van Hoogstraten dan ‘s Jacob. Sementara dari delegasi Republik antara lain Muhammad Rum, Supomo, Juanda, Leimena, Ali Sastroamijoyo dan AG. Pringgodigdo.
Di kalangan orang Belanda, kegiatan informal ini memiliki harapan besar dan optimisme yang diungkapkan Dr van Royen akhir-akhir ini tentu tidak boleh disia-siakan. Pertemuan informal ini bertujuan menemukan formula untuk menjembatani perbedaan pandangan kini telah mencapai tahap akhir dan memuaskan kedua delegasi.
Beberapa berpikir bahwa saat ini dilakukan diskusi akan menjadi salah satu yang terakhir, jika bukan yang terakhir. Sementara itu menyebar informasi bahwa Natsir mengundurkan diri sebagai penasihat delegasi republik karena dia tidak setuju dengan politik delegasi Republik.
Draf akhir kesepakatan perundingan antara Republik Indonesia dengan perwakilan Belanda, Dr. H.J. Van Roijen telah dibawa ke Bangka oleh Mohammad Rum, Leimena, Supomo, Ali Sastroamidjojo, Djuanda, Latuharhary dan AG. Pringgodigdo. Mereka melaporkan ke Sukarno dan Hatta di Pesanggrahan BTW Mentok. Mereka berangkat Jum’at pagi dan kembali Jum’at sore tanggal 6 Mei 1949.
Dalam otobiografinya, Soekarno (Adams, 1966:390) menyampaikan, bahwa “kompromi terakhir persetujuan Rum-Roiyen berlangsung di meja dapurku di rumah instansi milik pertambangan dimana aku tinggal”. Tentu yang dimaksud rumah itu adalah Pesanggrahan BTW Mentok.
Dikemukakan pula bahwa “Van Royen bersedia mengembalikan para pemimpin Republik dan Mohammad Rum bersedia menghentikan kegiatan gerilya Republik. Kedua pihak bermufakat mengadakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag guna membicarakan pengakuan kedaulatan RI”.
Disalin dari Buku Yogyakarta-Bangka, Menegakkan Kedaulatan Negara Tahun 1948-1949, Akhmad Elvian, dan Ali Usman, diterbitkan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2023
*Gambar sampul: Keluarga Bung Karno dan keluarga Moh. Roem beserta Sri Sultan Hamengkubuwono IX saat mengadakan kunjungan nostalgia ke Pulau Bangka.
Koleksi Layanan Surat Kabar Langka, Perpustakaan Nasional RI
Sumber : Sinar Harapan 1 September 1982 halaman 1 kolom 4-6 (skala team)
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
