Lauk Makan Buddingh Saat di Terentang.
Admin 21 July 2026
Oleh : Meilanto
Pada halaman 71 sampai 72 dituliskan secara rinci kegiatan Buddingh di Terentang dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.
Aan dezelfde vriendelijke zorgen van den Heer MENSINGA, mijn’ gastheer te Pankal-pinang , waaraan ik hef te danken had dat ik overal op den weg spoedig met veische koelie’s was bijgestaan geworden, was ik het ook verschuldigd, dat men te Trentan g van mijne komst verwittigd was. De boodschap mijner reis was mij overal vooruitgegaan, en had ook Trentang
bereikt. Weldra was het dorpshoofd gewekt en bij mij, en werden er fakkels buiten de balei en hars-stokjes in de balei
ontstoken. Ook was er spoedig een tafel met een paar stoelen geplaatst, en tevens waf koude rijst, die door het lange wachten
op den gast natuurlijk vrij-hard en droog (garing of kring) geworden was, met gedroogde visch en zout opgezet, en deed
ik tegelijk mijn dejeuner, mijn diner en mijn souper. Ik had nu wel lust gehad om te Trentang te overnachten, doch inen bad blijkbaar hierop niet gerekend, en het was ook in de bijkans aan alle zijden openc Balei zoo koud, (gelijk de nachten op Banka vaak zeer koud zijn,) dat ik niet besluiten
kon, om op de bloote planken en schorsen of k o cl i et van nibong-hout te slapen. Ik vroeg dus, of ik versehe dragers bekomen kon, en dezen waren dadelijk bij de hand, dewijl ze reeds des avonds te voren besteld en in een nabijstaande loods bijeen waren om al slapende mijne komst te verbeiden. Ze zouden echter eerst nog hun makânan-pag i (ontbijt) gebruiken, en weldra hoorde ik ze op de deuren van eenige huizen of warong’s (gaarkeukens) housen, ten einde het noodige te bestellen.
Maksudnya :
Berkat perhatian penuh kebaikan dari Tuan Mensinga—tuan rumah saya di Pangkalpinang, yang juga berjasa memastikan saya segera mendapatkan tenaga pengangkut baru di setiap tahapan perjalanan—kabar mengenai kedatangan saya telah disampaikan lebih dulu ke Terentang.

Berita tentang perjalanan saya telah tersebar ke mana-mana mendahului langkah saya, termasuk sampai ke Terentang. Tak lama kemudian, kepala kampung dibangunkan dan sudah berada di sisi saya; obor-obor dinyalakan di luar balei (balai pertemuan), sementara batang-batang damar disulut di bagian dalamnya (maksudnya untuk bahan penerangan, pen) Sebuah meja dan beberapa kursi segera disiapkan, lengkap dengan nasi dingin—yang tentu saja sudah agak keras dan kering akibat lamanya waktu menunggu tamu—serta ikan kering dan garam; saya pun menyantap sarapan, makan siang, dan makan malam sekaligus dalam satu kesempatan.
Sebenarnya saya ingin bermalam di Terentang, namun jelas tak ada seorang pun yang mengantisipasi hal ini; lagi pula, balei itu—yang terbuka di hampir semua sisinya—terasa sangat dingin (seperti lazimnya malam hari di Pulau Bangka), sehingga saya tidak sanggup membayangkan diri tidur di atas papan kayu dan kulit kayu polos, ataupun di atas bilah-bilah kayu palm nibong.
Oleh karena itu, saya bertanya apakah saya bisa mendapatkan tenaga pengangkut baru; mereka pun segera tersedia, karena telah dipesan sejak malam sebelumnya dan berkumpul di sebuah gudang tak jauh dari situ untuk menunggu kedatangan saya sembari tidur. Namun, mereka ingin menyantap makanan-pagi (sarapan) terlebih dahulu, dan tak lama kemudian saya mendengar mereka menggedor pintu berbagai rumah atau warung (kedai makanan) untuk memesan apa yang mereka butuhkan.
