Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #16, Toponimi PASIR PADI.

Instagram.com_spectanizer_20260706_133946_000

Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH,CIRBC*)


Dalam Peta Pangkalpinang: Published as Hind IOS7 by Svy Dte ALFSEA, 1946; Drawing and Reproduction: L.H.O. Cartographic Coy-Aust. Survey Corps. Sep,’45, di sisi Timur Distrik Pangkalpinang terdapat satu sungai yang mengalir dari Kiarapangkoh Hill ke arah Timur terus berbelok ke arah Utara bertemu dengan Aik Teloe yang bersumber dari Gosong Sanggak, kemudian aliran sungai bermuara di selat Karimata.

Posisi muara sungai, terletak di sisi Selatan muara sungai Batoeroesa setelah gosong Tinggi. Wilayah sebelah Barat sungai merupakan wilayah rawa-rawa hutan Mangrove yang sangat luas sampai ke sisi Timur sungai Rangkoei dengan beberapa anak sungainya yaitu Aik Tioeng, Aik Ati, Aik Koedjoed dan Aik Segenting serta beberapa gosong yaitu gosong Sanggak, gosong Tinggi, gosong Kelokop dan Kelekak Patong.

Pada wilayah pesisir pantai terdapat banyak ditumbuhi pohon Kelapa dan bekas lahan persawahan uji coba penanaman Padi oleh pemerintah Hindia Belanda. Oleh sebab itu kemudian sungai dan kawasan pesisir pantai dinamakan dalam peta dengan nama gografi atau toponimi Pasir Padi.

Wilayah petak bekas persawahan tanaman Padi terutama terletak antara sisi Barat pulai Poenai sampai ke arah Cape Boenga (Tanjung Boenga). Kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda dalam upaya meningkatkan produksi Padi melalui sistem persawahan perlu dilakukan sebab dengan penggarapan ladang yang tidak teratur dan berpindah-pindah oleh peladang pribumi sebagai akibat dari perang Bangka yang dipimpin Depati Amir (Tahun 1848-1851), menyebabkan persediaan Padi menjadi menipis.

Selama tahun-tahun peperangan dan beberapa tahun sesudahnya, dibeberapa distrik seperti Belinyu, Sungailiat, Merawang dan Pangkalpinang terjadi kekurangan beras.

Ujicoba penanaman padi sawah oleh Pemerintah Hindia Belanda di pulau Bangka dilakukan di distrik Pangkalpinang, dan di daerah Kebon Jati distrik Mentok, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda, Tanggal 19 Desember 1851, Nomor 26. Untuk keperluan pembukaan sawah telah didatangkan Enam Garu dari pulau Jawa, Enam ekor Kerbau dari Keresidenan Palembang, dan didatangkan benih Padi berkualitas dari Pulau Jawa dan Keresidenan Palembang.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #81, Masjid Jami' Nurul Huda, Puding-besar.

__________________

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

*Sumber foto: instagram/spectanizer

Comments

comments