Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #23, Toponimi Kampung Katak.

Kampung Katak

Oleh Dato Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Salah satu kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda setelah berakhirnya perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir (Tahun 1851 Masehi) adalah kebijakan memisahkan pemukiman penduduk Bumiputera Bangka dengan pemukiman pekerja-pekerja tambang orang Tionghoa.

Umumnya pekerja-pekerja tambang tinggal dan membentuk perkampungan sendiri di bekas penambangan Timah (verlaten mijn). Selain itu ada sebagian kecil penambang yang tinggal di ujung kampung Bumiputera Bangka agak ke pinggir karena umumnya pekerja tambang Tionghoa berkebun sayuran, berkebun Sahang, menanam Kelapa, dan berternak hewan peliharaan termasuk Babi.

Beberapa perkampungan Tionghoa yang didirikan di bekas penambangan Timah (verlaten mijn), di Kota Pangkalpinang yaitu Nai Si Puk (kampung Bintang), Parit Lalang, Parit Baciang (Bacang), Liuk Ho (Parit Enam), Si luk (kampung Parit 46), Sung Sa Thi (Pasir Putih), Yung Fo Hin (Semabung), Thiat Phu (kampung Besi), Con Jau (Pangkalbalam), dan Thai Hin (Semabung Ujung).

Perkampungan Tionghoa juga terbentuk di dekat lokasi tidak jauh dari bekas penambangan Timah dan tambang Timah (tin mijn), seperti halnya pada kampung Tjina dan kampung Katak.

Lokasi bekas tambang dekat kampung Katak terletak di sisi Barat kampung Katak, sementara lokasi tambang dekat kampung Tjina terletak pada sisi Timur kampung Tjina dekat tepi sungai Pedindang yang alirannya menyatu dengan aliran sungai Rangkui. Kampung Katak terletak di sisi Utara sungai Rangkui dan pada sisi Selatan kampung Djawa.

Toponimi kampung Katak karena keadaan morfologisnya yang dipenuhi dengan rawa-rawa (moeraspalmen) dan merupakan habitat dari hewan Katak. Bila menjelang hujan dan pada saat bulan mati (fase bulan pertama, yang terjadi pada saat bulan kurang-lebih berada dalam satu garis lurus di antara Matahari dan Bumi. Seluruh permukaan bulan yang disinari matahari berada di bagian belakang bulan dan bagian yang tidak disinari terlihat dari Bumi), kawasan tersebut sangat ramai dengan bunyi Katak, sering membentuk group nyanyi dengan beberapa Katak jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan.

See also  22 Mei 1668, Mengaku Raja Bangka dan Belitung, Kiahi Sampoera Meminta Perlindungan VOC.

Bila menjelang hujan dan pada saat bulan mati (fase bulan pertama, yang terjadi pada saat bulan kurang-lebih berada dalam satu garis lurus di antara Matahari dan Bumi. Seluruh permukaan bulan yang disinari matahari berada di bagian belakang bulan dan bagian yang tidak disinari terlihat dari Bumi), kawasan tersebut sangat ramai dengan bunyi Katak, sering membentuk group nyanyi dengan beberapa Katak jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan.

Kampung Katak awalnya merupakan pemukiman penduduk dan pada bagian Selatannya dekat sungai Rangkui merupakan kawasan pelabuhan dengan beragam aktivitasnya

Franz Epp, seorang Jerman yang pernah berkunjung ke pulau Bangka, dalam bukunya Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden, Heidelberg, J.C.B. Mohr, 1852, hal.211 juga menjelaskan tentang kondisi distrik Pangkalpinang. Dikatakan Franz Epp, bahwa Wilayah Pangkalpinang sangat kaya akan air tergenang yang membuat kampung tidak sehat. Kampung akan sehat pada bulan-bulan kering.

Berdasarkan peta Resident Bangka en Onderh. Opgenomen door den Topografischen dienst in 1928-1929 Blad 34/XXV d., di sisi Selatan kampung Boekit merupakan daerah rawa-rawa dan di sisi Timur kampung Oepas, kampung Djawa dan kampung Katak merupakan kawasan rawa-rawa yang sangat luas sampai ke pesisir Timur Pangkalpinang.

Pada perkembangan berikutnya karena terletak di antara kampung Tjina dan kampung Djawa serta kawasan civic centre, kampung Katak lambat laun juga berkembang menjadi kawasan perdagangan dan jasa.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Comments

comments