11 September 1900, Pemberontak Liu Ngie dihukum gantung di pasar Mentok

20260910_144239

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Setelah perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir, hampir Lima puluh tahun kemudian, atau pada penghujung abad ke-19 Masehi tepatnya pada Tahun 1899, terjadi lagi perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh orang Tionghoa Bangka.

Perjuangan Orang Tionghoa Bangka cukup menyita perhatian Pemerintah Hindia Belanda dan terjadi pada bulan Maret 1899 Masehi. Seorang pejuang Tionghoa bernama Liu Ngie melakukan pemberontakan terhadap Pemerintah Belanda, awalnya pemberontakan di Distrik Kubak (Koba) dan kemudian pemberontakan menjalar dan meluas ke beberapa distrik lainnya di Pulau Bangka, termasuk Distrik Sungailiat, Distrik Merawang dan Distrik Pangkalpinang.

Dalam catatan Dr. S.A. Buddingh, Neerlands-Oost-Indie Reizen Over Java, Madura, Makasser, …., Banka, …; gedaan gedurende het tijduak nan 1852-1857, halaman 68, dikatakan:
Het distrikt Koba telt vele Tinmijnen ,doch die niet zoo produktief zijn als andere Bankasche mijnen. Het land is overdekt met uitgestrekte wouden , de woonplaats van ontelbare wilde varkens.

Penjelasan dari Buddingh tentang kondisi distrik Koba dapat dijadikan sebagai alasan penyebab awal perlawanan dan pemberontakan Liu Ngie di Koba. Distrik Koba memiliki banyak tambang Timah, akan tetapi tambang-tambang Timah tersebut tidak seproduktif tambang Timah di bagian lain Pulau Banka, Distrik ini ditutupi hutan yang luas (Orang Tionghoa Bangka menyebut Koba dengan Komuk), dengan habitat Babi hutan yang tak terhitung jumlahnya.

Penjelasan Budingh ini dilengkapi dengan penjelasan Heidhues yang menyatakan, bahwa Distrik Koba memiliki Sembilan tambang yang hampir tidak menguntungkan, tetapi Kepala Parit atau Parithew di sana mengambil keuntungan yang sangat berlebihan dari kuli, dengan menetapkan harga yang sangat tinggi di toko-toko mereka dan menerapkan sanksi berat dalam bentuk uang atau tambahan kerja atas pelanggaran kecil yang dilakukan kuli.

See also  Dalam Gelap Malam, Buddingh Menyeberangi Sungai Kampa Menuju Jebus.

Dengan membiarkan kuli terlilit hutang, membuat tidak mungkin untuk kuli-kuli meninggalkan pertambangan, apalagi kembali ke Tiongkok (Heidhues, 2008:144-145).

Puncaknya, penderitaan para kuli tambang Timah dari Cina di Distrik Koba, adalah terjadi pemberontakan yang dilakukan penambang Timah dari Cina dipimpin oleh seorang pelarian kuli tambang dari Mentok bernama Liu Ngie. Pemberontakan kemudian meluas pada bulan Oktober 1899, di distrik Merawang dan Distrik Sungailiat dengan sekitar 200-300 pengikutnya, pemberontakan Liu Ngie kemudian dilanjutkan di Distrik Pangkalpinang.

Liu Ngie dan saudaranya kemudian tertangkap di Distrik Merawang pada Bulan Februari 1900, kemudian diikuti dengan penangkapan pengikut-pengikutnya pada Bulan November 1899. Sewaktu Liu Ngie tertangkap dan dibawa ke rumah Kepala Distrik Merawang, disebutkan bahwa halaman rumah tersebut penuh dengan lautan manusia yang ingin melihat sosok Liu Ngie.

Sebelum dieksekusi, Liu Ngie ditahan di Penjara Mentok (Byzendergevangenis) dengan tingkat penjagaan yang ketat. Rumah Penjara Mentok juga menerapkan aturan penahanan bagi pelaku kejahatan dengan diikat menggunakan rantai termasuk dengan rantai yang diberikan beban pemberat yang dipakaikan kepada para tahanan di Kaki, Tangan dan Leher.

Pelaku kejahatan dan kriminal yang dirantai adalah narapidana yang dianggap mengancam stabilitas dan keamanan di Pulau Bangka agar tidak melarikan diri termasuk sosok Liu Ngie dan Saudaranya. Liu Ngie kemudian dihukum gantung di depan umum di Pasar Mentok pada tanggal 11 September 1900, dengan tujuan bahwa Pemerintah Belanda ingin memunculkan efek jera bagi masyarakat agar tidak melakukan perlawanan atau pemberontakan kepada Pemerintah Hindia Belanda khususnya di Keresidenan Bangka.

Residen Belanda, bahkan menganggap Liu Ngie adalah seorang bandit sosial, akan tetapi residen Bangka Weber dalam sebuah surat yang menyertai surat Ezerman (1900) sebagaimana dikutip Heidhues (2008, 145): “Penangkapan mereka (Liu Ngie dan kawan-kawannya) telah membawa akibat yang bermanfaat. Ketakutan di antara hampir seluruh kepala parit dan pemilik tambang, sebagaimana juga dengan orang-orang Eropa yang hidup di tempat-tempat terpencil, telah lenyap sama sekali”.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #82, Masjid Al-Maghfiroh, Ridingpanjang.

Selanjutnya Surat Weber memuat sebuah foto Liu dan “saudaranya”….

Twee Chinese koelies zijn beschuldigd van het leiding geven aan een koelieopstand in de tinmijnen van Banka. Het originele foto-bijschrift luidde: ‘De gevangen genomen Chinese bendeleider Li Hong en een van zijn medestanders, omringd door KNIL-militairen tijdens het bedwingen van een Chinese opstand op Bangka, 1899.’


*Fotocollectie Jan Breman/auteur onbekend,
Sumber Wikimedia Commons.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Comments

comments