14 Agustus 1850, Surat Perintah Mayor D.W. Becking, Agar Pos Militer di Sekka dan Mabat Ditempati Detasemen dari Petaling dan Sed.

DW BECKING

Oleh. Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam Perang Bangka yang dipimpin Depati Amir, peran orang Laut atau orang Sekak dalam membantu Depati Amir sangatlah besar. Berita tentang bantuan orang laut dapat dibaca pada arsip pertimbangan dan saran dari wakil komandan Admiral Angkatan Laut Hindia Belanda dan Inspektur Marine kepada gubernur Jenderal di Batavia:

Pertimbangan dan saran ini menanggapi Surat Residen Bangka 3 September 1850 Nomor 4537: ternyata kabar dari penguasa pulau Lepar dan Depati Biliton bahwa bajak laut (perompak) yang terlihat berulangkali di pantai Jawa adalah orang Laut atau Sekak dari pulau Lepar dan Biliton, rupanya betul halnya sama dengan yang dilaporkan Gezaghebber Horneveld (seorang pejabat militer atau administratif (penguasa wilayah lokal) kolonial Hindia Belanda yang pernah bertugas di Kotawaringin, Borneo Selatan, nama penguasa perompak orang laut/orang Sekak yaitu Mah Sarinah dan Mah Cirbu.

Hal yang sama juga dilaporkan komandan yang kapalnya dirampok. Akhir-akhir ini laut Jawa menjadi berbahaya dan tidak aman. Dalam pikiran saya, para perampok tinggal dekat Billiton atau pulau-pulau sekitarnya, nampaknya tidak diragukan lagi perompak itu membantu Depati Amir atau setidaknya berhubungan dengan Depati Amir. Perahu perampok itu sekarang telah meninggalkan laut Jawa dan hasil rampasan dibawa pulang, Amir diberitahu menjadi sedikit senang. Mah atau Mak atau Ma adalah sebutan dalam bahasa Sekak untuk menunjuk kepada pemimpin gerombolan/kelompok orang Sekak atau batin orang Sekak, orang Laut Pribumi Bangka.

Selanjutnya dalam Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1850, Bundel Bangka Nomor 41 menyatakan bahwa: “Serangan orang Sekak dari pulau Belitung dan pulau Lepar sebagai perompak telah memberikan alasan untuk mengirimkan ke pulau ini beberapa kapal perang uap Borneo, Onrust dan Etna. Memang perahu-perahu perang tidak digunakan untuk menghukum para pelaku pidana, tetapi informasi telah diperoleh mengenai kondisi di pulau-pulau ini yang dengan kelemahan kita dianggap sangat penting”.

See also  22 Mei 1668, Mengaku Raja Bangka dan Belitung, Kiahi Sampoera Meminta Perlindungan VOC.

Untuk mencegah Depati Amir mendapat bantuan dari orang laut atau suku Sekak lainnya, Residen Belanda meminta kepada Mas Agus Muhammad Asik, kepala Kepulauan Lepar mempengaruhi mereka agar tidak lagi membantu Depati Amir.

Upaya lain dari militer Belanda mengatasi bantuan dari orang-orang Sekak yang ada di sekitar pulau-pulau kecil di kawasan Teluk Kelabat distrik Belinjoe kepada Depati Amir, adalah membangun benteng/ pos pertahanan di wilayah Sekka dan Mabet, lengkap dengan penempatan pasukannya. Pasukan militer yang bertugas di Sekka dan Mabet dari detasemen Petaling dan Sed terdiri atas seorang perwira dan 30 prajurit.

Selanjutnya pasukan dari Batalyon Garnisun yang diperbantukan di pertambangan Tjingal (Cengal) ditambahkan ke dalam detasemen di Petaling.

Selengkapnya dapat diketahui dari surat Mayor Komandan Militer Bangka D.W. Becking kepada Inspektur yang ditugaskan dalam misi ke Pulau Bangka di Muntok:

Muntok, den 14 Agustus 1850 No: 273 Aan:”Den Inspecteur belast met eene zending Naar het Eiland Banka te Muntok Ik heb de Eer Uwele del gestr m antwoord op Uwe missive dd 13 dezer La E te berigten, dat ik laat heb gegeven deposten, te Sekka en omtrent Mabat door de detachementen thans te Petaling en Sed aanwezig te doen bezetten.- Daar depost te Sekka mt hoofde van dergelver ver wijdering van de andere posten, als geheel op zich zelven stande moch beschowd worden, zal ik den gelag door een officier en 30man doen bezetten tot dat einde aan de tegenwordige bezetting van Petaling de manschappen van het garnizoens Bataillon, thans nog in de mijnen te Tjingal (Cingal) bedeldcheerd, te voegen: daar door bezetting van den post omtient de mijnen in die streken worden gedekt”. De Majoor Militaire Kommandant van Banka (W.G.) Becking.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments