14 September 1871, 155 tahun yang lalu, Tsen On Ngie tokoh awal penyebar agama Katolik di pulau Bangka wafat

Makam Tsen On Ngie

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Tsen On Ngie (Zeng Aner) adalah tokoh awal penyebar agama Katolik di pulau Bangka yang dimulai di Sungaiselan, wafat pada Tanggal 14 September 1871 pada usia sekitar 80 Tahun dan dimakamkan di Sungaiselan.

Pada Tanggal 10 November 1984, sisa jenazah Tsen On Ngie di Sungaiselan digali dan dimakamkan kembali di pemakaman Sentosa Pangkalpinang pada Tanggal 11 November 1984, oleh MGR. R. Reichenbach SS.CC (Administrator Apostolik, karena Uskup Pangkalpinang pada waktu itu Mgr. Van Der Westen SS.CC, pada awal Tahun 1979 mengundurkan diri karena faktor kesehatan).

Tsen On Ngie (Zeng Aner) lahir di Cungphin (Tiongkok) Tahun 1795. Pada Tanggal 5 September 1830 tiba di Mentok dari Penang (dipermandikan) dan kemudian ke Sungaiselan. Tsen On Ngie menjadi Sinshe atau tabib yang mengobati pekerja tambang dari Tiongkok dan memperkenalkan Agama Katolik. Tsen On Ngie juga mengurus anak yatim dan asrama serta rumah jompo.

Selama 18 tahun berkarya di Bangka menyebarkan Agama Katolik dan atas permohonannya pada Tahun 1849 datang Pastor Claessens dari Batavia ke Sungaiselan dan membaptis 50 orang yang telah dididik dan dipersiapkan oleh Tsen On Ngie.

Pada Tahun 1853 Pastor J.J. Langenhoff ditugaskan di Sungaiselan namun sering tidak berada di tempat karena harus membimbing umat Katolik di Pulau Belitung, Palembang dan Riau, sehingga Tsen On Ngie yang mengurus umat Katolik di Bangka.

Berdasarkan catatan dari Dr. S.A. Buddingh, dalam Neerlands-Oost-Indie Reizen Over Java, Madura, Makasser, …Banka, …; gedaan gedurende het tijduak nan 1852-1857, Hal. Halaman 67. Secara keseluruhan, pada tahun 1854 di tambang-tambang timah di Pangkalpinang, Belinyu, dan Sungai Selan terdapat 146 orang Tionghoa yang termasuk dalam Serani-hoei atau perkumpulan Kristen (kata hoei dalam bahasa Tionghoa berarti: persekutuan, perkumpulan), dan perpindahan mereka ke agama Katolik diusahakan oleh mendiang Misionaris Roma Katolik J.J. Langenhoff.

See also  5 September 1819, Kapten Laemlin Mendarat di Pangkalpinang

Di salah satu dari sekian banyak tambang di Pangkalpinang bahkan telah berdiri sebuah gereja kecil atau kapel Roma Katolik (akhir Tahun 1863), begitu pula sebuah kapel serupa (Tahun 1854) di salah satu dari sekian banyak tambang di Sungai Selan, tempat Tuan J.J. Langenhoff sempat menetap sementara waktu.

Orang-orang Tionghoa Katolik yang saya kunjungi di Belinyu dan tempat lainnya, memiliki sebuah ruang doa khusus yang terpisah di dalam rumah mereka. Di ujung ruangan tersebut terdapat sebuah altar kecil yang ditutupi kain putih dan dipasang dua lilin malam, yang di atasnya diletakkan sebuah patung Kristus, sebuah patung Maria, dan beberapa lambang atau simbol berwarna dari Gereja Roma Katolik.

Dan salah satu dari mereka, tepat ketika saya masuk ke rumahnya, sedang memegang sebuah buku doa berilustrasi gambar dengan teks bahasa Belanda (Jerman Rendah). Ia tidak bisa membaca teks tersebut, tetapi ia memahami gambar-gambarnya. Ketika saya menunjuk salah satu gambar dan bertanya apa artinya, ia menjawab dalam bahasa Melayu yang terbata-bata: “Ini adalah Tuhan Yesus yang besar, yang memberkati anak-anak.”

Pada Tahun 1867 Pastor Langenhoff sakit dan dipulangkan ke Eropa dan Tsen On Ngie menggantikannya sebagai Pastor Awam bagi seluruh umat Katolik di Pulau Bangka. Pada Tanggal 14 September 1871 Tsen On Ngie wafat dan sehari kemudian Tanggal 15 September 1871 datang Pastor De Vries ke Sungaiselan dan melaksanakan misa arwah bagi Tsen On Ngie.

Selanjutnya pada Tanggal 10 November 1984 sisa jenazahnya di Sungaiselan digali dan dimakamkan kembali di Pemakaman Sentosa Pangkalpinang pada Tanggal 11 November 1984.

Pada makam Tsen On Ngie di Pangkalpinang tertulis: “Di Sini Beristirahat Rasul Perintis Gereja Katolik di Pulau Bangka Paulus Cen On Ngie, *Cungphin (Tiongkok), 1795. +Sungaiselan, 14 September 1871. R I P

See also  Pulau Nanas, Wisata Aman dan Bernilai Sejarah di Tengah Teluk Kelabat

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments