24 Juli 1850, Surat Kapten, Doorschodt, No. La. B. No. 96, Kepada Komandan Militer di Pulau Bangka, Pemberontak Amir dan Pasukannya Bertahan di Pako.
Admin 24 July 2026
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Dalam surat yang ditulis Residen Bangka, dikatakan bahwa pemerintah kesulitan menempatkan pasukan di kampung Sid (Zed), Petaling dan Tjingal (Cengel). Untuk itu, diperlukan kekuatan militer tambahan. Tidak jelas apa yang menjadi kesulitan pemerintah Belanda. Namun, dalam surat ini disinggung tentang Amir dan pengaruhnya sebagai ancaman nyata dan akan terus melakukan perlawanan. Paling tidak diketahui salah satunya berasal dari adanya ancaman dan mungkin gangguan dari Depati Amir sehingga pos di sana tidak kunjung kuat keberadaannya.
Militer Belanda terlihat terus meningkatkan intensitas operasi militer, sementara Depati Amir dengan taktik gerilya memanfaatkan kondisi alam Pulau Bangka terus melakukan perlawanan. Salah satu gambaran jalannya suatu operasi militer dan bagaimana Pasukan Depati Amir dengan taktik gerilya masa itu memanfaatkan hutan dan rawa rawa di Pulau Bangka untuk menjebak musuh, dikisahkan dalam korespondensi: Afscrift Rommah Bakem, den 24 July 1850 La. B. No. 96. Aan: Den Majoor militaire kommandant van het eiland Banka, Muntok ANRI; Surat dari Residen Bangka kepada Inspektur Sumber Keuangan dan Barang Milik Negara yang ditempatkan di Bangka, tertanggal Sungailiat, 27 Agustus 1850 No. L. J/K; Bt 17 September 1850, geh. ANRI; Surat dari Kapten Komandan Keempat, Doorschodt, kepada Mayor Militer Komandan di Pulau Bangka, tertanggal Rumah Bakem, 24 Juli 1850, La. B No. 96. Ik heb de eer Uwedls het volgende te rapporteren. Gisteren kwam een genewelke gevligt was, mij stellig warkeren dat heden nacht, de muitelingen Amir, Awang en een groot gedeelde hunnen benden, zich te Pako zuiden verzamelen ten gevolge van die mande ik dadelijk het plan, hen midelen in de nacht te wervallen, trok, daar, van eenige manschappen van, Nibong en Poeding Beraan naar hier een begaf mij met de 2: Luitenant Doerrlebben en 300 der officieren en manschappen benera 25 Barissans, des nacht in 1 lin op marsch.
Tot de Kampong Paija Raija toe is deung zeer goed, van hier af begeren wij ons links af naar het warasfche gebegte middelen door het bosch, 2/3 der erg is diep maras, met hier en daar stikken hout van welke afglijdende men tot aan de huipen in den modder zakte. Onder deze omstandigheden, kwamen wij des morgen ten 4/2 uur in de grootste stilte, tot digt bij de Kampong Pako marelen manwacht in denzeleren, den we under was deze wrlaten, de Kampong bestond uit 12 nog al groote huizen, en eene loods welke tot karnne schijd gediend te hebben, Uwje schoten welen op een man welke onteligtte.

Des morgens om 6 uur lit in de Kampong tot op den grond afbranden in kurde na alles te hebben doen doorzoeken, langs den zelfden weg terug als wanner het mij ook, blek dat op alle hoog staande bonnen, een zeker doort van wachtkuizen bestond van waaruit het ligt mogelijk is, dat, onze komst eer en naraden is. Dfm slitte geef in Uwwe kennis dat en gens sckegeren van den kommandant van Layang, weer een twintig tal vligtelingen met hunne worinen em kinderen, door behulp van Barissans de hosfchen in den omtrek van daar hebben werluten, in zich te Layang onstigen. De Kapitein Kommandant 4e Van Het Bataillon Infanterie W.G. Doorschodt.
Surat ini menjelaskan tentang: Mayor komandan militer di Pulau Bangka, Muntok ANRI; Surat dari Residen Bangka kepada Inspektur Sumber Keuangan dan Barang Milik Negara yang ditempatkan di Bangka, tertanggal Sungailiat, 27 Agustus 1850 no. L. J/K; Bt 17 September 1850, rahasia. ANRI; Surat dari Kapten Komandan Keempat, Doorschodt, kepada Mayor Militer Komandan di Pulau Bangka, tertanggal Rumah Bakem, 24 Juli 1850, La. B No. 96. Saya mendapat kehormatan untuk melaporkan hal berikut kepada Yang Mulia. Kemarin seorang pelarian datang menemui saya untuk memastikan bahwa malam ini, para pemberontak Amir, Awang, dan sebagian besar pasukan mereka akan berkumpul di selatan Pako. Akibat kabar tersebut, saya segera menyusun rencana untuk menyergap mereka di tengah malam. Saya menarik beberapa pasukan dari Nibong dan Puding Besar ke sini, lalu berangkat pada malam hari dalam satu barisan bersama Letnan Dua Doerrlebben, 300 perwira dan prajurit, serta 25 pasukan Barisan.
Hingga mencapai Kampung Paija Raija, jalannya sangat bagus. Dari sini, kami berbelok ke kiri menuju kawasan berawa-rawa di tengah hutan. Dua pertiga rute berupa rawa yang dalam dengan potongan kayu di sana-sini. Jika tergelincir dari kayu tersebut, kami bisa tenggelam dalam lumpur hingga sepinggang. Dalam kondisi seperti ini, kami tiba pukul 4.30 pagi dalam keheningan total di dekat Kampung Pako, yang ternyata sudah ditinggalkan penduduknya. Kampung tersebut terdiri dari 12 rumah yang cukup besar dan sebuah lumbung yang tampaknya berfungsi sebagai gudang. Tembakan dilepaskan ke arah seorang pria yang melarikan diri.
Pada pukul 6 pagi, saya memerintahkan agar Kampung tersebut dibakar habis hingga ke tanah, setelah sebelumnya melakukan penggeledahan di seluruh area. Kami kembali melalui jalan yang sama, di mana saya juga melihat bahwa di semua pohon yang tinggi terdapat semacam pos penjagaan. Dari pos-pos tersebut, kedatangan kami kemungkinan besar sudah diintai dan diketahui sebelumnya. Terakhir, saya informasikan kepada Yang Mulia bahwa menurut laporan dari komandan Layang, sekitar dua puluh orang pelarian bersama istri dan anak-anak mereka telah keluar dari hutan di sekitarnya dengan bantuan pasukan Barisan, dan kini menetap di Layang. Dari Kapten Komandan Batalion Infanteri Keempat, W.G. Doorschodt.
*Gambar sebagai ilustrasi, dibuat menggunakam AI.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
