IMG-20260722-WA0022

Oleh : Meilanto


Selama di Bangka, Buddingh berjalan ke banyak tempat. Ia melakukan interaksi dengan warga dan dari hasil kunjungannya itu ia tulis dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857. Menariknya ia menulis tentang watak penduduk Bangka seperti yang ia tulis pada halaman 73-74.

Voor zooveel ik het karakter der Bankanézen heb hooren beschrijven en het zelf eenigermate heb leeren kennen, is het goedaardig, zacht, gastvrij, hulpvaardig, mededeelzaam, onderdanig, eerlijk, matig, en gedwee of gemakkelijk te leiden, doch daarbij zeer vreesachtig en bijgeloovig. Hunne klecding is, even als hunne levenswijze, hoogst eenvoudig. De orang – gocnoug of orang-darat (bergmenschen of menschen van den vasten wal) of de bewoners van het binnenland van minderen stand, zoo als de houtkappers of orang-bintaran g (1), kolenbranders of toekan- a rang, herten-jagers, was- en honigzoekers, enz., dragen vaak maar een enkel kleedingstuk van boomschors, soms ook met een baaitje zonder mouwen of een vest van dezelfde stof. De meer-gegoeden (orang-abang) dragen de katoenen sarong’s, pantalons, baaitjes en hoofddoeken der Maleijers.

De vrouwen zijn tjara-Malaijoe , d.i. naar de mode der Maleische vrouwen, gekleed, en dragen even als deze lang haar, terwijl de mannen het haar kort afsnijden. Dat ook de Bankanézen van Maleisch ras zijn, bespeurt men gemakkelijk aan hun ge-laat, middelmatige statuur, ligten ligchaamsbouw en donkerbruine kleur. Ze belijden den Koran, doch hebben in stede van ontzag eene afkeerige vrees voor de Muhamedaansche priesters. Missighiet’s vindt men alleen maar in de hoofdplaatsen der distrikten, niet in de kampongs. Ook te Muntok is er een, doch, al zouden ook de Hoofd-panghoeloe of Opperpriester
ABANG-ABÜOEL-RANIE, en de Demang of het distiïktshoofd van Muntok , Hadjie ABDOEL-RACHMAN misschien ijverige Muhamedanen zijn, de inlandsche bevolking schijnt niet veel geloofs-ijver aan den dag te leggen. En deze weinige ingenomenheid der Bankanézen met het Muhamedanisme, in verband met hunne als het ware //aangeboren” moraliteit, goeden inborst en zachte zeden, heeft in 1854 geleid tot het (in het Kerkrapport) opperen van het denkbeeld, of niet welligt het werk der Evangelisatie met goeden uitslag op Banka zou kunnen be-
proefd worden.

Maksudnya :

See also  Kampung Kurau Dalam Catatan Buddingh.

Berdasarkan apa yang saya dengar mengenai watak penduduk Bangka, serta apa yang saya amati sendiri, mereka adalah orang-orang yang berhati baik, lembut, ramah, suka menolong, mudah bergaul, penurut, jujur, bersahaja, dan mudah diarahkan—namun pada saat yang sama sangat penakut dan percaya pada takhayul.

Pakaian mereka, seperti halnya gaya hidup mereka, sangatlah sederhana. Kaum orang-goenong atau orang-darat (penduduk pegunungan atau pedalaman)—yakni penghuni wilayah pedalaman dari kalangan bawah, seperti penebang kayu (orang-bintarang), pembuat arang (toekan-arang), pemburu rusa, serta pencari lilin lebah dan madu—sering kali hanya mengenakan sehelai pakaian dari kulit kayu, terkadang ditambah dengan rompi tanpa lengan dari bahan yang sama. Mereka yang lebih berada (orang-abang) mengenakan sarung katun, celana panjang, jaket, dan penutup kepala khas Melayu. Para wanitanya berpakaian cara-Malaijoe—mengikuti gaya busana wanita Melayu—dan membiarkan rambut mereka panjang, sedangkan kaum pria memotong rambut mereka pendek. Seseorang dapat dengan mudah mengenali bahwa penduduk Bangka berasal dari rumpun Melayu melalui ciri-ciri wajah, perawakan sedang, tubuh ramping, dan kulit berwarna cokelat tua.

Mereka menganut ajaran Al-Qur’an, namun—alih-alih menaruh hormat—mereka justru memandang para pemuka agama Islam dengan rasa takut dan enggan. Masjid hanya ditemukan di ibu kota distrik, bukan di kampung-kampung. Terdapat pula sebuah masjid di Muntok; namun, meskipun Hoofd-panghoeloe (Penghulu Utama) Abang Abdoel-Ranie dan Demang (kepala distrik) Muntok, Hadjie Abdoel-Rachman, mungkin merupakan Muslim yang taat, penduduk pribumi tampaknya tidak menunjukkan semangat keagamaan yang kuat. Kurangnya keterikatan yang kuat terhadap Islam di kalangan penduduk Bangka—ditambah dengan moralitas, sifat baik, dan perangai lembut yang tampak alami pada diri mereka—mendorong munculnya gagasan pada tahun 1854 (dalam Laporan Gereja) bahwa upaya penginjilan mungkin dapat dilakukan di Bangka dengan hasil yang sukses.

See also  Sejarah Asal Usul Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 01, Toponimi Pulau Bangka

*Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

*Keterangan gambar: Orang Darat van Banka Door Johannes Jeremia Geelhoed, 1821-1880
Sumber : De ontdekking van Tin op het eiland Billiton; Bert Manders, 2010


Comments

comments