Jemaat Protestan di Muntok Dalam Catatan Buddingh.

Jelajah Bangka_20260724_183504_0000

Oleh: Meilanto


Buddingh dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 24-25 menuliskan tentang jemaat Protestan di Mentok.

Berikut tulisannya:

De Protestantsche gemeente te Muntok telt 51 zielen, waaronder 16 ledematen en 9 kinderen, doch voegt men bij dit getal de 28 Protestanten, die in de overige 8 distrikten Jeboes, Blienjoe, Socngi-liat, Marawang of Batoe – roessak, Pankal-pinang , Soengi-slan, Koba en Toboâli wonen , dan bekomt men een cijfer van 79 zielen. In vroeger jaren ontving deze gemeente kerkelijke bezoeken van de bovengenoemde zendeling-leeraren van Riouw, en daarna van de jiredikanteu H. MARNSTRA in 1814 en A. VAN DAVELAAR in 1847. Sedert is ze definitief gekombiueerd met de gemeenten van Riouw en Palembang , en wordt ze geleid door den Keizenden predikant, die te Riouw gevestigd is en de gemeenten van Banka en Palembang jaarlijks 2 à 3 malen kerkelijk bezoekt. Ofschoon de gemeente reeds in 1847, door inzameling van vrijwillige bijdragen in haren boezem als anderzins , eenige pogingen heeft aangewend om in het bezit van een Godshuis gesteld te worden, zoo heeft ze echter tot nog toe geen kerkgebouw, en worden dus de godsdienstoefeningen ge-woonlijk in een der ruime bijgebouwen van het Residentiehuis, of soms in een der lokalen in het fort, gehouden.

In het Kerk-rapport is de stichting eener kerk te Munto k weder ter sprake gebragt, en tevens het denkbeeld geopperd, om aan den Reizenden leeraar, die te Riouw gevestigd is, de hoofdplaats Muntok tot verblijf aan te wijzen, en Palembang onder een’ eigen’ Predikant van de kombinatie los te maken. Eene school voor lager onderwijs is er natuurlijk te Muntok niet, dewijl er slechts (1854) 3 à 4 schooljdigtige kinderen ter hoofdjilaats zijn. Sedert 1854 is er echter eene iulaudsehe school voor zonen van inlandsche Hoofden en Notabelen geo-pend , welke met ongeveer 30 leerlingen bevolkt is.

Maksudnya:

See also  Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #17, Toponimi Kampung Betoer.

Jemaat Protestan di Muntok berjumlah 51 jiwa, termasuk 16 anggota penuh dan 9 anak-anak; namun, jika angka ini ditambah dengan 28 orang Protestan yang tinggal di delapan distrik lainnya—Jebus, Belinyu, Sungailiat, Marawang (atau Batu Rusak), Pangkalpinang, Sungai Selan, Koba, dan Toboali—maka totalnya menjadi 79 jiwa.

Pada tahun-tahun sebelumnya, jemaat ini menerima kunjungan pastoral dari para pendeta misionaris yang telah disebutkan sebelumnya dari Riau, dan kemudian dari pendeta H. Marnstra (pada tahun 1814) serta A. van Davelaar (pada tahun 1847). Sejak saat itu, jemaat ini digabungkan secara permanen dengan jemaat Riau dan Palembang serta dipimpin oleh pendeta keliling yang berbasis di Riau, yang melakukan kunjungan pastoral ke jemaat Bangka dan Palembang sebanyak dua atau tiga kali setahun.

Meskipun jemaat telah berupaya sejak tahun 1847—melalui pengumpulan sumbangan sukarela dari kalangan sendiri maupun pihak luar—untuk mendapatkan tempat ibadah, mereka masih belum memiliki gedung gereja; akibatnya, kebaktian biasanya diadakan di salah satu bangunan tambahan yang luas di Rumah Residen atau, sesekali, di salah satu ruangan di dalam benteng.

Laporan gereja kembali mengangkat masalah pembangunan gereja di Muntok, sekaligus mengusulkan gagasan untuk menetapkan Muntok—kota utama—sebagai tempat tinggal bagi pendeta keliling yang berbasis di Riau, serta memisahkan Palembang dari kelompok gabungan tersebut agar dapat memiliki pendetanya sendiri. Tentu saja, tidak ada sekolah dasar di Muntok, karena hanya terdapat tiga atau empat anak usia sekolah (per tahun 1854) di permukiman utama tersebut. Namun, sejak tahun 1854, sebuah sekolah bagi putra-putra kepala adat dan tokoh masyarakat setempat telah dibuka, dengan jumlah murid sekitar 30 orang.


Foto : Europeesche School ca.1914-1919
Sumber : Rijkmuseum.nl

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

See also  Dari Sungailiat, Buddingh ke Pangkalpinang. Ini rutenya.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments