27 Juni 1872, Bong A Kin diangkat sebagai Kapitien Luitenant der Chineezen de Distrik Koba
Admin 27 June 2026
Oleh Dato Akhmad Elvian*)
Menurut ketentuan dalam pasal 62 ayat (2) Undang-undang Dasar Nederland Tahun 1854 (wet op de Staatsinrichting van Nederland Indie) pada tanggal 2 September 1854, Staatsblad 1854, Nomor 2, Staatsblad 1855 Nomor 2 jo 1, susunan lembaga-lembaga Pemerintah Hindia Belanda adalah Gubernur Jenderal, Dewan Hindia Belanda (raad van Nederlands Indie), Dewan Rakyat (Volksraad), Dewan Pengawas Keuangan (Algemene Rekenkamer) dan Mahkamah Agung (Hogerechtshof).
Kedudukan Residen Belanda di Daerah berada di bawah Gubernur Jenderal dan para residen membawahkan beberapa Administrateur yang berkedudukan di Distrik atau Afdeeling.
Di samping menjalankan roda pemerintahan di distrik atau afdeeling, seorang administrateur juga bertugas mengawasi kerja Demang dan para Kapitan Cina, Arab dan India titulair.
Khusus di Keresidenan Bangka Pemerintah Hindia Belanda mengangkat jabatan beberapa Kapitan Cina titulair yang secara keseluruhan disebut Chinese Officieren atau Opsir Tionghoa.

Pangkat seorang kapitan ditentukan berdasarkan status ketuaan atau senioritas seseorang, prestasi dan kekuatan ekonomi serta politik perseorangan yang diakui di masyarakat serta kedudukan pangkat ditentukan juga berdasarkan pentingnya satu wilayah bagi pertambangan Timah.
Institusi Kapitan Cina di pulau Bangka atau di Hindia Belanda secara keseluruhan terdiri atas Tiga pangkat yaitu Majoor, Kapitein dan Luitenant der Chinezen.
Dalam Regeeringalmanak voor Nederlandsch-Indie, di Keresidenan Bangka (Banka en onderhorigheden) saat Keresidenan Bangka dibagi atas Sepuluh Distrik pada Tahun 1855, yaitu Distrik Djeboes, Blinjoe, Muntok, Marawang, Soengeiliat, Songeislan, Pangkalpinang, Koba, Toboali dan Lepar Eilanden, terdapat beberapa pejabat mulai dari administrateur distrik, Demang dan Kapitan Cina yang berpangkat Kapitein dan Luitenant der Chinezen.
Pada Distrik Koba jabatan Kapitan der Chinnezen yaitu Bong A Kin yang diangkat sebagai Kapitien/Luitenant der Chineezen de Distrik Koba pada tanggal 27 Juni 1872.
Bersamaan dengan Bong A Kin sebagai Kapitien/ Luitenant der Chineezen, menjabat juga sebagai Demang di Koba yaitu Demang Bahamin dan yang menjabat sebagai Administrateur distrik Koba adalah I J Meeter (tijd).

Berdasarkan Catatan Franz Epp, Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden, Heidelberg, J.C.B. Mohr, 1852, halaman 209 dan halaman 212, bahwa Jumlah penduduk China (Chinesen) di distrik Koba cukup besar yaitu 309 Orang dari total pendudk distrik Koba keseluruhan yang berjumlah 2.332 Orang.
Penduduk lainnya terdiri atas Pribumi Bangka (Bankanese) 1.971 Orang, dan Melayu (Melajen) 52 Orang, Penduduk mendiami sekitar 42 kampung di Tiga wilayah, yakni di Koba terdiri atas 14 kampung, di Pakko (Paku) terdiri atas 20 kampung dan di Kayuara terdiri atas 8 kampung.
Di ibukota Koba/Kubak ditempatkan Satu administrator Orang Eropa dan sejumlah kecil tentara. Koba/Kubak berpenduduk 1.029 Orang, Pakko (Paku) 833 Orang dan Kayuara 238 Orang, serta terdapat 232 Orang penduduk yang tinggal diberbagai tambang. Di tambang tambang Timah distrik Koba dipekerjakan Orang Cina, yang tinggal bersama istri dan anak-anak mereka.
Tambang-tambang dihitung setiap tahun dan menghasilkan 800 pikul Timah. Berdasarkan data penduduk pulau Bangka yang disampaikan oleh Franz Epp, tampaknya para pekerja tambang Timah yang didatangkan Pemerintah Hindia Belanda dari Cina ke distrik Koba, sudah banyak yang menikah/kawin dengan perempuan pribumi Bangka, sebab dalam laporan Epp dinyatakan, bahwa mereka (pekerja tambang Cina) telah tinggal bersama istri-istri dan anak mereka dan jumlahnya cukup banyak, bahkan melebihi jumlah penduduk Melayu (Melajen).
*Keterangan gambar; Woningen voor Chinese contractarbeiders op een tinonderneming te Koba, op de achtergrond een groep kinderen, anonymous, c.1900-c.1920.
(Rumah untuk pegawai kontrak Cina di sebuah perusahaan timah di Koba, dengan latar belakang sekelompok anak-anak, anonim,c.1900-c.1920), Sumber:.rijksmuseum.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
