28 Agustus 1928, Berghotel Menumbing Diresmikan Penggunaannya

Lonceng Besi Pesanggrahan Menumbing

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Pesanggrahan Menumbing atau awalnya bernama Berghotel Menumbing terletak di Gunong Menumbing Mentok, dibangun oleh perusahaan tambang Timah Belanda BTW (Bankatinwinning) pada Tahun 1927 dengan biaya sekitar 2 juta gulden.

Biaya yang fantastis besar terutama untuk membuat bangunan utama dengan bahan granit dan fasilitas yang mewah, kemudian biaya pembangunan jalan menuju berghotel yang mendaki dan berkelok dari bawah sampai ke atas gunong serta untuk biaya upah pekerja.

Bangunan Berghotel kemudian diresmikan penggunaannya pada Tanggal 28 Agustus 1928, pada saat kepala BTW dijabat oleh J.G. Bijdendijk.

Toponimi Menumbing berasal dari kata Bahasa Arab “Manumbina” yang berarti datang berulang untuk mengambil air bersih dan Menumbing menjadi “penanda” bagi kapal-kapal laut dalam pelayaran dunia yang melintas di selat Bangka sekitar abad 7 Masehi.

Pelaut-pelaut Cina menggunakan Bukit Menumbing sebagai pedoman untuk memasuki daerah perairan Musi. Dalam peta Mao K’un yang dibuat oleh Mahuan pada sekitar awal abad ke-15, disebutkan nama Peng-chia Shan (Mills, 1970). Nama ini oleh O.W Wolters, dalam “A Note on the Historical Geography of Sungsang Village on the Estuary of the Musi River in Southern Sumatera”, diidentifikasikan dengan Bukit Menumbing yang letaknya di sebelah Barat laut pulau Bangka.

“Ketika buritan kapal diarahkan ke Niu-t’ui-ch’in (pusat bukit pada rangkaian perbukitan Menumbing), anda dapat terus berlayar memasuki Terusan Lama (Musi). Garis daratan di hadapan Bangka terdapat Tiga terusan. Terusan yang di tengah (Terusan Lama) adalah jalan yang benar. Di situ ada sebuah pulau kecil”.

Pada Tahun 1873 Masehi, Kota Mentok juga pernah dijadikan sebagai tempat pengasingan bagi Pangeran Haryo Pakuning Prang dari Legiun Mangkunegaran, keturunan Sunan Pakualam II, karena beliau menolak ikut memerangi bangsanya sendiri dalam perang Aceh (1873-1904 Masehi).

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. 64, Masjid Shirothol Mustaqim, Bukit Layang.

Berghotel Menumbing atau Pesanggrahan Menumbing menjadi penting artinya dalam sejarah Republik Indonesia dan sejarah dunia karena dijadikan lokasi tempat pengasingan pemimpin Republik Indonesia setelah Agresi Militer Belanda Kedua tanggal 19 Desember 1948 yaitu; Wakil Presiden RI Bung Hatta, Panglima Angkatan Udara Komodor R.S Suryadarma, Ketua BP KNIP Mr. Asaat, Menteri Sekretaris Negara Mr. A.G Pringgodigdo yang diasingkan pada tanggal 22 Desember 1948, dan kemudian pada tanggal 31 Desember 1948 penghuni bertambah dengan diasingkannya Ketua delegasi atau juru runding RI, M. Rum dan Menteri Pendidikan dan Pengajaran Ali Sastroamijoyo. Para pemimpin Republik diasingkan di Bangka hingga tanggal 6 Juli 1949.

Berghotel juga dikunjungi oleh tokoh tokoh dunia utusan KTN dan UNCI, utusan BFO, tokoh tokoh nasional dan lokal serta dari berbagai media internasional.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir 4 jam, tepatnya jam 18.30 tanggal 22 Desember 1948, iring-iringan pemimpin republik Indonesia yang diasingkan ke Bangka berhenti di depan sebuah bangunan kosong di puncak Bukit dekat Kota Mentok Bangka.

Pada saat kedatangan pemimpin Republik, kondisi hotel pegunungan atau berghotel terabaikan selama bertahun-tahun dan tampak lusuh serta menyedihkan. Beberapa renovasi sedang dilakukan, pintu dan jendela baru dicat (masih basah) tetapi lantainya tidak tersapu dan tidak ada lampu listrik atau air yang mengalir. Tidak ada satu pun perabot yang terlihat, bahkan kursi untuk diduduki.

Malam pertama itu rombongan Drs. Muhammad Hatta makan roti sambil berdiri di sekitar lampu minyak kecil. Untuk perlengkapan tidur masing-masing menerima kasur, bantal, selimut dan kelambu. Kelambu tidak bisa dipakai karena tidak ada tali dan paku untuk memasangnya. Tentu saja tidak ada kesempatan mandi karena tidak ada air.

See also  Dari Pangek Ke Teritip, Perjalanan Buddingh Diselimuti Suasana Mencekam!

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments