Dari Pangek Ke Teritip, Perjalanan Buddingh Diselimuti Suasana Mencekam!

IMG_20260803_132550

Oleh : Meilanto.


Setelah pada edisi sebelumnya Buddingh ke Kampung Baru Melewati jembatan panjang yang terbuat dari kayu, ia meneruskan
perjalanannya ke Kampung Pangek.

Mengutip pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 38-39, ia bersama rombongan diserang hujan badai.

Simak tulisannya:
Een paar uren van Jeboes, een eind weegs voorbij de kampong Pangie , overviel ons een zware donderbui van storm verzeld. De regens vielen bij stroomen uit de zwartbewolkte lucht, en vermeerderden de dikke duisternis van het eindeloos bosch, hetwelk echter telkens en bijna zonder tusschenpoozen door zulke vreeselijke bliksemschichten verlicht werd en van zulke vreeselijke donderslagen dreunde, dat de woorden van den Psalmist hunne toepassing vonden : “een vuur gaat voor Zijn aangczigt heen, en Zijne bliksems verlichten de wereld ! Het aardrijk ziet ze en beeft, en de bergen smelten als was voor het aangezigt des Heeren! Hij rijdt op de vlakke velden, ende aarde davert en de hemelen druipen voor Zijn aangczigt! De wateren zien Hem en beven, en de afgronden zijn beroerd ! De dikke wolken gieten water uit, en de bovenste wolken geven geluid! Gods pijlen gaan daar henen, en het geluid zijns donders is in het rond! Hij wandelt op de vleugelen des winds, en maakt de bliksems en den regen! Hij brengt den wind uit zijne schatkameren voort! De aarde beeft, als Hij ze aanziet, en, als
Hij de bergen aanroert, rooken ze! Hij maakt van de wolken Zijn’ wagen, en doet de zee en hare golven bruisen!” Bij eiken straal, die door het zwarte zwerk schoot, en bij eiken donderslag, die door het luchtruim ratelde, hoorden we een groot ge druisch en wild geschreeuw in het woud, hetwelk door de verschrikte wilde honden en andere dieren werd aangeheven, en somwijlen schoot een opgejaagde bosch- of water-rat, of een otter over den weg, terwijl een koebie r of vliegende hagedis van boom tot boom voorteilde. De k oei i e’s werden beangst, en gaven uit bijgeloof bij eiken bliksemstraal een’ luiden gil, als om het helle licht te verschrikken. Eindelijk bleven ze ontroerd stilstaan, toen er even achter ons een zware boomtak, door den storm geveld of door den bliksem getroffen, krakend en dreunend over den weg viel. Ze waren doornat, de goede lieden, en mijn tandoe of draagstoel gaf mij ook geene beschutting meer. De. regen sloeg er voor en aan de zijden in, en het dak begon als een zeef te lekken. Nog bleven de dragers staan en luis-terden naar den storm, die door het woud loeide, en de gerekte donderslagen, die door het gebergte rolden, en het brullen der opgejaagde zee, die op de nabijgelegen stranden bulderde. Het was een ontzettend uur, dat we in het bosch, ver van alle menschen en menschelijke woningen, doorbragteu. Telkens scheen het woud in brand te slaan en laaije vlammen uit de toppen der boomen uit te slaan, en telkens was het weder zwart en akelig om ons heen !… Eindelijk, eindelijk trok het onweer af, en vervolgden we weder den weg, die nu diep onder water stond.
Intusschen was de avond gedaald, en, toen we de kampong Teretip bereikt hadden, zagen we reeds de kalong’s (vliegende
vos, noetilio) en de vledermuizen (boerong-tikoes) op nachtelijken buit uitvliegen, en eenige hars-boomtakjes of ook met hars bestreken stokjes, als kaarsen, in de huisjes branden.

Maksudnya
Beberapa jam sebelum tiba di Jeboes, tak jauh melewati Kampung Pangie, kami tiba-tiba diserang hujan badai yang disertai angin kencang.

See also  14 April 1949. Dari Bangka, Mohamad Roem Bicara Atas Nama Presiden Pada Perundingan Roem-Royen Di Batavia.

Air hujan turun membanjir dari langit yang kelam pekat, menambah kegelapan hutan yang tak bertepi itu—namun hutan itu terus-menerus disinari kilatan petir yang dahsyat dan bergemuruh dentuman guntur yang mengerikan, hingga teringatlah firman dalam Mazmur:

Api menyala di hadapan-Nya, dan kilat menerangi dunia! Bumi melihatnya lalu gemetar, gunung-gunung meleleh seperti lilin di hadapan Tuhan! Ia melintas di atas hamparan bumi, maka bumi berguncang dan langit pun meneteskan air! Air melihat-Nya lalu gemetar, samudra pun terguncang! Awan yang tebal mencurahkan air, dan awan di angkasa bersuara! Anak panah Tuhan melesat, dan suara guntur-Nya bergema ke segala penjuru! Ia berjalan di atas sayap angin, menciptakan kilat dan hujan! Ia mengeluarkan angin dari perbendaharaan-Nya! Bumi gemetar apabila Ia memandangnya, dan apabila Ia menyentuh gunung-gunung, maka gunung itu pun berasap! Ia menjadikan awan sebagai kereta-Nya, dan membuat laut serta ombaknya bergemuruh!”

Setiap kali kilat menyambar langit yang hitam, dan guntur menggelegar di angkasa, kami mendengar suara gaduh dan jeritan liar dari dalam hutan—suara binatang buas dan anjing hutan yang ketakutan. Kadang-kadang terlihat tikus hutan, tikus air, atau berang-berang berlari melintasi jalan yang ketakutan, sementara bunglon terbang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Para pengangkut tandu menjadi sangat takut; karena takhayul, mereka berteriak keras setiap kali kilat menyambar, seolah hendak menakut-nakuti cahaya yang menyilaukan itu. Akhirnya mereka berhenti berdiri dengan gemetar, ketika tepat di belakang kami sebuah dahan pohon besar—entah tumbang diterjang angin atau tersambar petir—jatuh berdentum melintasi jalan.

Orang-orang baik itu basah kuyup sepenuhnya, dan tandu saya pun tak lagi mampu memberi perlindungan. Hujan menerpa dari segala arah, dan atapnya mulai bocor bagaikan saringan. Namun mereka tetap berdiri diam, mendengarkan deru angin yang menderu menerpa hutan, gemuruh guntur yang bergulung di pegunungan, serta raungan ombak yang menghantam pantai tak jauh dari sana. Sungguh jam yang mengerikan yang kami lalui di tengah hutan, jauh dari manusia dan tempat tinggal! Berkali-kali hutan tampak seolah terbakar hebat dan api menyembur dari pucuk-pucuk pohon, lalu seketika berubah kembali menjadi gelap gulita dan mencekam di sekeliling kami!

See also  Sejarah Asal Usul Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 02, Toponimi Pangkalpinang.

Hingga akhirnya, badai pun berlalu, dan kami kembali melanjutkan perjalanan di jalan yang kini tergenang air dalam. Sementara itu malam telah turun, dan saat kami tiba di Kampung Teretip (maksudnya Teritip; pen), kami sudah melihat kalong dan kelelawar mulai berterbangan mencari makan malam. Di dalam rumah-rumah penduduk, tampak dahan-dahan pohon damar atau batang kayu yang dilumuri damar menyala menerangi ruangan bagaikan lilin.


Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments