30 Agustus 1819, Pasukan besar Belanda dari Batavia tiba di Kota Mentok, pulau Bangka sebelum menyerang Palembang
Jelajah Bangka 30 August 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Kekalahan pada perang Menteng pada bulan Juni 1819 sangat menyakitkan bagi pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Jendral Hindia Belanda G.A.G.Ph. Van der Capellen bersama Panglima Angkatan Laut Admiral Constantinjn Johan Wolterbeek dan Panglima Angkatan Darat Mayjen Hendrik Merkus De Kock merencanakan penyerbuan kembali ke Palembang dengan kira kira 20 kapal perang dan hampir 1500 tentara.
Pasukan besar Belanda berangkat dari Batavia pada tanggal 22 Agustus 1819 dan pada tanggal 30 Agustus 1819 mereka tiba di Kota Mentok pulau Bangka.
Peperangan antara pasukan Kesultanan Palembang Darussalam dan pasukan Belanda terjadi pada tanggal 18 September hingga tanggal 30 Oktober 1819. Pertempuran besar-besaran terjadi di sepanjang sungai Musi dan di Kota Palembang.
Pasukan Belanda berhasil dipukul mundur dengan korban sekitar sepertiga dari seluruh kekuatan pasukan semula. Pada tanggal 3 dan 4 November 1819 pasukan Belanda telah berhasil dipukul mundur pasukan kesultanan Palembang sampai ke daerah Sungsang. Pasukan Belanda kemudian terus menyeberang menuju ke Kota Mentok pulau Bangka. Sesampai di Muntok pasukan Belanda dibagi menjadi tiga bagian pasukan, satu bagian pasukan yang luka-luka kembali ke Batavia, satu bagian pasukan bersama Admiral Constantinjn Johan Walterbeek berlayar ke Kepulauan Riau dan satu bagian pasukan lagi membantu pasukan yang ada di pulau Bangka untuk menumpas perjuangan rakyat Bangka yang saat itu dipimpin oleh Depati Bahrin.

Untuk lebih lengkapnya dalam buku M. O. Woelders, Het Sultanaat Palembang 1811-1825, ‘S-Gravenhade- Martinus Nijhoff 1975, halaman 19 dan 20 dijelaskan sebagai berikut:
“Na een veel te korte tijd van voorbereiding vertrekt op 22 augustus 1819 de expeditievloot van Batavia: twee oorlogsschepen, twee kanon neerboten, vier bewapende transportschepen en een aantal kleinere vaartuigen van Indonesische makelij.
De sterkte der landingstroepen bedraagt ruim negenhonderd man. Tegen het eind van de maand is de vloot ter rede van Muntok. Hier zullen nog vier oorlogsschepen, waaronder een fregat, en een aantal voor een deel nog van elders te requireren Indonesische vaartuigen aan de expeditie worden toegevoegd, terwijl de landmacht zal worden uitgebreid tot ruim veertienhonderd man.
Dit alles vergt tijd, terwijl bovendien het treffen van nadere voorzieningen in de uitrusting, die op vele punten gebreken vertoont, de manschappen nog geruime tijd in beslag neemt.
Ondertussen verleent een detachement van tweehonderd man landingstroepen er- overigens zonder veel succes – assistentie bij de bestrijding van de sedert Mun tinghe’s aftocht uit Palembang in verscheidene streken van het eiland, vooral rond Banka-Kota, uitgebroken onlusten, waar de op Banka gelegerde legereenheden volkomen machteloos tegenover staan”.

Maksudnya: “Setelah waktu persiapan yang jauh terlalu singkat, armada ekspedisi berangkat dari Batavia pada tanggal 22 Agustus 1819: dua kapal perang, dua kapal meriam, empat kapal angkut bersenjata, dan sejumlah kapal kecil buatan Indonesia.
Kekuatan pasukan pendarat berjumlah lebih dari sembilan ratus orang. Menjelang akhir bulan, armada tersebut berada di pelabuhan Muntok. Di sini, empat kapal perang lagi, termasuk sebuah kapal fregat, dan sejumlah kapal Indonesia yang sebagian masih harus dikerahkan dari tempat lain, akan ditambahkan ke dalam ekspedisi, sementara pasukan darat akan diperluas menjadi lebih dari seribu empat ratus orang.
Semua ini membutuhkan waktu, sementara itu, perbaikan lebih lanjut pada peralatan yang menunjukkan kekurangan di banyak titik juga menyita waktu para prajurit untuk jangka waktu yang cukup lama.
Sementara itu, sebuah detasemen berkekuatan dua ratus orang pasukan pendarat memberikan bantuan, meskipun tidak terlalu berhasil, dalam memadamkan kerusuhan yang pecah di beberapa wilayah di pulau tersebut sejak mundurnya Muntinghe dari Palembang, terutama di sekitar Bangka-Kota, di mana unit-unit tentara yang ditempatkan di Bangka sama sekali tidak berdaya menghadapinya.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
