5 Juli 1949. “Fonds Penjokong Pembangunan Djogjakarta” Diserahkan Di balai Gemeente Pangkalpinang

Kantor Keresidenan Bangka Belitung,_20260705_082955_0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam buku Yogyakarta-Bangka Menegakkan Kedaulatan Negara, 1948-1949, Akhmad Elvian dan Ali Usman, yang diterbitkan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, 2023, hal. 162 dan 163, bahwa: “Untuk mendukung kembalinya pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta, diadakan penggalangan dana mulai bulan Mei 1949 dengan pembentukan panitia yang terdiri dari Persatuan Wanita Indonesia (PERWANI), Persatuan Dagang Indonesia (PERDI), Serikat Nasional Indonesia (SENI), Serikat Kaum Buruh (SKB) dan Serikat Rakyat Indonesia (SERI).

Panitia ini dipimpin oleh Depati Ali Asik sebagai ketua dan Daniali Abdullah (Wakil Ketua Serikat Kaum Buruh (SKB) dan redaktur “Menara Buruh”). Sebagai pembina dan penasehat dipercayakan kepada Masyarif Datok Bendaharo Lelo (Ketua Dewan Bangka) dan Demang Sidi Minik (Kepala Pemerintahan Pangkalpinang). Panitia menargetkan akan mengumpulkan f. 200.000 (gulden) dan akan diserahkan langsung kepada Presiden Republik Indonesia Sukarno”.

Untuk mendukung kembalinya pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta kemudian dibentuk panitia lokal di seluruh Pulau Bangka meliputi Pangkalpinang, Petaling, Sungaiselan, Sungailiat, Baturusa, Belinyu, Toboali, Koba, Mentok dan Jebus.

Metode pengumpulan dana dilaksanakan dengan beberapa cara, yakni melalui sumbangan perorangan, melalui penjualan barang, kegiatan pertunjukan bioskop, pertandingan olahraga dan pertunjukan keroncong di pasar.

Pengumpulan dana melalui penjualan dilakukan melalui Dua jenis penjualan yakni penjualan bunga dan penjualan Dasi kupu-kupu berwarna merah putih.

Salah satu cara menarik untuk pengumpulan massa memudahkan sumbangan adalah dengan mengadakan pertandingan olahraga. Kemungkinan besar olahraga yang ditandingkan adalah sepak bola, seperti yang dilakukan di Pangkalpinang pada akhir bulan Mei 1949.

Penggalangan dana juga dilakukan melalui pemutaran film di Bioskop. Metode terakhir dalam pengumpulan dana dilakukan melalui pertunjukan musik keroncong di pasar-pasar.

See also  26 Mei 1869, J.H.L de Vrijer, Bertugas Sebagai Komandan Pertama Kapal Suar Pulau Lusipara atau Maspari.

Selanjutnya dalam buku yang sama Yogyakarta-Bangka Menegakkan Kedaulatan Negara, 1948-1949, Akhmad Elvian dan Ali Usman, Dinas Kebudayaan DIY, Yogyakarta, 2023 menulis tentang laporan Politiek Verslag over de 1e helf Juli 1949 van de Residentie Bangka en Billiton nomor 364/Geheim Eigenhandig tanggal 25 Juli 1949, dari Residen Bangka Belitung Dr. C.Lion Cachet yang melampirkan satu dokumen penting berjudul: “Perhitungan” Kas Pusat Panitia Pembangunan “Djogdjakarta” Pangkalpinang”, tanggal 22 Juni 1949.

Laporan itu mengungkapkan fakta, bahwa rakyat Bangka berhasil mengumpulkan dana sebesar f 90.170.18 (gulden) dari kegiatan pengumpulan dana untuk mendukung kembalinya pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta.

Tiga besar daerah penyumbang tercatat berasal dari Pangkalpinang, Mentok dan Sungailiat. Dana diserahkan sehari sebelum kembalinya pemimpin Republik Indonesia yang diasingkan di Bangka ke Yogyakarta yaitu pada Tanggal 5 Juli 1949 bertempat di Balai Gemeente Pangkalpinang disaksikan sekitar 3000 rakyat Bangka dan diserahkan langsung kepada Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno.

Sumbangan yang sama juga dilakukan oleh Rakyat Belitung dengan dana yang diserahkan sebesar 20.000 gulden.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments