Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Salah satu manuskrip yang cukup tua tentang Sejarah Bangka adalah “Tjerita Asal Muasal Kedjadian Poelau Bangka” yang ditulis dengan huruf Arab Melayu atau masyarakat Bangka menyebutnya Arab Gundul.
Manuskrip ditulis oleh Toemoenggong Kerta Negara, sebagaimana dalam Het Sultanaat Palembang 1811-1825, M. O. Woelders, ‘S-Gravenhage- Martinus Nijhoff 1975, Halaman 43: “Als auteur wordt in de aanhef en in de colofon genoemd: “Toemoenggong Kerta Negara”. In de colofon vindt men bovendien de datum vermeld waarop het afschrift tot stand kwam: “Telah tersalin ini tjerita kapada tahoen Holanda 2 July 1861 tahoen Melajoe 23 Dzoelhadji 1277” De naam van de afschrijver wordt niet genoemd. Het geschrift behandelt in 29 hoofdstukken (fatsal) de geschiedenis van Banka tot 1820, waarbij ook aan de bestuursorganisatie en de rechtsbedeling aandacht wordt ge schonken. Zo zijn er onder meer de officiële instructies van de sultan van Palembang voor de verschillende hoofden op Banka in opgenomen”.
Maksudnya pada pembukaan dan kolofon, penulis disebutkan: “Toemoenggong Kerta Negara”. Selain itu, kolofon menyebutkan tanggal pembuatan salinan: “Telah tersalin ini tjerita kapada tahoen Holanda 2 July 1861 tahoen Melajoe 23 Dzoelhadji 1277” Nama juru tulis tidak disebutkan. Dokumen ini mencakup sejarah Banka hingga tahun 1820 dalam 29 bab (fatsal), dengan memperhatikan organisasi administrasi dan administrasi peradilan. Misalnya, dokumen ini memuat instruksi resmi Sultan Palembang untuk berbagai kepala di Banka.

Fisik manuskrip berukuran 34 x 21 cm, 145 halaman dengan 34 baris. Kertas tersebut memiliki tanda air berupa singa Belanda bermahkota dengan tulisan di pinggir halaman “Concordia res parvae crescunt” dan juga nama produsen Den Haag, H. E. de Charro & Zonen. 34 Lembaran tunggal yang berisi semacam kata penutup dan daftar isi ditulis oleh V (an) d (er) L (ey). 35 Teks ditulis dalam aksara Latin.
Manuskrip Toemoenggong Kerta Negara yang mulai ditulis pada tanggal 2 juli 1861 disumbangkan oleh Residen Bangka Ch.M.G.A.M Ecoma Verstege pada tanggal 28 September 1881 kepada Perpustakaan Universitas Leiden Belanda (Lihat E.P. Wieringa, 1990. Carita Bangka, Het verhaal van Bangka, Semaian 2, halaman 11).
Tumenggung Kartanegara bernama Arifin, adalah seorang hoofd Jaksa pada masa Hindia Belanda yang karena jasanya membantu mengatasi perlawanan Depati Amir serta kesetiaannya yang luar biasa kepada pemerintah Kolonial Belanda selain kenaikan pangkat menjadi Tumenggung berdasarkan Keputusan Pemerintah tanggal 25 Februari 1851 nomor 1, Hoofd Jaksa Arifin juga diberikan hak untuk mengubah nama menjadi Kertanegara berdasarkan Keputusan Pemerintah Belanda nomor 5 tanggal 2 Desember 1851.
Sedangkan gelar Abang yang disematkan kepadanya sehingga Bernama Abang Arifin berdasarkan buku Barin Amir Tikal, Karya A.A Bakar, 1969, halaman 32 disebutkan: Arifin bukan penduduk Bangka asli, kakeknya bernama Kari berasal dari Batusangkar, Minangkabau, Dinegerinja Kari adalah guru agama Islam, tetapi karena hendak mengubah adat istiadat rakjat negerinja, jang tak lekang dipanas tak lapuk dihudjan, maka ia dibentji orang, la pindah ke Singapura bersama keluarganja. Dari Singapura ia pindah lagi ke Mentok, Puteranja bernama Muhammad kemudian mendapat seorang putera tunggal jang dinamai Arifin. Setelah dewasa Arifin kawin dengan Jang Hasmah binti Abang Muhammmad bin Abang Kumbang, dan karena perkawinan ini Arifin diberi izin oleh kaum bangsawan di Mentok untuk memakai gelar Abang, sehingga ia selandjutnja memakai nama Abang Arifin.

Hoofd Jaksa Abang Arifin bersama dengan pasukan militer Belanda dipimpin oleh Letnan Campbell, dan Administratur distrik Pangkalpinang De Bley pernah berupaya menangkap Depati Amir, tanggal 17 Desember 1848 di rumah Demang Abdurrasyid. Depati Amir berhasil meloloskan diri dari kepungan dan penyergapan melalui sungai Rangkui yang membelah Pangkalpinang. Beberapa hari kemudian ibunya Dakim, putera angkatnya Baudin (Baidin) dan saudaranya Ipah serta empat orang pengikutnya berhasil ditangkap oleh Batin Mendobarat, Batin Mendotimur, Batin Merawang dan Batin Penagan setelah mereka mendapat persenjataan dari Hoofd Jaksa Abang Arifin.
*Keterangan gambar: Halaman Pertama, pasal yang pertama, manuskrip Toemoenggong Kerta Negara,
sumber: KITLV Leiden.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia