6 Juli 1949, Pemimpin Republik yang Diasingkan di Bangka Kembali Ke Yogyakarta.

IMG_202607187_09024754

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Perjuangan diplomasi yang dilakukan di pulau Bangka dan di markas PBB, Washington DC untuk menegakkan kembali Kedaulatan Negara setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 membawa hasil dalam Perundingan Rum-Royen tanggal 7 Mei 1949, yang salah satu butirnya yaitu kembalinya pemerintahan dan pemimpin Republik Indonesia ke Yogyakarta.

Dalam buku Memoir Mohammad Hatta disebutkan bahwa ”pada suatu waktu ketika kami datang (dari Menumbing, Mentok) ke Pangkal Pinang untuk bertemu KTN yang datang dari Jakarta, Mr. Gafar Pringgodigdo berkata, Aku merasa ada Dua sumber percaturan internasional di dunia ini, yaitu (di) United Nations dan Bangka” (Hatta, 1979:302).

Sebagai pelaksanaan dari butir Kesepakatan Rum-Royen yang menyetujui kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta, dilaksanakan perpisahan antara pemimpin Republik yang diasingkan di Bangka di Pesanggrahan BTW Mentok, Tanggal 4 Juli 1949 dihadiri sekitar 1000 orang.

Setelah acara perpisahan, Soekarno, Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Rum, Ali Sastroamijoyo, Mr. Assaat, Mr. AG. Pringgodigdo dan Komodor Suryadarma meninggalkan Mentok menuju Pangkalpinang diiringi rasa haru dan kesedihan.

Keesokan harinya pada Tanggal 5 Juli 1949 di Balai Gemeente Pangkalpinang dilakukan perpisahan dengan masyarakat Pangkalpinang dan Masyarakat Bangka umumnya dihadiri sekitar 3000 orang.

Pada saat itu diserahkan uang sebesar 90.170.18 gulden untuk “Fonds Penjokong Pembangunan Djogjakarta” hasil penggalangan dana masyarakat dari 10 wilayah yaitu Pangkalpinang, Petaling, Sungaiselan, Sungailiat, Baturusa, Belinyu, Toboali, Koba, Mentok dan Jebus. Dana diserahkan langsung ke Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno.

Hari terakhir di Pulau Bangka, setelah menginap di House Hill BTW Pangkalpinang dari tanggal 4-6 Juli 1949 (Sekarang Museum Timah Indonesia Pangkalpinang), pada hari Rabu tanggal 6 Juli 1949, kesibukan kelihatan di Kota Pangkalpinang. Orang berdatangan ke Lapangan Udara Kampung Dul, baik masyarakat Bangka, pejabat Belanda maupun pejabat Bangka.

See also  Tradisi 7 Likur dan Refleksi Akhir Ramadhan.

Pesawat datang dari Jakarta membawa Delegasi Republik; Maria Ulfah Santoso, Dr. Darmasetiawan, Prof. Supomo dan Mr. Sudjono, sekretaris delegasi RI telah tiba di Lapangan Udara Kampung Dul untuk datang menjemput. Para pemimpin Republik Indonesia yang ada di Bangka, yakni Soekarno, Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Rum, Ali Sastroamijoyo, Mr. Assaat, Mr. AG. Pringgodigdo dan Komodor Suryadarma akhirnya meninggalkan pulau Bangka setelah 197 hari berada di tengah-tengah masyarakat yang sangat mencinta Republik Indonesia.

Sebelum berangkat rombongan berpamitan dengan masyarakat Pangkalpinang dan masyarakat Bangka umumnya, bertempat di Balai Gemeente Pangkalpinang (sekarang berseberangan dengan Masjid Al Muhajirin Jalan Balai, kini Jalan KH. Hasan Basri Sulaiman). Pada saat itulah Bung Karno mengucapkan sloka yang menggugah semangat kebangsaan, bahwa “Dari Pangkalpinang Pangkal Kemenangan Bagi Perjuangan”.

Pesawat UNCI yang membawa para pemimpin Republik Indonesia mendarat di Lapangan udara Maguwo jam Satu siang. Kedatangan Presiden, Wakil Presiden, beserta rombongan mendapat sambutan yang hangat dari rakyat Yogya. Mulai dari Lapangan Udara Maguwo sampai di istana negara, jalan-jalan telah penuh sesak dengan rakyat yang menyambut kedatangan mereka.

Bukan hanya di jalan-jalan saja, bahkan di atas genteng rumah, di atas pohon-pohon pun rakyat berdiri menantikan kedatangan Presiden, Wakil Presiden, dan para pemimpin lainnya yang sangat mereka cintai (SESKOAD, 1991:313, 316).

Bangka, dan Yogyakarta merupakan satu simpul perjuangan kemerdekaan. Yogjakarta menurut Bung Karno menjadi termasjhur oleh karena djiwa-kemerdekaannya. Hidupkanlah terus djiwa-kemerdekaan itu, sedangkan Bangka menurut Bung karno: “Rakjat Bangka njata bersemangat republikein, njata berkehendak Bangka masuk dalam daerah Republik. Seseorang pemimpin rakjat Bangka yang tidak berbuat sesuai dengan kehendak rakjat Bangka itu, dan berbuat memisahkan rakjat Bangka dari Republik, adalah berbuat bertentangan dengan demokrasi, bahkan mengchianati demokrasi itu…Merdeka, Mentok, 21/2 ’49, Soekarno, Pres.

See also  29 Juni 1884, Akhir Pemerintahan Residen Bangka Charles Matthieu George Arinus Marinus Ecoma Verstege.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments