29 Juni 1884, Akhir Pemerintahan Residen Bangka Charles Matthieu George Arinus Marinus Ecoma Verstege.

Kantor Keresidenan Bangka Belitung,_20260629_071320_0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, CECH, CIRBC *)


Charles Matthieu George Arinus Marinus Ecoma Verstege atau sering ditulis Residen Ch.M.G.A.M. Ecoma Verstege dan sering hanya ditulis Ecoma Verstege, adalah salah seorang Residen Bangka (Banka en onderhorigheden) pada saat ibukota keresidenan masih berada di Mentok.

Ch.M.G.A.M. Ecoma Verstege memerintah cukup lama sekitar 6 tahun, dari tanggal 3 Mei 1878 hingga 29 Juni 1884, sehingga banyak peninggalan bangunan fisik dan non fisik dalam catatan sejarah pemerintahannya.

Ecoma Verstege menggantikan residen Edouard Auguste Jean Dibbets yang telah memerintah lebih awal di Mentok Keresidenan Bangka selama 3 tahun pada tanggal 10 Januari 1875 hingga 3 Mei 1878.

Pengalaman Ecoma Verstege pada pemerintahan cukup banyak, dimulai saat menjadi Asisten Residen Billiton (Belitong) pada tahun 1868 hingga tahun 1875 dan menjabat sebagai Residen Timor dari tahun 1875 hingga tahun 1878.

Setelah masa tugasnya berakhir pada tanggal 29 Juni 1884, tonggak kepemimpinan Keresidenan Bangka dan pulau pulau kecil yang melingkupinya kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Abraham Sol, yang menjabat dari tahun 1884 hingga tahun 1888.

Salahsatu peninggalan Residen Ecoma Verstege yang bisa kita lihat hingga sekarang adalah Kolam Pelabuhan atau Limbung di pesisir Kota Mentok, dibangun sekitar Tahun 1879.

Dalam buku Riwajat Poelau Bangka, Berhoeboeng dengan Palembang oleh Raden Achmad, 1936, halaman 96 dijelaskan tentang negeri Mentok yang ramai dan Sungai Mentok tempat berlabuh kapal dagang penuh sesak dan ada yang berlabuh di laut.
Akan tetapi kapal yang berlabuh di laut banyak yang terdampar dan pecah akibat angin ribut: “Sebab itoe Toean Demang Abang Moehammad Ali bermoesjawarat dengan padoeka toean Resident (maksudnya Ecoma Verstege) boeat melindoengi ketjilakaan jang sematjam itoe. Kepoetoesannja, toean Demang Abang Moehammad Ali dengan Abang Zainal Abidin, Batin Muntok, dititahkan membangoenkan seboeah pelaboehan perahoe baroe disebelah barat dari kantor toean Kemendoer Muntok”.
Pelabuhan baru inilah yang disebut Masyarakat dengan Limbung.

See also  31 Mei 1949, Tadjoeddin Noor Ketua Panitia Penyambutan Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta Menghadap Soekarno ke Bangka

Residen Ecoma Verstege juga sangat memperhatikan literasi dengan mengumpulkan dan menyerahkan manuskrip karya seorang guru di Mentok, Haji Idris dan tulisan Abang Arifin Tumenggung Kartanegara I, tentang sejarah Bangka yang ditulis dengan aksara Arab Melayu ke Negeri Belanda.

Manuskrip Karya Haji Idris dan Abang Arifin Tumenggung Kartanegara I disumbangkan oleh residen Ch.M.G.A.M Ecoma Verstege pada tanggal 28 September 1881 kepada Perpustakaan Universitas Leiden Belanda (Lihat E.P. Wieringa, 1990. Carita Bangka, Het verhaal van Bangka, Semaian 2, halaman 11.

Dua manuskrip di atas sangat penting bagi kepentingan historiografi awal sejarah, khususnya tentang Sejarah Pulau Bangka.

Ecoma Verstege juga seorang penggemar botani, Ia sering mengirimkan spesimen tanaman dari pulau Belitung dan Bangka ke Kebun Raya Bogor. Sebagai pengakuan atas kontribusi botaninya, namanya diabadikan pada spesies tanaman Palaquium verstegei Burck. Palaquium verstegei Burck adalah pohon kanopi hijau abadi berukuran besar yang termasuk dalam famili Sapotaceae.

Dalam taksonomi botani modern, spesies ini secara luas diklasifikasikan sebagai sinonim dari Palaquium rostratum (Miq.) Burck, spesies yang awalnya dikumpulkan di Pulau Bangka.

Salahsatu species Palagium yang dikenal adalah Palaquium bancanum Burck yaitu sinonim dari spesies tumbuhan hutan hujan tropis yang saat ini secara ilmiah lebih dikenal dengan nama Palaquium rostratum (Miq.) Burck.

Tumbuhan ini masuk dalam famili Sapotaceae (suku sawo-sawoan) dan secara umum di Indonesia dikenal dengan nama Kayu Nyatoh.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments