6 November 1820, Letnan Kolonel Keer, Komandan Sipil dan Militer Bangka Tiba di Pangkalpinang dari Toboali Setelah Merancang Cetak Biru (ontwerp) Benteng Toboali
Jelajah Bangka 6 November 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Setelah pertempuran di Pulau Tinggi pada tanggal 10 Oktober 1820, Letnan Kolonel Keer, Komandan sipil dan militer Bangka beserta pasukan ekspedisinya berangkat menuju Kota Toboali dan tiba pada tanggal 13 Oktober 1820.
Sebelumnya para pejuang rakyat Bangka yang menguasai Benteng Toboali telah dikalahkan oleh Kapten Du Perron yang menggerakkan pasukannya dari kota Mentok.
Di Toboali Letnan Kolonel Keer, segera memerintahkan untuk melakukan pengintaian ke arah Nieri (Nyireh), dan mengetahui bahwa pada tanggal 23 Oktober 1820 Batin Ganing telah membubarkan pasukan dan membuang persenjataanya ke Sungai Nyireh karena kecewa setelah mengetahui kekalahan Raden Keling dan Raden Ali dalam pertempuran di Pulau Tinggi.
Komandan Militer Belanda Letnan Kolonel Keer juga kemudian memutuskan untuk tidak melakukan penyerbuan ke benteng di Batin Nyireh karena mengingat pengalaman sejarah setelah perang sengit di Bangkakota, tanggal 17 September 1819 yang berakibat banyaknya prajurit yang gugur karena luka luka dan kelelahan.
Selama berada di Benteng Toboali dan karena kondisi benteng lama (staketsel) sudah tidak memadai sebagai pos pertahanan, maka Letkol Keer selaku komando militer sekaligus pemimpin sipil di Keresidenan bangka menugaskan Kapten Van der Wijck sebagai insinyur utama untuk merancang cetak biru (ontwerp) pangkalan militer yang baru di wilayah tersebut, maksudnya cetak biru Benteng Toboali telah disusun pada bulan Oktober Tahun 1820.
Setelah rancangan awal selesai, pengerjaan fisiknya diserahkan kepada Letnan Zeni Van Waay. Letkol Keer juga memerintahkan kepada Kapten Van der Wijck untuk menginspeksi pos-pos militer lain di Pulau Bangka demi menyusun sistem pertahanan yang terintegrasi di Keresidenan Bangka.
Untuk menyelaraskan kebutuhan persenjataan di setiap pos atau benteng pertahanan. Kapten Van der Wijck diperintahkan melakukan perjalanan dinas bersama seorang perwira artileri Theijssen (A. Meis; 1842:150) .

Pada tanggal 25 Oktober 1820, Letnan Kolonel Keer berangkat menuju Pangkalpinang melalui jalur laut. Dalam perjalanan menuju Pangkalpinang pada tanggal 28 dan 29 Oktober, Letkol Keer sempat berpatroli di antara Kepulauan Lepar, namun tidak menemukan apa pun kecuali tampak di kejauhan perahu bajak laut yang ketakutan dan melarikan diri.
Pada tanggal 6 November 1820, Letkol Keer mendarat di Kota Pangkalpinang. Dari Pangkalpinang rencananya Letnan Kolonel Keer akan menuju Ibukota Keresidenan di Kota Mentok melalui jalur laut. Akan tetapi akibat bertiupnya Angin Sakal, perjalanan melalui laut tidak dapat dilakukan dan diputuskan untuk kembali ke Kota Mentok melalui jalur darat.
Dalam Dunia Pelayaran, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Angin Sakal adalah angin yang bertiup langsung menghantam haluan (depan) kapal. Hal ini dapat membuat kapal menjadi berat, sulit bergerak maju, dan menghambat laju perjalanan.
Akibat Angin Sakal, Letnan Kolonel Keer harus melanjutkan perjalanan menuju Kota Mentok melalui jalur darat pada tanggal 25 November 1820. Sepanjang perjalanan darat Letkol Keer tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan atau musuh di sepanjang jalan antara Kota Pangkalpinang dan kota Mentok, meskipun Ia hanya dikawal oleh satu detasemen kecil.
Laporan seperti ini dibuat Belanda, mungkin karena Letkol Keer dibayangi ketakutan akan pengalaman sejarah ketika Residen Bangka M.A.P Smissaert disergap pasukan Depati Bahrin Ketika pulang inspeksi dari Pangkalpinang ke Kota Mentok pada tanggal 14 November 1819 dan sang residen mengalami peristiwa tragis kematian dengan dipenggal kepalanya oleh pejuang Bangka (Elvian, 2018:79).
*Keterangan gambar:
“Plan van het Fort Toboaly” digambar oleh P. Hermann, Directie van fortification, Tahun 1825, Koleksi National Archief Den haag.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
