6 September 1820, Letnan Kolonel Keer tiba di Sungailiat dalam rangka menumpas perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin Depati Bahrin

Depati Barin Depati Amir

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam rangka menumpas perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin Depati Bahrin yang terus bergerilya, pada tanggal 6 September 1820, Letnan Kolonel Keer tiba di Sungailiat dengan keyakinan bahwa para bajak laut yang telah menjarah Baturusa dan bertahan di Sungai Merawang masih terkepung di sana. Namun, ia harus kecewa setelah mengetahui bahwa Letnan Guichard, bertentangan dengan instruksi yang diberikan kepadanya, telah memilih untuk meninggalkan Sungai Merawang.

Para bajak laut memanfaatkan situasi tersebut untuk meloloskan diri dengan perahu-perahu mereka. Dalam catatan Belanda Depati Bahrin atau disebut Batin Barien sering disebut sebagai kelompok pemberontak yang bekerjasama dengan bajak laut.

Selama keberadaan para bajak laut di Merawang, kekuatan kaum pemberontak di bawah pimpinan Batin Barien dan Roessie tumbuh sedemikian rupa sehingga mereka tidak segan-segan menampakkan diri di sekitar Sungai Liat, mengganggu para pekerja tambang Merawang di mana-mana, dan bahkan membakar kampung Cingal sesaat sebelum kedatangan sang Mayor (Letnan Kolonel Keer) di Sungai Liat.

Pada tanggal 7 September, sang Mayor berangkat ke Merawang untuk memeriksa sarana pertahanan di sana; ia mengizinkan para pekerja tambang Tionghoa untuk mempersenjatai diri mereka guna melawan para bajak laut. Pada tanggal 11, ia tiba di Pangkalpinang, di mana ia mendapati masyarakat Toa-Tono (Tuatunu) serta orang-orang Tionghoa di sana bersedia menyandera dan mengusir para bajak laut dari lingkungan mereka.

Desas-desus dan laporan yang hampir pasti menunjukkan bahwa saat ini Mendara—sebuah kampung tua dan tempat tinggal favorit Batin Barien, telah menjadi tempat berkumpulnya para bajak laut. Di sana juga terdapat meriam, timah, dan garam yang dijarah dari Baturusa, serta masih ada beberapa perahu musuh yang bersandar di Merawang.

See also  MANGKOL Sekarang, Bukan MANGKOL Yang Dulu

Oleh karena itu, Kapten Lejean menerima perintah untuk bergerak pada tanggal 12 September membawa detasemen berkekuatan 80 orang Eropa dan 100 orang Tionghoa dari Sungai Liat, melalui Layang, Manka, dan Jemoen, menuju Mendara.

Sementara itu, Kapten Weinrich diperintahkan untuk berbaris dari Pangkalpinang membawa detasemen berkekuatan 40 orang Eropa dan 50 penduduk asli Bangka, melalui Toa-Tono dan Ayer-Dingien, menuju tempat yang sama.

Kedua detasemen tersebut harus bergerak menyerbu Mendara pada pagi hari tanggal 17 September 1820. Letnan Kolonel sendiri memastikan bahwa ia akan tiba di Mendara pada waktu yang bersamaan dengan Kapten Lejean dan Kapten Weinrich dengan mendayung menyusuri sungai menggunakan perahu-perahu kecil.

Gerakan terpadu ini berjalan sesuai harapan. Berbagai detasemen bergerak maju melawan Mendara pada waktu yang telah ditentukan dan hanya sempat melepaskan beberapa tembakan senapan ke arah musuh yang melarikan diri. Tiga meriam dari Baturusa dan beberapa barang berharga rongsokan lainnya menjadi rampasan perang yang ditemukan di Mendara. Kapten Weinrich tidak mengalami hambatan dalam pergerakannya maju.

Sebaliknya, Kapten Lejean harus berjuang melawan banyak kesulitan di jalan dan sepanjang barisannya terus diganggu oleh beberapa tembakan senapan dari balik pepohonan dan semak-semak, yang menewaskan salah satu orang Tionghoanya dan melukai dua prajurit sayap (flankeur) Eropa.

Di antara Layang dan Manka, ia menemukan sebuah benteng yang menembakinya dengan senapan Donderbussen, namun hal itu tidak menahannya lama karena benteng tersebut segera diserbu dengan cepat dan direbut tanpa kerugian apa pun.

Letnan pribumi Wongsio dan prajurit senapan (fuselier) pribumi Sidin adalah yang pertama memanjat dinding pertahanan. Atas keberhasilan ekspedisi ini, Letnan Kolonel Keer memberikan pujian khusus kepada Kapten Infanteri Lejean dan Kapten Zeni Van Der Wijck.

See also  4 Juli 1949, Perpisahan Pemimpin Republik Dengan Masyarakat Mentok di Pesanggrahan BTW Mentok.

*Keterangan gambar:
Depati Bahrin dan Keluarganya di Mendara.
Sumber: Franz Epp, Schilderungen aus Ostindiens Archipel, Heidelberg: J.C.B. Moh, 1841.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments