7 Oktober 1946, Dr. H.J. van Mook Bolak Balik Batavia ke Pangkalpinang Untuk Mengikuti Konferensi dan Menikmati Kenyamanan dan Keindahan Kota Pangkalpinang
Jelajah Bangka 7 October 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Dr. Van Mook adalah Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda sekaligus pemimpin NICA (Netherlands Indies Civil Administration) dan pemrakarsa Konferensi Pangkalpinang tanggal 1-12 Oktober 1946.
Delapan bulan sebelumnya, Pasukan Sekutu yang didalamnya membonceng tentara NICA telah kembali menguasai pulau Bangka yaitu pada Tanggal 11 Februari 1946. Kota Pangkalpinang kemudian jatuh ke tangan tentara Sekutu dan NICA, tanggal 14 Februari 1946. Mengingat Kota Pangkalpinang telah dikusai kembali oleh Sekutu dan NICA maka dengan leluasa dilaksanakan Konferensi Pangkalpinang sebagai kelanjutan dari Konferensi di Malino Sulawesi Selatan.
Kota Pangkalpinang adalah satu Kota yang menarik bagi orang orang Eropa sebagaimanan keterangan Vol. K. van Emmerik, Private first class 5th company III (7) Battalion Regiment Stoottroepen, judul catatan “Landing on Banka, From Muntok to Pangkalpinang,
…Mendekati Kota Pangkalpinang, Kami sadar, kami memasuki tempat pemerintahan Indonesia di pulau ini. Pangkalpinang kota yang kaya dengan bangunan-bangunan gaya Eropa. Kami bermarkas di sebuah bangunan besar berarsitektur indah, bekas rumah dinas perusahaan tambang Timah, BTW. Walaupun kami tinggal di kota, di gedung yang bagus, tetapi kami harus selalu waspada penuh setiap detik. Bahkan sepuluh hari pertama, berganti bajupun kami tidak bisa. Dapat beristirahat malam hari sungguh merupakan kemewahan yang sudah lama tidak kami dapatkan.
It is nothing but guard- duty, day and nights, especially the nights! Blinking one eye, pinching it shut, kipeping it shut, blinking your eyes nine times fighting to stay awake to doze off at the tenth effort…..
Begitu juga saat Dr. Van Mook, Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda sekaligus pemimpin NICA (Netherlands Indies Civil Administration) harus bolak balik Pangkalpinang-Batavia pada tanggal 7 dan 8 Oktober 1946. D.J, Van Wijnen dalam buku Werkelijkheidszin Der Minderheden, diterbitkan tahun 1946 oleh Regeerings Voorlichtings Dienst pada Bijlage III halaman 12 dan 13 menyatakan
”… pengaturan konferensi dibuat sedemikian rupa sehingga mereka selalu menyantap semua makanan bersama-sama selama berada di Pangkalpinang, dan selama jam makan di rumah residen ini pula banyak terlihat adanya pendekatan yang baik.

Jika kita mengenang suasana Pangkalpinang, maka kita juga perlu menyoroti sambutan yang luar biasa ramah yang diberikan oleh penduduk Bangka kepada para peserta konferensi. Sebuah keramahan yang turut menciptakan kesempatan untuk menemukan sedikit hiburan setelah berjam-jam atau berhari-hari bermusyawarah, melalui kunjungan wisata ke perusahaan timah atau kegiatan lainnya.
Kunjungan-kunjungan dan pertemuan-pertemuan santai ini membuat pendekatan antardelegasi berjalan dengan jauh lebih luwes, sehingga secara tidak langsung hal ini pun turut berkontribusi pada keberhasilan konferensi.
Untuk menciptakan suasana yang baik pada konferensi tersebut, Dr. Van Mook juga harus meninggalkan Konferensi di Pangkalpinang selama satu hari agar dapat menghadiri musyawarah di Batavia. Pada tanggal 7 Oktober, Letnan Gubernur Jenderal kembali ke Jawa dengan pesawat terbang, namun keesokan paginya Ia sudah berada kembali di Bangka.
Selama ketidakhadirannya, konferensi dipimpin oleh Tuan Mr. K. J. Enthoven, penasihat luar biasa Letnan Gubernur Jenderal:
“…Tot het scheppen van een goede sfeer op de conferentie heeft Ook Dr. Van Mook heeft, om bij dit overleg te Batavia aanwezig te kunnen zijn, de conferentie te Pangkalpinang gedurende één dag moeten verlaten. Op 7 October is de Lt. G.-G. namelijk per vliegtuig naar Java teruggekeerd, doch den volgenden morgen was hij reeds weer op Bangka. Gedurende zijn afwezigheid presideerde de heer Mr. K. J. Enthoven, buitengewoon adviseur van den Lt. G.-G., de conferentie.(Wijnen, 1946:13).
Hari-hari di bulan Oktober 1946 menunjukkan bahwa Pangkalpinang bukan sekadar satu titik geografis di peta Indonesia maupun dunia. Kota ini adalah saksi bisu sebuah drama sejarah: di mana keindahan arsitektur, diplomasi makanan yang mewah (Gastrodiplomasi), dan mondar-mandirnya pesawat sang Gubernur Jenderal, dan delegasi Konferensi Pangkalpinang di udara Kota Pangkalpinang yang kita cintai.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
