28 Juni 1921, Makam Bayi Belanda Berusia 10 Bulan Bernama Henk Runschotel di Kerkhof Pangkalpinang
Admin 28 June 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, CECH, CIRBC *)
Terdapat satu kompleks makam di Kota Pangkalpinang yang dalam bahasa Belanda disebut Kerkhof (orang Bangka menyebutnya Pendem Belande) dan merupakan kompleks pemakaman umum, karena di samping dimakamkan orang Belanda, dimakamkan juga orang dari berbagai bangsa. Kompleks makam terletak di Jalan Hormen Maddati.
Kampung atau kawasan tempat keberadaan makam atau Kerkhof kemudian dikenal masyarakat Pangkalpinang dan masyarakat Bangka umumnya dengan sebutan Kampung Kerkhof.
Letak astronomis Kerkhof berada pada 02º 0791 7111 LS dan 106º 061 47511 BT (48 M 0623206 mU-9764211 mT). Pada makam atau Kerkhof di Jalan Hormen Maddati terdapat sekitar 102 makam, terdiri atas makam orang Belanda, makam orang Jepang dan makam orang Indonesia.
Salahsatu makam orang Belanda yang masih dapat dibaca jirat makamnya dan tertulis dengan kalimat yang sangat indah yaitu; Hier Rust Onze Jongste Heveling Henk Runschotel Geb. Pangkalpinang 22-8-20, Overl. 28-6-21”. Bila diterjemahkan maksud jirat tersebut adalah: Hier Rust berarti Di sini beristirahat (padanan dari Here Rests atau R.I.P); Onze Jongste: berarti (anak) bungsu kami/(anak termuda) kami; Heveling: Kata ini merupakan bentuk variasi lama atau ejaan dari lieveling, yang berarti kekasih hati atau anak tersayang, selanjutnya tertulis Henk Runschotel: berarti nama dari bayi atau anak yang meninggal tersebut; kemudian tertulis Geb. (Geboren): berarti Lahir di Pangkalpinang pada tanggal 22 Agustus 1920 dan terakhir tertulis: Overl. (Overleden) berarti meninggal dunia pada tanggal 28 Juni 1921.

Secara keseluruhan maksud tulisan pada jirat makam tersebut adalah: “Di Sini Beristirahat Anak Bungsu Kami Tersayang, Henk Runschotel. Lahir di Pangkalpinang 22 Agustus 1920, Meninggal 28 Juni 1921.“. Sayangnya pada jirat makam tersebut tidak dapat diketahui nama kedua orangtua bayi Henk Runschotel dan apa jabatan orangtuanya di pulau Bangka saat itu.
Terdapat Dua makam pada Kerkhof di Jalan Hormen Maddati yang dipindahkan. Pemindahan makam dilakukan pada tanggal 28 September 2004 terhadap makam J. Pattipeilohy, lahir di Ulat, 23 Januari 1898, wafat di Pangkalpinang, 6 Juni 1944 dan S. Salawany, lahir di Tihalale, 26 September 1915, wafat di Pangkalpinang, 10 Juni 1945.
Dua makam Belanda digali untuk kemudian sisa-sisa kerangka jenazahnya dimakamkan kembali di makam kehormatan Belanda di Menteng Pulo Jakarta. Pemindahan 2 makam dilakukan atas permintaan E.van Reijsen Salawani, anak perempuan almarhum S. Salawany yang tinggal di Kota Gravenhage Belanda dan atas permintaan P.Lawerissa, cicit laki-laki perempuan almarhum J. Pattipeilohy yang tinggal di Kota Zwolle Belanda melalui Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting).
Masyarakat Bangka khususnya Pangkalpinang memberikan nama Jalan Sekolah pada tempat lokasi Kerkhof Pangkalpinang karena di jalan ini sekitar tahun 1950 berdiri sekolah setingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang dikelola oleh Yayasan Setia Utama. Selanjutnya pada tahun 1962 di lokasi ini didirikan Taman Kanak-kanak yang merupakan Taman Kanak-kanak (TK) tertua di Pangkalpinang.
Jalan Sekolah kemudian diganti penamaannya menjadi Jalan Hormen Maddati berdasarkan Surat Keputusan Walikota Pangkalpinang Nomor 120 Tahun 2005, tanggal 3 Mei 2005 tentang Nama-Nama Jalan Dalam Wilayah Kota Pangkalpinang.

Pergantian nama Jalan Sekolah dengan nama Hormen Maddati dilakukan untuk mengenang jasa H. Hormen Maddati sebagai pendiri dan pengurus sekolah yayasan pendidikan tersebut.
*Keterangan gambar: Makam Henk Runschotel di kerkhof Pangkalpinang, pada jiratnya tertulis: “Di Sini Beristirahat Anak Bungsu Kami Tersayang Lahir di Pangkalpinang 22 Agustus 1920, Meninggal 28 Juni 1921”. Sumber foto Istimewa, diolah kembali menggunakan AI.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.