Daftar Burung yang Tercatat dari Pulau Bangka (Bagian 3)

IMG-20261025-WA0007

Editor: Meilanto
Diadaptasi dari buku A List of the Birds Recorded from Bangka Island, Indonesia, karya G. F. Mees (1986).


Ungkapan “Waarop zij werden geschoten of gevangen” berarti tempat burung-burung tersebut ditembak atau ditangkap. Namun, tampaknya setiap spesimen tidak diberi label secara individual. Berdasarkan korespondensi yang ada, sebagian besar spesimen diperoleh dari sekitar Muntok, tempat v. d. Bossche tinggal.

Schlegel telah mendeskripsikan beberapa bentuk baru dari koleksi v. d. Bossche. Spesimen lainnya juga tercatat dalam berbagai jilid seri Muséum d’Histoire Naturelle des Pays-Bas. Meski demikian, koleksi tersebut secara keseluruhan tidak pernah dipublikasikan. Finsch (1906: 304, catatan kaki 1) mengomentari hal ini dengan nada kritis.

Dalam tulisan yang sama, Finsch menyebutkan bahwa v. d. Bossche sebelumnya pernah mengumpulkan koleksi burung yang menarik dari Gold Coast. Namun, pernyataan ini tidak didukung oleh spesimen dalam koleksi kami maupun bukti dokumenter. Kemungkinan, hal itu terjadi karena kekeliruan dalam mengidentifikasi tokoh, yakni tertukar dengan C. J. M. Nagtglas, penerus v. d. Bossche sebagai Gubernur Gold Coast. Masa tinggal v. d. Bossche di wilayah tersebut sangat singkat sehingga kecil kemungkinan ia sempat mengorganisasi kegiatan pengumpulan spesimen dalam skala besar. Rincian biografinya dapat dilihat pada Lampiran 2.

J. A. Buddingh’ (1840–1870) adalah penerjemah bahasa Mandarin yang bekerja di tambang timah pemerintah, yang dioperasikan dengan tenaga kuli Tionghoa. Dalam laporan tahunan museum untuk 1865/1866 disebutkan bahwa museum menerima sejumlah objek zoologi darinya. Meski tidak dirinci satu per satu, beberapa di antaranya merupakan spesimen burung yang masih tersimpan dalam koleksi museum. Informasi biografi Buddingh’ juga tersedia dalam Lampiran 2.

J. E. Teysmann dan koleksi burung dari Bangka

See also  Proses Peleburan Timah Dalam Catatan Buddingh Tahun 1852-1857

Ahli botani J. E. Teysmann (1808–1882) mengumpulkan banyak materi ornitologi yang berharga selama perjalanan-perjalanannya, terutama dari Sulawesi dan Maluku. Kunjungan pertamanya ke Bangka berlangsung pada 14 April hingga 14 Mei 1857 (lihat Teysmann, 1859). Namun, tidak ditemukan bukti bahwa ia mengumpulkan burung selama kunjungan tersebut.

Teysmann kembali mengunjungi Bangka dalam beberapa kesempatan, yakni pada 27 Juni 1869 hingga 27 Januari 1870, 7 Agustus 1870 hingga 1 April 1871, 14 Mei hingga 25 Juni 1872, serta 19 November hingga 5 Desember 1872 (lihat Teysmann, 1871, 1873, 1874).

Hingga kini, jumlah materi ornitologi yang dikumpulkannya selama rangkaian kunjungan tersebut tidak dapat dipastikan. Hanya sedikit spesimen yang dapat ditelusuri dalam koleksi museum kami. Sejumlah spesimen lainnya juga tersimpan di Museum Zoologi Amsterdam.

De Schauensee (1958: 280) menyebutkan adanya materi dari Bangka di Buitenzorg. Namun, penyebutan itu perlu dipertanyakan karena Museum Buitenzorg (Museum Zoologicum Bogoriense) belum berdiri pada masa yang dimaksud. Berdasarkan informasi dari Dr. Somadikarta melalui surat pada Desember 1981, Museum Zoologicum juga tidak menyimpan spesimen burung dari Bangka.

Dalam salah satu laporan tahunannya, Schlegel menyatakan bahwa koleksi Teysmann sebenarnya dapat memiliki nilai ilmiah yang jauh lebih besar seandainya ia diminta memberikan label yang memadai pada setiap spesimen. Label tersebut semestinya mencantumkan jenis kelamin, tanggal, dan lokasi pengambilan, bukan sekadar keterangan singkat mengenai pulau asal.

Sayangnya, bahkan pelabelan dasar semacam itu tidak selalu dilakukan dengan cermat. Akibatnya, muncul berbagai kesulitan dalam mengidentifikasi asal spesimen, terutama ketika Teysmann mengunjungi beberapa lokasi berbeda dalam satu perjalanan, seperti Sulawesi Selatan dan Saleyer (lihat Gijzen, 1938: 147).

Meskipun demikian, Teysmann dikenal sebagai pengamat yang baik, dan catatan perjalanannya sangat layak dibaca. Laporannya mengenai kunjungan pada 1869–1870 memuat sejumlah informasi terkait burung.

See also  Beragam Hewan Liar di Bangka dan Batu Bezoar.

Selain menggambarkan gua-gua yang dihuni burung Collocalia—yang akan dikutip secara lengkap pada bagian selanjutnya dari tulisan ini (hlm. 154)—ia juga menyebutkan beberapa jenis burung, yaitu Palaeornis pondicerianus (kini diidentifikasi sebagai Psittacula longicauda), Loriculus vernalis (kini Loriculus galgulus), Gracula religiosa, Columba javanica (kini Chalcophaps indica), Columba aenea (kini Ducula aenea), dan Columba littoralis (kini Ducula bicolor).

Koleksi J. H. G. Vosmaer

J. H. G. Vosmaer (1830–1885), administrator tambang timah di Blinjoe, menyumbangkan 188 kulit burung, tujuh kulit mamalia, serta 12 botol berisi spesimen reptil yang diawetkan dalam alkohol. Sumbangan tersebut tercatat dalam Laporan Tahunan 1873/1874.

Schlegel memberikan penilaian tinggi terhadap koleksi itu. Menurutnya, nilai koleksi tersebut semakin besar karena di dalamnya terdapat sejumlah spesimen yang sangat langka. Ia juga memuji Vosmaer yang telah memastikan setiap spesimen diberi label berisi tempat dan tanggal perolehannya.

Pujian tersebut menunjukkan bahwa Schlegel sangat memahami pentingnya pencatatan asal-usul spesimen. Ironisnya, sebagian besar spesimen burung dari koleksi berharga itu kemudian dipasang, sementara label-label aslinya justru dibuang. Hal ini sangat disayangkan karena label tersebut menyimpan informasi penting bagi penelitian.

Untungnya, keterangan mengenai jenis kelamin dan tanggal biasanya telah disalin ke bagian dasar spesimen. Namun, lokasi pengambilan yang lebih terperinci tidak dianggap penting untuk dipertahankan. Akibatnya, seluruh spesimen tersebut kini hanya memiliki keterangan umum “Banka”. Diperkirakan, sebagian besar berasal dari Blinjoe dan daerah sekitarnya.

Koleksi Vosmaer dikirim melalui pos menggunakan tiga kotak pada September 1873 dan tiba di Leiden pada 22 Januari 1874. Informasi lebih lanjut mengenai kehidupannya dapat ditemukan dalam Lampiran 2.

See also  Sejarah PDAM Pangkalpinang di Gunung Mangkol (Bagian 2)

Kunjungan A. G. Vorderman

Pada 1897, dokter sekaligus ahli ornitologi terkenal, Dr. A. G. Vorderman (1844–1902), mengunjungi Bangka.

Pada November tahun itu, sehari sebelum meninggalkan pulau, ia membeli seekor burung Lophura ignita yang dikenal dengan nama lokal jembang. Burung tersebut masih hidup dan sebelumnya ditangkap di pedalaman Bangka.

Vorderman membawa burung itu ke Batavia. Namun, sekitar satu bulan kemudian, burung tersebut mati. Ia kemudian menerbitkan uraian terperinci mengenai burung itu dalam tulisannya pada 1898 (Vorderman, 1898).

Sejauh ini, tidak ditemukan bukti bahwa Vorderman memperoleh spesimen burung lainnya selama kunjungannya ke Bangka, yang tampaknya berlangsung cukup singkat.

Bersambung.


Foto: Tabel 1. Pengukuran Amaurornis phoenicurus.

Related Images:

Comments

comments