Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #31, Toponimi Toboali Dengan Sebutan Sabang Atau Habang

IMG_20261019_120300

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Pada masa Sultan Ahmad Najamuddin I Adikusumo (Tahun 1757-1776) dipindahkan Benteng dari Toboalih Lama (Oud Toboalih/Old Toboaly) dalam manuskip lama Arab Melayu ditulis “ تبواليه ”, ke satu Tanjung, yang bernama Tanjung Sabang/Sabong. …”maka tempoh ini baginda susuhunan memerintahkan membuat kota benteng tanah atau kayu di pangkal-pangkal tanah Bangka….” (Wieringa, 1990:111).

Tanjung ini letaknya sangat strategis mengganti Benteng Toboali lama yang terletak di Teluk antara wilayah Bacoon (Bakung) dan Sungai Tagak (Menahan).

Kota atau pemukiman baru yang dilindungi parit pertahanan atau benteng baru tersebut diberi nama Toboalih Baru.

Benteng baru yang didirikan Sultan tersebut oleh Inggris (Tahun 1812-1816) dijadikan pos militer Inggris, dan pada masa Hindia Belanda (Tahun 1816) dijadikan pusat pertahanan dan pada Tahun 1820-1825 dijadikan Fort of Toboaly (dalam Plan van het Fort Toboaly yang disusun Tahun 1825 Masehi) dan oleh pemerintah Hindia Belanda disebut dengan Fort Toboalij.

Akan tetapi nama Toboali Baru tersebut lebih suka disebut oleh penduduk pribumi dan orang Tionghoa dengan sebutan toponimi “Sabang atau dalam dialek Toboali disebut dengan Habang” sesuai dengan keletakannya di Tanjung Sabang/Sabong.

Dalam catatan HM Lange:_Het eiland Banka en zijne aangelegenheden. ‘s Hertogenbosch: Gebr.Muller, 1850 hal.93: “Belakangan, pemukiman (etablissement) ini diperbaiki. Namun, tidak dibangun kembali di dekat Kampung Toboali, melainkan sekitar satu jam perjalanan ke arah barat laut dari sana, di dekat Kampung Sabang. Di tempat tersebut, terdapat sebuah bukit setinggi empat puluh kaki di atas tanjung yang agak menonjol ke laut dan membentuk sebuah teluk kecil.

Bukit ini menawarkan posisi yang sangat strategis untuk membangun sebuah benteng. Ibu kota baru dari distrik ini kembali diberi nama Toboali, tetapi oleh penduduk pribumi dan orang-orang Tionghoa, tempat ini tidak pernah disebut selain nama Sabang.

See also  Pelayaran  H.S. Monsignor E.S. LUYPEN ke Pulau Banka (Bagian 15)

Dari bukit yang disebutkan tadi—yang terletak pada 3° Lintang Selatan dan 106° 28′ 30″ Bujur Timur dari Greenwich—memiliki keuntungan karena tepat di kakinya terdapat sumur-sumur dengan air minum yang layak.

Uniknya, salah satu sumur tersebut dapat ditemukan di sisi laut di antara celah bebatuan. Bukit inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk membangun sebuah benteng pertahanan.

Pada awalnya, benteng tersebut terdiri dari tanggul pertahanan yang sebagian terbuat dari tanah, tetapi sebagian besar disusun dari tiang pancang kayu (palisade), serta bangunan-bangunannya terbuat dari kayu. Namun, ketika pembaruan benteng ini menjadi sangat mendesak, diputuskan untuk membangun seluruh benteng dan bangunan ini dari tanah liat—kecuali tanggul pertahanan yang menghadap ke arah laut—serta mengatapi bangunan-bangunan tersebut dengan genteng. Keputusan ini diambil karena posisinya yang terpapar angin kencang, serta singkatnya usia bangunan kayu di tempat tersebut akibat banyaknya rayap (semut putih).

Teks lengkapnya: “Later is dit etablissement hersteld, echter niet weder nabij de kampong Toboali, maar ongeveer een uur gaans noordwestelijk van daar, nabij de kampong Sabang, alwaar een veertig voet hoge heuvel, op eene in zee enigszins vooruitstekende, en door eene kleine baai gevormde punt, eene uitmuntende stelling aanbiedt voor eene sterkte. Aan deze nieuwe hoofdplaats van het distrikt heeft men opnieuw den naam van Toboali gegeven, doch door de inboorlingen en Chinezen wordt zij nooit anders dan Sabang genoemd. Van den vermelden heuvel, die gelegen is op 3° zuiderbreedte en 106° 28′ 30″ lengte beoosten Greenwich, en het voordeel heeft van juist aan zijnen voet putten met goed drinkwater te hebben, waarvan er eene, zonderling genoeg, aan de zeezijde tussen de klippen te vinden is, — van dien heuvel is dan ook partij getrokken, om eene verschansing aan te leggen. In het eerst bestond die verschansing uit eene borstwering, gedeeltelijk van aarde, maar grotendeels uit palisaden samengesteld, en de gebouwen waren van hout vervaardigd. Toen eene vernieuwing van deze sterkte echter dringend noodzakelijk was geworden, werd besloten, zoowel omdat zij aan den wind is blootgesteld, als om den korten duur van houten gebouwen, wegens de menigvuldigheid der witte mieren hier ter plaatse, om deze sterkte, met uitzondering van de naar den zeekant gekeerde borstwering, geheel van leem op te trekken, zoowel de borstwering als de gebouwen, en om deze laatste met pannen te dekken”.


*Keterangan gambar:
Plan van het Fort Toboaly
Dalam Renvoi Plan van het Fort Toboaly, fungsi benteng di samping sebagai pertahanan juga berfungsi kantor (A)inspecteurs winning (inspektur tambang), (B) panhuis, (C) kaserne, (D) officerwinning, (E) Kruitmagazijn, (F) wagthuis dan (G) bijgebouwen gem biezen. Benteng baru Toboali sesuai Plan van het Fort Toboaly Tahun 1825 Masehi, disetujui pelaksanaan pembangunannya pada Tahun 1846 Masehi. (Lange, 1850:93,94).

See also  19 Oktober 1851, Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 15 tentang Penemuan Bijih Besi di daerah Pelangas

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments