19 Oktober 1851, Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 15 tentang Penemuan Bijih Besi di daerah Pelangas

20261019_125729

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Produksi Timah yang dihasilkan parit-parit penambangan di seluruh distrik di pulau Bangka setelah perang Bangka terutama setelah Depati Amir dan Hamzah atau Cing diasingkan ke Keresidenan Timor terus meningkat, jika pada Tahun 1850 saat berkecamuknya perang, produksi Timah yang dihasilkan sangat rendah hanya sebesar 51.536 pikul, maka pada pertengahan Tahun 1851 atau setelah peperangan, jumlah produksi Timah yang dihasilkan meningkat sangat signifikan dengan produksi sebesar 89.865 pikul.

Di samping pertambangan Timah pemerintah Kolonial Belanda berusaha untuk mendapatkan kekayaan baru dari penambangan jenis lain selain Timah.

Dalam Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1850, no.41 dinyatakan bahwa penemuan Bijih Besi di daerah Pelangas yang dimuat dalam Keputusan Pemerintah tanggal 19 Oktober 1851 Nomor 15, dan kemudian ditemukan juga kandungan magnet atau batu rekat di pegunungan Paku, Distrik Koba yang memungkinkan untuk dieksploitasi.

Komoditas ini diharapkan dapat menjadi sumber pemasukan baru bagi pemerintah Kolonial Belanda di pulau Bangka selain dari Timah (Elvian, 2019:321).

Pulau Bangka dalam catatan sejarah tidak hanya menghasilkan Bijih Timah, akan tetapi juga menghasilkan Bijih Besi yang oleh masyarakat sering disebut Batu Berani atau Batu Rekat.

Keberadaan Bijih Besi lebih awal sudah diketahui dan dieksploitasi Masyarakat Bangka.

Dalam Carita Bangka Het Verhaal van Bangka Tekstuitgave met Introductie en Addenda (1990) halaman 67, “…Maka Raja Alam tahulah itu batu sudah hancur menjadi besi. Sebab itu Dia tahulah itu tanah Bangka ada sedikit berisi Batu Besi. Maka disuruhnya patih Raksa Kuning dengan segala menteri, proatin memeriksa dan mencari menggali batu yang lebih dapat keluar besi demikian itu. Dengan sebab itu sudah dapat orang di dalam tanah Pakuk sebab kelihatan dari hal membakar ladang ada batu yang jadi hancur sama juga bagaimana orang sudah tunjukkan tadi kepada Raja Alam Harimau Garang. Maka dengan sebab itu disuruh gali di tanah Pakuk. Maka sudah dapat batunya dipuput jadilah besi. Sebab itulah lebih dulu sudah dapat besi…”.

Selanjutnya berita tentang keberadaan Bijih Besi di Pulau Bangka diketahui dalam catatan VOC, pada Tanggal 11 Juli 1668, dalam Dagh-Register, sebagaimana dikutip oleh Heidhues dinyatakan, bahwa Jan de Harde, saat kembali, Ia menegaskan bahwa meskipun penguasa setempat amat ramah, tetapi pulau Bangka tidak menghasilkan apa-apa yang berharga bagi VOC. Kesempatan untuk menguasai damar, minyak damar dan kemungkinan juga Besi tidak dapat dijadikan alasan untuk bermusuhan dengan Kesultanan Palembang, yang memberikan sumber komoditi jauh bernilai, yaitu Lada. Bangka kemudian diabaikan (Heidhues, 2008:3).

See also  Di Sungailiat, Bung Karno Berpidato "Sebelum Matahari Terbit Tahun 1950, Kemerdekaan Indonesia Akan Tercapai!"

Besi dari wilayah Pakuk di samping sebagai upeti kepada Sultan Palembang, digunakan untuk pembuatan peralatan seperti Parang, Keris, dan peralatan kesenian seperti Tawak tawak dan untuk alat tukar (besilor) yang disebut Uang Paku serta Bijih Besi sangat penting untuk pembuatan meriam.

Seorang yang ahli dalam pembuatan Meriam adalah Raden Keling, yang diangkat oleh sultan Muhammad Bahauddin sebagai kepala rakyat di Toboalih. Buktinya namanya ditoreh pada meriam yang ditemukan di Thailand yang jauh dari Palembang Darussalam bertarikh 1225 H atau 1811 Masehi (alamat Raden Keling ibnu Raden Prabu Jaya fi Baladi Palembang Darussalam sanad 1225 atau 1811).

Meriam dan pelurunya dibuat dengan Besi berkualitas yang diperoleh dari daerah Paku di pulau Bangka dan Besi dari pulau Belitung.


*Keterangan gambar: Uang Paku.
Sumber: petabelitong.com: 7 Kebudayaan di Pulau Belitung Ini Nyaris Hilang dan Bahkan Sebagiannya Telah Punah Ditelan Zaman, KPSB Peta Belitong.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

See also  3 Juli 1949, Persiapan Akhir di Kota Mentok Sebelum Kembalinya Pemimpin Republik Ke Yogyakarta.

Comments

comments