Tiba Di Jebus, Buddingh Terkesan Dengan Pekerja Tambang Dari Tiongkok.

RumahDinasKepalaDistrikJebusEksrumahdinasAdministrator.Sekitart_20260806_110854_000

Oleh : Meilanto


Setelah tiba di Sungai Kampa (Sungai Jebus), Buddingh disambut oleh Kepala Wilayah Jebus. Saat dalam perjalanan (jalan kaki), mereka berpapasan dengan Komandan benteng Jeboes, Tuan VAN VUUREN. Selanjutnya ia menginap di rumah komandan dan kamar tempat ia menginap tersebut berhadapan dengan lapangan tentara latihan. Simak tulisannya pada buku yang berjudul NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 41-42.

Jeboes, de pankal of hoofdplaats van het distrikt Jeboes, is een, aan een’ arm der Kampak-rivier gelegen, vrij-uitgestrekt
en open vlek, en wordt beschermd door eene nette benting of redoute, welke door een drooge gracht en door hooge aarden
wallen, waarop twee bastions en stukken staan, omgeven is.

De kamer, waarin ik in het huis van den Kommandant logeerde, had het uitzigt op het excercitie-plein, het buskruid-magazijn, het gouvernements-pakhuis, de kaserne, de wacht, op 3 wallen en op de beide bastions, zoodat ik, – ofschoon er des morgens van den 15 den een natte en koude mist of nevel boven de plaats en de gansche bosehrijke omgeving van Jeboe s hing en tot 11 uren hangen bleef, – “toch reeds om 6 uren in den ochtend het garnizoen, hetwelk 30 man telde, op het excercitie- plein onder de wapenen zag. Toen ten 12 ure de zon doorge-komen en de dikke en zware mist verjaagd waren, deed ik eene wandeling door de plaats, waarvan ik hoorde, dat ze als het ware de beschikking of het gebied heeft over twee der voornaamste rivieren van Banka, namelijk over de reeds genoemde Kamjiak, en over de rivier Anten of Antan-Blienjoe, die aan den berg Marras ontspringt en op een’ afstand van 4 uren van Jeboes in de Klabat-baai valt. Ik passeerde eenige door regen en mist spiegelglad geworden wegen en paden van zwart en vast zand, die mij naar de kampong der Maleijers voerden, en verder naar de Chinésche wijk of de kamp, waar de Chinezen wonen. In deze wijk trok liet huis van BONG- PIANGSAM, luitenant der Chinezen in het mijn-distrikt Jeboes, mijne aandacht, ofschoon het niet veel merkwaardigs had, maar zich toch van de andere Chinésche woningen onderscheidde. Meer belangrijk waren in mijn oogen eenige Chinésche mannen, die mij als mijn-werkers werden aangeduid, die in de Bankasche tinmijnen (parit’s) arbeiden. Gelijk men weet, worden deze tinmijnen bijna uitsluitend door Chinezen bewerkt, die grootendeels uit Sinkee’s of nieuwelingen of van China overgekomen Chinezen, en voor een klein gedeelte uit
Pernakan’s of in Neêrlandsch Indie geboren Chinezen, bestaan. Onder de Sinkee’s, die pas uit hun land waren overgekomen, zag ik er eenigen, die zoo ruw, onbeschaafd en ongemanierd waren, dat het alle denkbeeld te boven ging. Het waren echter forsche lieden, en over het algemeen zijn de Chinésche mijn werkers op Banka groote en zware menschen van een gezond en krachtig voorkomen. — Uit de Chinésche kamp wandelde ik nog voorbij de groote planken-woning van den Administrateur,
die sedert eenige dagen met den heer AKKERINGA, ingenieur bij het mijnwezen, op reis was om de plaatsen te zoeken en te onder- zoeken, waar nieuwe tinmijnen zouden kunnen ontgonnen worden.

See also  6 Juli 1949, Pemimpin Republik yang Diasingkan di Bangka Kembali Ke Yogyakarta.

Deze woning staat in de nabijheid der redoute aan den zoom van een’ breeden voetweg, doch in vroeger jaren stond het Administrateurs-huis van Jeboes niet buiten maar binnen de redoute. Zoo was het toen ook met al de Administrateurs-woningen in de overige mijn-distrikten. Sedert de tijden voor Banka rustig zijn geworden, hebben de Administrateurs hun domicilium builen de forten gevestigd.

Maksudnya
Jeboes, pusat pemerintahan wilayah Jeboes, merupakan pemukiman yang cukup luas dan terbuka yang terletak di tepi cabang Sungai Kampak.

Tempat ini dilindungi oleh benteng pertahanan yang rapi, dikelilingi parit kering serta tembok tanah yang tinggi, di mana terdapat dua menara pertahanan dan sejumlah meriam.

Kamar tempat saya menginap di rumah komandan menghadap langsung ke lapangan latihan, gudang mesiu, gudang penyimpanan milik pemerintah, barak prajurit, pos jaga, tiga lapis tembok pertahanan, hingga kedua menara meriam tersebut.

Meskipun pada pagi hari tanggal 15 kabut dingin dan basah menyelimuti seluruh pemukiman serta kawasan hutan di sekitar Jeboes hingga pukul sebelas siang, saya tetap dapat melihat pasukan garnisun yang berjumlah tiga puluh orang sudah berbaris lengkap bersenjata di lapangan latihan sejak pukul enam pagi.

Ketika matahari mulai menembus dan menghalau kabut tebal tepat pukul dua belas siang, saya berkeliling menyusuri pemukiman ini. Saya mendengar bahwa Jeboes seolah menguasai dua sungai terpenting di Bangka: Sungai Kampak yang telah disebutkan, serta Sungai Anten atau Antan-Belinyu yang berhulu di Gunung Maras dan bermuara di Teluk Klabat, berjarak sekitar empat jam perjalanan dari Jeboes.

Saya melintasi jalan-jalan berpasir hitam padat yang licin berkilau terkena air hujan dan kabut, menuju pemukiman warga Melayu, lalu berlanjut ke kawasan pemukiman orang Tiongkok. Di kawasan ini, rumah milik BONG PIANGSAM, Letnan Orang Tiongkok di wilayah tambang Jeboes, menarik perhatian saya—meskipun tidak memiliki keunikan yang mencolok, bangunannya tetap berbeda dari rumah-rumah warga Tiongkok lainnya.

See also  16 April 1929. Dari Kumamoto Jepang, Hamazaki Hana dimakamkan di Kerkhof Pangkalpinang.

Yang jauh lebih berkesan bagi saya adalah para pekerja tambang asal Tiongkok yang diperkenalkan kepada saya. Seperti diketahui, tambang-tambang timah di sini hampir seluruhnya digarap oleh mereka; sebagian besar terdiri dari Sinkeh atau pendatang baru yang baru saja tiba dari Tiongkok, dan sebagian kecil lagi adalah peranakan atau keturunan Tiongkok yang lahir di Hindia Belanda.

Di antara mereka yang baru saja tiba dari tanah airnya, saya melihat sebagian yang bertutur dan bersikap sangat kasar serta belum terbiasa dengan tata krama setempat, melebihi apa yang dapat saya bayangkan. Namun mereka adalah orang-orang yang tegap; secara umum para penambang Tiongkok di Bangka bertubuh besar, kuat, dan tampak sehat serta bertenaga.

Dari pemukiman Tiongkok, saya kembali melewati kediaman pengelola wilayah yang terbuat dari papan kayu besar. Beliau saat itu sedang bepergian bersama Insinyur Pertambangan Tuan AKKERINGA untuk mencari dan meneliti lokasi yang berpotensi dikembangkan menjadi kawasan tambang baru. Rumah ini terletak di dekat benteng pertahanan, di pinggir jalan setapak yang lebar—padahal dahulu, rumah pengelola Jeboes dan seluruh wilayah tambang lainnya justru terletak di dalam benteng. Sejak keadaan Bangka menjadi aman dan damai, para pengelola pun mulai mendirikan tempat tinggal mereka di luar benteng pertahanan.


Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments