15 Juni 1819, Pasukan Muntinghe Mengundurkan Diri ke Mentok Setelah Kalah Dalam Perang Palembang (Menteng).

IMG_20260615_170114

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Pada Tanggal 15 Juni 1819, pasukan Belanda yang dipimpin Herman Warner Muntinghe (Muntinghe) mengundurkan diri ke Mentok setelah mengalami kekalahan telak dalam rangka penaklukan Palembang dalam Perang Palembang atau popular di masyarakat dengan nama perang Menteng (dari nama Muntinghe) tanggal 12 Juni 1819.

Dalam catatan Dr. S.A. Buddingh, dalam Neerlands-Oost-Indie Reizen Over Java, Madura, Makasser, …Banka, … ; gedaan gedurende het tijduak nan 1852-1857, halaman 103: De pogingen van den Raad van Indië, Kommissaris der Regering , den heer Muntinghe, liepen vruch teloos af, en reeds den 15 Junij 1819 was hij verpligt , om met de krijgsmagt Palembang te verlaten en de bezetting genbodzaakt naar Muntok, op het eiland Banka, de wijk te nemen. De expeditie van 15 October 1819, welke de Moessi overige kwala’s of rivier-mondingen blokkeerde, werd twee jaren later, namelijk in 1821, opgevolgd door een tweede expeditie , die onder het opperbevel van den Generaal-Majoor De Kock voor Palembang verscheen.

Maksudnya: Upaya Dewan Hindia, Komisaris Pemerintah Bapak Muntinghe, terbukti sia-sia, dan pada tanggal 15 Juni 1819, beliau terpaksa meninggalkan Palembang bersama pasukan bersenjata dan secara paksa menarik garnisun ke Muntok, di pulau Banka. Ekspedisi tanggal 15 Oktober 1819, yang memblokade muara sungai Mussi yang tersisa, diikuti dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1821, oleh ekspedisi kedua, yang muncul di Palembang di bawah komando tertinggi Mayor Jenderal De Kock.

Sementara itu F.S.A, De Clercq, Bijdrage tot de Geschiedenis van het Eiland Bangka, dalam BKI, 1895, halaman 154 mengatakan: “Engelschen Bangka en Palembang aan de Hollanders over, toen Palembang op nieuw in verzet kwam tegen den Edelen Heer Muntinghe, die moest terugtrekken en te Muntok bleef. Later vertrok hij weder naar Palembang met twee schepen en nam de beide hoofden Wiradi Perana en Abang Moehamad mede, maar de strijd nam nog geen einde. De Edele Heer ging terug naar Batavia en gedurende meerdere jaren was het oorlog met Palembang.

Maksudnya: Inggris menyerahkan Bangka dan Palembang kepada Belanda. Ketika Palembang kembali memberontak melawan Tuan Muntinghe, yang terpaksa mundur dan tetap tinggal di Muntok. Kemudian, ia berangkat lagi ke Palembang dengan dua kapal dan membawa dua kepala rakyat Demang Wiradi Perana dan Abang Moehamad bersamanya, tetapi perjuangan belum berakhir. Tuan Muntinghe kembali ke Batavia dan selama beberapa tahun terjadi perang dengan Palembang.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. 44, Masjid Baitul Isti'mar, Kampung Buyan.

Dalam buku Palembang In Banka 1816-1820, door P. H. Van Der Kemp, Halaman 500,
tentang laporan penyelamatan pasukan pada pukul 4 sore tanggal 15 Juni 1819 menuju Mentok dan keterangan jumlah korban perang Palembang yaitu 56 orang yang terluka dan 4 orang yang tewas, termasuk Letnan Bischoff, meninggal karena luka-lukanya.

Selengkapnya: “Ten 4 ure in den namiddag van den 15n Juni 1819 was de in scheping voltooid, De twee veldstukken had men vernageld moeten achterlaten met nagenoeg al de bagage: //wijl er op dit oogenblik aan niets anders dan aan het redden van menschen te denken viel”, rapporteerde de majoor den 19n. We hadden te betreuren slechts 56 geblesseerden en 4 dooden, waaronder luitenant Bischoff, die aan zijne wonden overleed. //Het gebrek aan vaartuigen”, besloot Muntinghe zijn Cheribon-rapport, //niet toelatende, dat men om de berging van iets anders dan van onze manschappen zelven konde denken, heb ik het genoegen Uwe Excellence te mogen rapporteeren, dat geene enkele van die manschappen, anders dan door het lot van den oorlog is vermist of achtergebleven, en dat tot hetgeen van gouvernements goederen, behalve onze twee veld stukken , is achtergelaten, van geene groote waarde is.”


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Comments

comments