Burung-burung di Sekitar Alun-alun Muntok.
Admin 24 August 2026
Oleh : Meilanto
Masih dari Mentok, Buddingh menuliskan bagaimana ia melihat gerombolan burung yang hanya ia jumpai di Muntok. Dan dituliskan ia tidak menemukan burung jenis ini di Hindia Belanda. Burung-burung bergerombol di pohon-pohon dekat alun-alun Muntok tidak jauh dari rumah residen.
Dalam perjalanan ini maupun perjalanan lainnya, saya sering melihat kawanan besar burung kecil yang dikenal sebagai Koetilan (kutilang) di pepohonan yang membatasi kota di sisi utara; namun, mereka berkumpul dalam jumlah yang jauh lebih besar di pepohonan yang anggun dan berdaun lebat serta rumpun bambu kuning—atau terkadang di pohon kenari atau kemiri yang besar—yang mengelilingi rumah residen dan di alun-alun atau dataran tinggi kawasan Eropa.
Burung-burung kecil berwarna hijau-kuning yang seukuran burung kenari ini akan datang berbondong-bondong hingga ribuan jumlahnya ke tengah dedaunan dan dahan pohon—terutama menjelang petang, mirip dengan perilaku burung boerong-priet di pohon waringin besar di Jawa.
Seperti burung-burung itu, mereka akan riuh berkicau memekakkan telinga sebelum bersiap untuk tidur, menghabiskan waktu setidaknya setengah jam hanya untuk terbang hilir-mudik dan melompat dari satu ranting ke ranting lainnya.
Sesekali, satu tembakan yang dilepaskan secara acak ke arah dahan pohon bisa menjatuhkan dua puluh atau dua puluh lima ekor burung sekaligus.
Konon, daging makhluk-makhluk kecil ini—yang juga sering disebut sekadar sebagai pipit (burung kecil)—terasa lezat saat dipanggang.
Sepanjang pengetahuan saya, burung ini tidak ditemukan di tempat lain di Hindia Belanda; setidaknya, saya hanya menjumpai jenis burung ini di Muntok.

Terjemahan di atas dikutip dari buku yang ditulis oleh Buddingh NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 75-76.
Meermalen zag ik bij deze en bij andere wandelingen in het geboomte, hetwelk de kotta ten noorden begrenst, een menigte
kleine vogeltjes, Koetilan geheeten, die zich echter in veel grooter aantal ophielden in de sierlijke en digte kroonboomen en
gele bamboe-struiken (bamboe-maas) of soms in de groote kanarie – of kemiri-boomen om en bij het Residentie-huis en op het plein of plateau der Europésche wijk. Deze vogeltjes groen en geel gekleurd, en ter grootte van den kanarievogel, komen vooral legen den avond bij duizenden in de bladeren en takken schuilen, even als de boerong-prie t in de groote wanngie n op Java , en heffen dan, even als dezen, vóór ze ter rust gaan, een oorverdoovend getjilp aan, terwijl ze wel een half uur lang niet anders doen dan heen en veder fladderen en van takje op takje springen. Een geweerschot, in het wilde in de takken gelost, deed er soms 20 à 25 te gelijk neder-vallen. Van het vleesch dezer diertjes, die men ook eenvoudig-lijk pipit (klein vogeltje) noemde, beweerde men, dat het, gebraden zijnde, een’ fijnen smaak heeft. Yoor zooveel ik weet, komen ze nergens elders in den N. Indischen Archipel voor; ten minste heb ik deze exemplaren der vogel-fauna al-leen maar te Muntok gezien.
*Keterangan gambar: Residentswoning met oprijlaan te Muntok, before 1880
Sumber : Collection Leiden University
Catatan : Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara
