Daftar Burung yang Tercatat dari Pulau Bangka (Bagian 1)

IMG-20261022-WA0022

Editor : Meilanto

Buku sumber : A List of the Birds Recorded from Bangka Island, Indonesia — G. F. Mees, 1986.


PENDAHULUAN

Pulau Bangka atau Banka, yang terletak di lepas pantai tenggara Sumatra, relatif kurang mendapat perhatian para kolektor burung. Salah satu penyebabnya adalah kondisi geografis Bangka yang merupakan kelanjutan dataran rendah Sumatra bagian timur hingga berakhirnya periode permukaan laut rendah terakhir, kurang dari 15.000 tahun lalu. Pulau ini juga tidak memiliki pegunungan tinggi atau bentang alam mencolok yang biasanya menarik perhatian para peneliti burung.

Upaya pertama menyusun daftar burung Bangka secara menyeluruh baru dilakukan pada 1958 oleh de Schauensee. Sebelumnya, Chasen (1935) telah memasukkan Bangka sebagai wilayah tersendiri dalam daftar burung Malaya. Dari catatannya, dapat disusun daftar awal yang mencakup 109 spesies. Jumlah tersebut kemudian bertambah menjadi 126 spesies dalam karya de Schauensee.

De Schauensee juga menguraikan sejarah singkat penelitian burung di Bangka. Meski pulau ini jarang dikunjungi kolektor khusus, sejumlah ahli burung dan pengamat amatir pernah melakukan penelitian di sana, sering kali secara kebetulan. Kegiatan tersebut sebenarnya telah menghasilkan banyak koleksi dan pengetahuan yang belum sepenuhnya tercatat dalam literatur.

Sejak makalah de Schauensee diterbitkan, saya menyadari bahwa kajiannya belum mencakup seluruh informasi yang tersedia. Ia tidak meneliti koleksi di Leiden dan tidak memasukkan bahan dari Museum Nasional Amerika Serikat di Washington, D.C., padahal keberadaan koleksi tersebut telah diketahuinya. Lebih penting lagi, sejumlah spesies yang dicantumkannya diduga tidak terdapat di Bangka.

Kebutuhan untuk meluruskan catatan tersebut sebelum kekeliruan menyebar ke literatur berikutnya menjadi salah satu alasan utama penulisan kajian ini. Upaya tersebut semakin penting karena daftar burung Sumatra beserta pulau-pulau sekitarnya sedang dipersiapkan untuk diterbitkan dalam seri daftar periksa BOU.

Menurut saya, kajian tentang burung Bangka semestinya sudah dilakukan sejak seabad lalu, atau setidaknya 75 tahun sebelumnya. Meskipun terlambat, penerbitan kajian ini tetap penting karena penelitian fauna burung memerlukan dasar data yang kuat, sedangkan informasi mengenai Bangka hingga saat itu masih belum memadai.

See also  Sejarah PDAM Pangkalpinang di Gunung Mangkol (Bagian 3)

Karena itu, penyusunan kompilasi ini tetap bermanfaat. Menariknya, sebagian besar koleksi burung Bangka yang menjadi bahan kajian dikumpulkan dalam rentang waktu relatif singkat, yakni 1859–1905. Data tersebut dapat menjadi dasar bagi penelitian berikutnya untuk menilai perubahan yang terjadi di pulau ini.

UCAPAN TERIMA KASIH

Saya menyampaikan terima kasih kepada para peneliti, kurator, dan lembaga yang telah memberikan informasi serta meminjamkan koleksi untuk keperluan penelitian ini.

Mereka antara lain P. Colston, C. T. Fisher, I. C. J. Galbraith, F. B. Gill, M. Robbins, Chr. Jouanin, M. K. LeCroy, G. Mauersberger, E. A. P. de Raadt, P. Rampelt, J. H. Reichholf, J. S. Roselaar, R. Siebelhoff, S. Somadikarta, C. Violani, K. H. Voous, G. E. Watson, D. R. Wells, Yang Chang Man, R. L. Zusi, dan S. L. Olson.

Mereka berasal dari berbagai museum, universitas, dan lembaga penelitian, antara lain British Museum (Natural History), Academy of Natural Sciences di Philadelphia, Museum Nasional Sejarah Alam di Paris dan Washington, Museum Sejarah Alam Amerika di New York, Museum Zoologi di Berlin dan Amsterdam, Zoologische Staatssammlung di Munich, Museum Zoologicum Bogoriense, Universiti Malaya, serta sejumlah lembaga lainnya.

Informasi biografis juga diperoleh dari Gemeente Archief Driebergen-Rijsenburg, Biro Pusat Genealogi di Den Haag, dan Kanselari Orde-orde Belanda di Den Haag.

TOPOGRAFI PULAU BANGKA

Pulau Bangka terletak pada kisaran 1°10′–3°10′ Lintang Selatan dan 105°10′–106°50′ Bujur Timur. Bentuknya menyerupai dumbel, dengan sumbu terpanjang membentang dari barat laut ke tenggara. Luasnya sekitar 11.340 km² dan panjang maksimum mencapai 245 km. Lebar pulau di bagian utara sekitar 130 km, di bagian selatan sekitar 70 km, sedangkan pada bagian tersempit berkisar 35–40 km.

See also  29 April 1949, Sultan Hamengkubuwono IX, Berkunjung Ke Pulau Bangka

Pantai utaranya memiliki Teluk Klabat yang dangkal dan menjorok hampir 40 km ke daratan. Bangka dipisahkan dari Sumatra oleh Selat Bangka, yang pada titik tersempit lebarnya sekitar 14 km dengan kedalaman kurang dari 20 meter.

Di sebelah timur, Pulau Belitung—dalam sumber disebut Billiton—berjarak sekitar 100 km dari Bangka. Namun, sejumlah pulau kecil, termasuk Lepar, Liat, dan Mendanau, membentuk jalur antarpulau yang mempersempit beberapa celah perairan di kawasan tersebut.

Bentang alam utama Bangka berupa perbukitan bergelombang, dengan sejumlah kawasan granit yang menjulang menjadi perbukitan dan pegunungan rendah. Beberapa yang utama adalah Menoembing dekat Muntok (448 m), Pegunungan Mangol atau Mangkol (398 m), Permisan (457 m), Pading/Bebuluh (654 m), serta Gunung Maras yang menjadi titik tertinggi dengan ketinggian 692 m. Kawasan rawa terutama terdapat di bagian barat daya pulau.

Di lepas pantai tenggara terdapat banyak pulau kecil hingga besar. Dua di antaranya yang disebut dalam sumber adalah Lepar, dengan luas 207 km², dan Poengoh atau Liat, seluas 50 km².

Kondisi Geologi dan Vegetasi

Secara geologis, Bangka, Belitung, serta Kepulauan Riau dan Lingga berbeda dari wilayah Sumatra yang berdekatan. Batuan di kawasan tersebut sebagian besar diperkirakan berasal dari zaman Trias, sedangkan dataran rendah Sumatra bagian timur seluruhnya terbentuk pada zaman Kuarter. Atas dasar itu, Parrot (1907: 152) menyebut Bangka dan Belitung sebagai “ein Relikt aus uralter Zeit”, yang berarti peninggalan dari zaman purba.

Perbedaan geologi hanya memengaruhi komposisi fauna burung secara tidak langsung, terutama melalui vegetasi. Walaupun rentang waktu yang panjang memungkinkan terbentuknya spesies endemik di Bangka dan Belitung, kedekatan kedua pulau dengan Sumatra dan Kalimantan serta posisinya di Paparan Sunda tampaknya membatasi proses tersebut.

Curah hujan rata-rata Bangka sekitar 3.000 mm per tahun, dengan puncak pada Desember–Januari dan curah hujan terendah pada Juli–September. Kondisi ini mendukung pertumbuhan hutan hujan tropis. Namun, aktivitas manusia telah mengurangi luas vegetasi asli secara signifikan. Bahkan, kawasan yang tidak langsung digunakan untuk pertanian pun banyak ditumbuhi vegetasi sekunder.

See also  Dari Jebus, Buddingh Ke Belinyu Melewati Sungai Buluh, Kelapa, Telak, Rangie, Kapiet, dan Semoeloet hingga Bakit Menyeberangi Teluk Kelabat.

Penduduk dan Persebaran Burung

Pada 1905, ketika Hagen melakukan kunjungan yang menandai berakhirnya eksplorasi ornitologi di Bangka, jumlah penduduk pulau ini tercatat sekitar 115.000 jiwa, atau sedikit lebih dari 10 jiwa per km². Pada 1956, jumlahnya meningkat menjadi 205.363 jiwa, kemudian sekitar 223.000 jiwa pada 1968.

Dari sudut pandang zoogeografi, kedekatan Bangka dengan Sumatra tidak serta-merta berarti keduanya memiliki pola persebaran burung yang sama. Jarak antara perbukitan Bangka dan dataran tinggi Sumatra ternyata lebih besar dibandingkan jarak Bangka ke dataran tinggi Belitung. Bahkan, jarak antara Belitung dan kawasan perbukitan di Kalimantan Barat Daya juga relatif dekat.

Kondisi geografis ini dapat membantu menjelaskan keberadaan beberapa subspesies burung Kalimantan di Bangka.

Bersambung.


Keterangan gambar: Gambar 1. Letak Pulau Bangka terhadap pulau-pulau di sekitarnya. Garis putus-putus menunjukkan garis kedalaman 20 meter.

Related Images:

Comments

comments