Daftar Burung yang Tercatat dari Pulau Bangka (Bagian 6)
Jelajah Bangka 27 October 2026
Editor: Meilanto
Dikutip dari buku A List of the Birds Recorded from Bangka Island, Indonesia, karya G. F. Mees (1986).
Saya menganggap contoh-contoh yang telah dikemukakan sebelumnya sebagai bukti yang sangat kuat. Namun, masih ada bukti lain yang mendukung kesimpulan tersebut.
De Schauensee meningkatkan jumlah spesies burung Bangka yang sebelumnya dicatat Chasen dari 109 menjadi 126 spesies. Penambahan itu didasarkan pada koleksi kecil Kannegieter, yang hanya terdiri atas 60 spesimen dari 34 spesies. Berdasarkan material yang tersimpan di Leiden dan Washington, dalam tulisan ini saya dapat meningkatkan jumlah spesies burung yang diketahui dari Bangka menjadi lebih dari 170 spesies, tanpa menghitung catatan de Schauensee.
Namun, dari 14 spesies tambahan yang dicatat de Schauensee, hanya dua yang turut tercakup dalam daftar saya, yaitu Dendrocopos moluccensis dan Lalage nigra. Kedua spesies tersebut juga ditemukan di Jawa dan Sumatra, dengan subspesies yang sama.
Untuk beberapa spesies yang mencolok, seperti Sturnus contra dan Padda oryzivora, mungkin muncul dugaan bahwa keberadaannya di Bangka merupakan hasil introduksi baru dari Jawa. Dugaan ini bahkan pernah dikemukakan de Schauensee untuk Padda oryzivora. Akan tetapi, perlu diingat bahwa koleksi Kannegieter bukanlah koleksi baru. Spesimen tersebut dikumpulkan pada 1898, sedangkan Abbott, Kloss, dan Hagen baru melakukan pengumpulan burung di Bangka pada 1904 dan 1905.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, saya sampai pada kesimpulan yang saya yakini dengan kuat: sebagian material koleksi Kannegieter kemungkinan salah diberi label sehingga catatannya tidak dapat diterima sebagai bukti keberadaan spesies-spesies tersebut di Bangka.
Upaya Meluruskan Catatan yang Keliru
Pada dua kesempatan sebelumnya, saya telah berusaha mencegah catatan yang keliru ini masuk ke dalam literatur ilmiah dunia.
Dalam komentar saya terhadap manuskrip famili Dicaeidae untuk Peters’s Check-List of Birds of the World, volume 12, saya menulis surat kepada editornya pada 8 Agustus 1966:
“Hapus Bangka dari wilayah sebaran D. t. trochileum. Saya sangat curiga bahwa de Schauensee (Proc. Acad. Phila. 110, 1958) memasukkan spesimen dari Jawa yang salah diberi label ke dalam koleksinya yang disebut berasal dari Bangka. Saya sedang menyusun daftar burung Bangka yang telah direvisi. Karena itu, sebaiknya Bangka tidak disebutkan.”
Sebagai tindak lanjut, rujukan kepada de Schauensee yang semula menyertai lokasi Bangka dalam manuskrip dihapus. Namun, nama Bangka sebagai lokasi persebaran tetap dipertahankan (bandingkan Salomonsen, 1967: 200).
Kasus kedua berkaitan dengan Pitta guajana bangkae. Pada 10 Februari 1978, saya menyampaikan keberatan kepada editor volume 8 Check-list tersebut. Saya menjelaskan bahwa sejak menerima makalah yang mendeskripsikan subspesies yang dipersoalkan itu, saya telah meyakini bahwa de Schauensee menjadi korban kesalahan pelabelan.

Menurut saya, sebagian besar spesimen yang disebut berasal dari Bangka sebenarnya berasal dari “Omstreken van Buitenzorg”, yakni daerah sekitar Buitenzorg atau Bogor di Jawa Barat. Saya berpendapat bahwa lokasi tersebut seharusnya ditetapkan sebagai lokasi tipe yang telah dikoreksi bagi bangkae.
Saya juga menegaskan bahwa takson tersebut merupakan sinonim dari affinis. Lebih dari sepuluh tahun sebelumnya, dalam manuskrip mengenai Dicaeidae, saya telah menyampaikan persoalan serupa untuk Dicaeum trochileum, yang dicantumkan dengan merujuk pada de Schauensee. Sayangnya, tampaknya para editor tidak memahami maksud saya sepenuhnya. Mereka menghapus rujukan kepada de Schauensee, tetapi tetap mempertahankan Bangka sebagai lokasi persebaran.
Apabila diperlukan, saya bersedia memberikan penjelasan lengkap dan menyusun catatan kaki untuk memperjelas persoalan tersebut.
Meskipun demikian, Pitta guajana bangkae tetap tercantum dalam Check-list tanpa komentar, sebagai subspesies yang dianggap endemik di Bangka (lihat Mayr, 1979: 315).
GEOGRAFI BINATANG
Meskipun Bangka hanyalah dataran rendah di sebelah timur Sumatra yang secara geologis relatif baru terpisah dari pulau utama oleh Selat Bangka yang dangkal, sejumlah subspesies baru atau yang dianggap baru telah dideskripsikan dari pulau ini.
Berikut daftar 18 takson yang menjadikan Bangka sebagai lokasi tipe menurut catatan G. F. Mees:
- Bubo orientalis minor Schlegel, 1862.
- Noctua hirsuta minor Schlegel, 1873.
- Phaenicophaeus chlorophaeus bangkanus de Schauensee, 1958.
- Pitta bangkana Schlegel, 1863.
- Pitta megarhyncha Schlegel, 1863.
- Aegithina tiphia micromelaena Oberholser, 1923.
- Copsychus saularis nesiotes Oberholser, 1923.
- Kittacincla malabarica abbotti Oberholser.
- Drymocataphus capistratus nyctilampis Oberholser, 1922.
- Anuropsis malaccensis docima Oberholser, 1922.
- Erythrocichla bicolor bankana Riley, 1938.
- Mixornis bornensis ruficoma Oberholser, 1922.
- Macronus ptilosus minor Riley, 1937.
- Cyanoderma erythroptera apega Oberholser, 1922.
- Orthotomus atrogularis eumelas Oberholser, 1923.
- Cyornis banyumas calocephala Oberholser, 1920.
- Sitta frontalis hageni Parrot, 1907.
- Cinnyris hiasan heliozeteta Oberholser, 1923.
Dari 18 bentuk yang mencantumkan Bangka sebagai lokasi tipe, menurut Mees hanya dua takson Pitta yang dideskripsikan Schlegel yang dianggap valid.
Adapun Pitta megarhyncha merupakan spesies dengan wilayah persebaran lebih luas. Spesies ini diketahui menghuni kawasan pesisir, mulai dari Benggala Timur dan Burma hingga Sumatra dan Bangka. Terdapat pula catatan keberadaannya di Kalimantan, tetapi catatan tersebut masih diragukan.
Sementara itu, Pitta sordida bangkana disebut endemik di Bangka dan Billiton (Belitung). Bentuk ini berada di antara subspesies cucullata dan muelleri. Mees menduga bahwa takson tersebut kemungkinan merupakan hasil hibridisasi yang relatif stabil di antara kedua subspesies itu sehingga mungkin terbentuk dalam periode yang relatif baru.
Meskipun demikian, keberadaan takson tersebut tetap menjadi unsur yang menarik dalam fauna burung Bangka.
Bersambung.
Foto: Rare Antique Print – Eastern Hooded Pitta, Western-Minahasa-Trap, Smit-Schlegel, 1863.
Sumber foto: Pictura Antique Prints.
