1 Oktober 1820, Komandan militer Bangka, Letnan Kolonel Keer berangkat dari Koba bersama pasukan untuk mengamankan Kepulauan Lepar dari gangguan Raden Kling dan Raden Ali
Jelajah Bangka 1 October 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Raden Kling bersama Raden Ali yang menjaga kedaulatan Kesultanan Palembang Darussalam di perairan Bangka dari kekuasaan penjajahan Hindia Belanda sepanjang Tahun 1819/1820 terus-menerus mengganggu dan menyerang pos-pos militer dan keamanan milik Belanda dan semakin mengancam kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di Pulau Bangka.
Ancaman serius kemudian ditanggapi oleh Komandan Militer Belanda di Bangka, Letnan Kolonel Keer dengan membawa ekspedisi militer untuk menaklukkan kekuatan bersenjata Raden Kling dan Raden Ali yang diduga berada di Kepulauan Lepar.
Berdasarkan laporan A, Meis, Kapitein-Adjudant bij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandsche Oost-Indische leger dalam Verhaal Palembangschen Oorlog van 1819-1821, halaman 148,149: Pada tanggal 1 Oktober, Letnan Kolonel Keer berangkat dengan ekspedisi dari Koba, pada tanggal 6 Oktober Ia memerintahkan untuk membuang sauh tidak jauh dari ujung utara Poeloe-Lepar (Pulau Lepar), dan pada tanggal 7 Oktober mereka mendayung memasuki Straat Lepar (Selat Lepar).
Di selat tersebut, setelah melewati beberapa pulau, terlihat sebuah perahu yang dengan kekuatan layar dan dayung melaju di depan armada, kemungkinan besar untuk pergi mengumumkan kedatangan pasukan Belanda tersebut. Menjelang tengah hari, di antara Poeloe Tingie (Pulau Tinggi) dan sebuah pulau lain, terlihat beberapa perahu yang berusaha mencapai Sungai Kappa (maksudnya Sungai Kepo). Pengejaran segera dilakukan; sebuah perahu besar berhasil masuk ke dalam sebuah anak sungai kecil dan meloloskan diri, sementara perahu-perahu lainnya terdesak hingga terdampar di pantai.
Selengkapnya: “Den Isten October vertrok de Luitenant-Kolonel Keer met de expeditie van Koba, den 6den deed hij niet verre van den noordelijken hoek van Poeloe-Lepar het anker werpen en den 7den de Straat Lepar binnenroeijen, waarin men, na eenige eilanden gepasseerd te zijn, eene praauw in bet gezigt kreeg, die met kracht van zeil en riemen de vaartuigen voorbleef, waarschijnlijk om de aankomst der flotille te gaan aankondi gen ; tegen den middag ontdekte men tusschen Poeloe Tingie en een ander eiland , verscheidene praauwen, welke de rivier Kappa zochten te bereiken; er werd aanstonds jagt op ge maakt, eene groote praauw gelukte het een kreekje binnen te loopen en te ontkomen, de overigen werden op strand gejaagd”.

Dalam menghadapi Pasukan Raden Kling dan Raden Ali yang ternyata kemudian membangun kekuatan dan benteng di Pulau Tinggi, Letnan Kolonel Keer Sang Komandan militer segera membuat persiapan yang diperlukan agar dapat menyerang dan menghancurkan kekuatan Raden Kling dan Raden Ali dengan membagi pasukannya menjadi tiga bagian:
Bagian pertama, terdiri dari 5 perwira dan 150 tentara reguler, ditambah 20 orang anak buah Radja Akil atau Mayor Akil, ditempatkan di bawah komando Kapten Van Der Wijck. Ia harus memulai serangan dengan mengirimkan pasukan garis depan (voorwacht) dan penembak runduk (tirailleur) ke arah benteng untuk memecah tembakan meriam musuh dan mengalihkan perhatian dari pasukan penyerang utama (het gros).
Bagian kedua, yang terdiri dari 50 orang anak buah Radja Akil di bawah pimpinan mereka sendiri, harus menyergap (embuscade) di rawa-rawa yang ditumbuhi semak belukar. Mereka bergerak mendekat secara diam-diam dan sebisa mungkin tidak terlihat selama baku tembak tirailleur berlangsung, lalu menyerbu benteng dari arah mereka secara bersamaan dengan pasukan bagian pertama.
Bagian ketiga, yang terdiri dari tiga sekoci bersenjata berawak pelaut sukarela dan beberapa gelintir tentara, akan dipimpin langsung oleh sang Komandan Letnan Kolonel Keer untuk memastikan berada di depan benteng pada waktu yang tepat guna menarik tembakan musuh ke arahnya.
Sementara itu Pasukan Raden Ali dan Raden Kling mengatur strategi bertahan di dalam benteng dengan sekitar 300 pasukannya. Pasukan Raden Kling dan Raden Ali juga menggunakan persenjataan yang cukup baik pada masa itu seperti Meriam Besi, Lela, senapan sundut (Donderbusen) berat dan berbagai macam senjata tajam lainnya. Raden kling terkenal karena kepandaiannya membuat Meriam, sehingga dianggap sebagai ancaman potensial bagi keamanan Belanda dan harus segera dikalahkan.
*Keterangan gambar: Pantai pulau Bangka
Sumber: gallica.bnf.fr/Bibliothèque Nationale de France.
Pada peta Tampak Kepulauan Lepar dan Pulau Lepar disebut Isle de Sel yang berarti Pulau Garam
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia