10 Juli 1949, Panglima Besar Jenderal Sudirman Setelah Tujuh Bulan Bergerilya Kembali Memasuki Kota Yogyakarta

KantorKeresidenanBangkaBelitung_20260710_091539_000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP,CECH, CIRBC*)


Pada tanggal 24-29 Juni 1949 di bawah pengawasan UNCI, pasukan militer Belanda mulai ditarik dari Kota Yogyakarta dan pasukan TNI secara berangsur-angsur mulai memasuki Kota Yogyakarta.

Setelah diamankan pasukan TNI, Kota Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia sejak tanggal 4 Januari 1946 siap menerima kembalinya para pemimpin Republik yang diasingkan di Bangka.

Yogyakarta menjadi Ibukota Republik Indonesia karena situasi Ibukota Jakarta tidak aman dan memburuk akibat kedatangan tentara Sekutu dan NICA yang ingin kembali menguasai Indonesia. Sri Sultan Hamengkubuwono IX menawarkan Yogyakarta sebagai ibukota pusat pemerintahan baru bagi Republik Indonesia yang lebih aman.

Setelah berpisah dengan rakyat Bangka (di Kota Mentok tanggal 4 Juli 1949, di Kota Pangkalpinang tanggal 5 Juli 1949), pada Tanggal 6 Juli 1949 setelah pidato perpisahan di Pangkalpinang, rombongan pemimpin Republik siap kembali ke Ibukota Yogyakarta. Rakyat Bangka dengan antusias dan suasana haru berdesak desakan di jalan jalan raya dan lapangan udara mengantarkan kembalinya pemimpin Republik sampai ke Lapangan Udara. Pesawat UNCI yang membawa para pemimpin Republik Indonesia dari Lapangan Udara Kampung Dul Pangkalpinang Bangka mendarat di Lapangan Udara Maguwo jam 1 siang (13.00).

Kedatangan Presiden, Wakil Presiden, beserta rombongan mendapat sambutan yang hangat dari rakyat Yogya. Mulai dari Lapangan Udara Maguwo sampai di istana negara, jalan jalan telah penuh sesak dengan rakyat yang menyambut kedatangan mereka. Bukan hanya di jalan jalan saja, bahkan di atas genteng rumah, di atas pohon-pohon pun rakyat berdiri menantikan 100 kedatangan Presiden, Wakil Presiden, dan para pemimpin lainnya yang sangat mereka cintai (SESKOAD, 1991:313, 316).

Sambutan yang hangat dari rakyat Yogya membuktikan telegram yang pernah disampaikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang berisi ucapan selamat ulang tahun ke-47 kepada Bung Karno tanggal 6 Juni 1949. Terjemahan telegram berbahasa Belanda sebagai berikut: “Atas nama warga Keresidenan Yogyakarta mengucapkan selamat kepada Yang Mulia. Seluruh Yogyakarta menunggu dengan tidak sabar kembalinya Yang Mulia ke ibu kota. Kepercayaan seluruh rakyat terhadap kebijakan Yang Mulia tetap tak tergoyahkan.” (Dalam De Locomotief: Samarangsch handle- en advertentie-blad, edisi 7 Juni 1949).

Empat hari kemudian, setelah kembalinya para pemimpin Republik dari pengasingan ke Yogyakarta, yaitu pada Tanggal 10 Juli 1949, Panglima Besar Jenderal Sudirman setelah selama Tujuh bulan bergerilya dengan ditandu, kembali memasuki Kota Yogyakarta. Pertemuan antara Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan Presiden Sukarno berlangsung dalam suasana sukacita yang dalam dan pelukan hangat dari kedua pemimpin besar bangsa ini.

See also  4 April 1950, Kembalinya Satuan Kenegaraan Bangka Dalam Wilayah NKRI,

Hubungan antara pemimpin Republik yang diasingkan di Bangka dengan Panglima Besar Jenderal Sudirman sangat baik, terbukti bahwa pada tanggal 23 Mei 1949, Presiden dan Wakil Presiden RI di Pangkalpinang Bangka pernah berkirim surat dengan kertas yang berkepala surat (berkop) Presiden Republik Indonesia, diketik 1 halaman di Pangkalpinang ditujukan kepada Jang Mulia PANGLIMA BESAR di TEMPAT dan ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta (Nasution, 1979: halaman Lampiran). Tujuan surat kepada Panglima Besar Jenderal Sudirman di Tempat menunjukkan keberadaan Panglima Besar yang sedang bergerilya bersama TNI.

Merespon surat Presiden dan Wakil Presiden Sukarno dan Muhammad Hatta pada 23 Mei 1949, Panglima TNI Jenderal Sudirman yang masih berada di lokasi gerilya mengeluarkan perintah genjatan senjata. Kondisi kesehatan Panglima Besar Sudirman pada saat gerilya semakin memburuk, berbeda rumor yang berkembang bahwa beliau sudah sehat. Beliau telah menjalani operasi sehubungan dengan kondisi paru-paru yang semakin parah, kini tinggal menyisakan 1 paru-paru. Sudirman tidak terluka namun selalu ditandu oleh pasukannya, didampingi 2 dokter pribadi dan siap berangkat ke Yogyakarta kapan saja.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments