9-10 Juli 1668, Dalam Dagh-Register, Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia Menjalin Aliansi Dengan Sampoera yang Mengaku Raja Bangka Belitung
Admin 9 July 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH,CIRBC*)
Dalam catatan VOC, Dagh-Register Tahun 1668-1669 tanggal 22-26 Mei 1668 menyatakan: “Maka tiba pula di sini (Batavia), dari Pulau Bangka sebuah perahu pribumi bersama seorang bernama Keey Sampoera, penguasa atau Raja atas pulau tersebut dan juga Pulau Belitung, yang mana menurut pengakuannya datang ke sini untuk meminta Perusahaan (VOC) menjadi tuan pelindung atas negeri-negeri dan rakyatnya yang telah disebutkan tadi.”
Selengkapnya: “Soo arriveert mede hier ter reede van het eylant Banca en voorts tot binnen de rivier een inlants vaertuygh met eenen Keey Sampoera, gebieder ofte Radja over het gemelte eylant ende oock het eylant Blytton, synde volgens syn voorgeven hier verschenen om de Comp te versoecken tot bescherm heer over syne voornoemde landen ende onderdanen”.
Menelisik angka tahun kedatangan Sampoera ke Batavia Tahun 1668, tampaknya Sampoera menginginkan bantuan VOC melawan Sultan Palembang yang telah berkuasa di pulau Bangka.
Kekuasaan Palembang atas pulau Bangka yang sebelumnya dikuasai kesultanan Banten diperoleh melalui perkawinan politik pada Tahun 1666 antara Khadidjah, puteri Rajamuda kesultanan Banten dengan Sultan Abdurrahman (memerintah Tahun 1659-1706 Masehi), Sultan Pertama dari kesultanan Palembang Darussalam. Pulau Bangka kemudian menjadi wilayah Sindang (di samping wilayah Sikap dan Kepungutan) yang berstatus Mardika atau bebas (vrijheren).

Di samping karena perkawinan politik antar Dua kesultanan, pengaruh kesultanan Palembang semakin meningkat di pulau Bangka dan pulau Belitung, seiring dengan melemahnya kekuasaan kesultanan Banten yang berada di wilayah Jawa Barat, akibat pengaruh kehadiran VOC di Batavia.
Sebagai kelanjutan keinginannya Sampoera kemungkinan kembali lagi dan sudah berada di Batavia sekitar tanggal 9 Juli 1668, sehingga pada tanggal 10 Juli 1668 setelah tengah hari atau pada sore hari perjanjian ditandatangani.
Dagh-Register mencatat: “10d nae de middagh hebben haer Ed, de gouverneur generael en de Raeden van India, gemaeckt ende opgereght een onderlingh verbondt ende alliantie met Radja Sampoere, gebieder van de eylanden Bancka ende Bilitongh, waer by gemelte haer Ed beloover denselven Radja Sampoere met syne eylanden ende volckeren te nemen onder de protextie ende bescherminge van de Comp. Radja Sampoere belooft daerentegen de Comp gehou ende getrouw te syn, mitsgaders deselve te erkennen voor syn wettigen schut en bescherm heer, soo langh, als zon en maen sullen schynen, gelyck omstandiger by het gemelte verbondt can werden naegesien, staende onder dato deses, soo in ‘t Maleyts, als Duyts, in ‘t resolutie boeck ingeschreven ende aldaer oock wederseyts ondertekent ende bekraghtight”.
Maksudnya, “Pada tanggal 10 setelah tengah hari, Yang Mulia Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia telah membuat dan mendirikan sebuah sekutu dan aliansi timbal balik dengan Raja Sampoere, penguasa pulau Bangka dan Belitung, yang mana Yang Mulia tersebut berjanji untuk membawa Raja Sampoere beserta pulau-pulau dan rakyatnya di bawah perlindungan dan pengayoman Kompeni (VOC). Sebaliknya, Raja Sampoere berjanji untuk tetap setia dan patuh kepada Kompeni, serta mengakui Kompeni sebagai pelindung dan pengayom hukumnya selama matahari dan bulan masih bersinar, sebagaimana dapat diperiksa lebih rinci dalam sekutu tersebut, tertanggal hari ini, tertulis dalam buku resolusi baik dalam bahasa Melayu maupun bahasa Belanda, dan di sana juga telah ditandatangani serta disahkan oleh kedua belah pihak.”
Ternyata setelah diselidiki Raja Sampoera tidak memiliki kekuatan apa pun, dan tidak memiliki kendali atas plakat atau perjanjian serta kekuasaan lainnya. Sampoera sama kedudukannya dengan beberapa penguasa Bangka lainnya yang memiliki wilayah kekuasaan kecil di wilayahnya.

Kesimpulannya bahwa meskipun penguasa setempat amat ramah, tetapi pulau Bangka kurang menghasilkan apa-apa yang berharga bagi VOC. Kesempatan untuk menguasai damar, minyak damar dan kemungkinan juga besi tidak dapat dijadikan alasan untuk bermusuhan dengan Kesultanan Palembang, yang memberikan sumber komoditi jauh bernilai, yaitu Lada. Bangka kemudian diabaikan (Heidhues, 2008:3).
*Keterangan gambar: Sisa sisa Kapal VOC di Belanda Tahun 2018, Sumber Foto Dato’ Akhmad Elvian
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia