10 Oktober 1820, Gugurnya Raden Kling Pada Pertempuan Pulau Tinggi

20261010_092144

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Pertempuran antara pasukan Raden Kling di Benteng Pulau Tinggi dengan pasukan Militer Belanda pada tanggal 10 Oktober 1820 berlangsung sengit sebagaimana dijelaskan oleh A Meis Kapitein-Adjudant bij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandsche Oost-Indische leger dalam Verhaal Palembangschen Oorlog van 1819-1821 halaman 149:

”Pada tanggal 10 Oktober, seluruh pasukan bergerak sesuai dengan rencana hari sebelumnya. Tepat jam 12 siang, baku tembak dari pasukan penembak runduk dimulai. Pasukan yang mempertahankan benteng segera membalasnya dengan tembakan meriam dan lela (meriam kuno Melayu).

Tak lama kemudian, terdengar pula tembakan dari meriam-meriam ringan di atas sekoci. Saat itulah Kapitein Van der Wijck memerintahkan pasukannya bergerak maju menyerbu benteng diiringi tabuhan drum tanda serang (stormmarsch) dan teriakan “Hura!”. Anak buah Raja Akil saling berpacu dengan anak buah Kapitein Van der Wijck untuk menjadi yang pertama sampai.

Letnan Zeni (Pionniers) De Fray, Sersan Schuurman, dan prajurit flankir (Flankeur) De Jager menjadi orang-orang pertama yang berhasil memanjat salah satu sisi benteng. Raja Akil bersama pasukannya kini juga ikut merangsek masuk ke dalam, sementara sekoci-sekoci terus melepaskan tembakan yang gencar.

Melihat dirinya diserang dari segala penjuru, musuh meninggalkan meriam mereka. Mereka sempat mencoba menggalang kekuatan kembali di tepi sungai untuk bertahan, namun di sini pun mereka segera dipukul mundur oleh serangan berani dari pasukan Kapitein Van der Wijck dan Raja Akil.

Dalam waktu kurang dari 10 menit, pasukan kami telah sepenuhnya menguasai posisi penting yang dipertahankan oleh 300 orang ini. Keberhasilan ini diraih dengan kekuatan pasukan yang tidak lebih dari separuh jumlah musuh.

See also  19 Agustus 1945, Keresidenan Bangka Belitung Masuk Dalam Wilayah Provinsi Sumatera, Bagian Sub-Provinsi Sumatera Selatan.

Di dalam benteng serta di dalam dan sekitar sungai, ditemukan banyak korban tewas. Di antara jenazah yang berhasil dikenali adalah Raden Kling sendiri, Raden Machmoed, istri, para putri, dan menantu laki-laki dari Raden Ali, serta beberapa orang terpandang lainnya.

Selain itu, ditemukan pula 8 meriam besi, 3 lela, 2 senapan lantakan berat (donderbussen), serta berbagai senjata lainnya. Di pihak kami, tercatat 5 orang tewas dan 10 orang luka-luka, termasuk di antaranya Kapitein Van der Wijck dan Letnan De Fruy”.

Selengkapnya:
“Op 10 oktober stelde zich alles overeenkomstig het plan van de vorige dag in beweging; om 12 uur ‘s middags begon het tirailleursvuur; de bezetting van de benteng beantwoordde dit onmiddellijk met kanon- en lila-schoten (lela/meriam melayu), spoedig liet zich ook het vuur uit de lichte stukken der sloepen horen en nu deed kapitein Van der Wijck onder het slaan van de stormmars en met een ‘hoera!’ op de benteng aanrukken; de manschappen van Radja Akil wedijverden met die van kapitein Van der Wijck om de eersten te zijn; de luitenant der pioniers De Fray, sergeant Schuurman en flankeur De Jager waren de eersten die een der flanken beklommen.

Radja Akil drong nu ook met de zijnen naar binnen en de sloepen onderhielden een levendig vuur; de vijand, zich van alle kanten besprongen ziende, verliet zijn batterijen, trachtte een ogenblik zich nog aan de rivierkant te verzamelen en stand te houden, maar werd ook hier spoedig door de moedige aanvallen onder kapitein Van der Wijck en Radja Akil overhoopgeworpen.

In minder dan 10 minuten waren de onzen geheel meester van deze belangrijke en door 300 man verdedigde positie, en dit met een macht die niet meer dan de helft van de vijandelijke bedroeg.

In de benteng en in en bij de rivier vond men een groot aantal doden, waaronder herkend werden Raden Kling zelf, Raden Machmoed, de vrouw, dochters en de schoonzoon van Raden Ali en nog enige aanzienlijke personen; men vond voorts 8 ijzeren kanonnen, 3 lila’s, 2 zware donderbussen en meer andere wapens. Wij telden 5 doden en 10 gewonden, onder welke laatsten kapitein Van der Wijck en luitenant De Fruy”.


*Keterangan gambar:
Meriam kepandean Raden Kling, علامت ردين كليڠ ابن ردين فربو جاي في بلاد فالمبڠ دار السلام سنة ١٢٢٥ (Alamat Raden Kling Ibn Prabu Jaya fi Balad Palembang Darussalam Sanad 1225). Meriam tersimpan di kuil Wat Phra Mahathat Woramahawihan, Wilayah Nakhon Si Thammarat, Thailand.

See also  18 Juli 1803, Ekspedisi Belanda ke Pulau Bangka dengan kapal perang Maria Rijgersbergen dan Kapal Layar eks VOC Maria Jacoba dan Beschermer

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Related Images:

Comments

comments