TempattinggalbarakbagipekerjakontrakdariTiongkokdangudangdipe_20260815_070128_000

Oleh : Meilanto


Kisah memilukan dilihat oleh Buddingh saat ia ke tambang timah seperti yang ia tulis pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 59-60.

Pada tulisannya tersebut ia menuliskan bagaimana para pekerja tambang timah berhenti bekerja setelah mendengar suara tontong. Simak tulisannya:

Menige oogenblikken later werd aan het kongsi-huis de tontong (een uitgehold cilindenormig stuk hout) geslagen,
ten teeken voor het werkvolk dat het etenstijd was. De arbeiders zwermden op dat signaal, als bijen uit een’ bijenkorf, haastig uit de mijn, en drongen bij troepen van 20 à 30 man te gelijk in 3 à 4 lange bamboezen loodsen of pondok’s, welke aan de eene zijde met een pagger (hagc) van gevlochten bamboe gesloten, doch aan de andere zijde geheel open waren, en namen als uitgehongerd het middagmaal, hetwelk uit rijst, groenten, dinding en gedroogde visch met zout bestond, benevens de voor een’ Chinees onmisbare thee, welke, naar Chineesch gebruik, uit zeer kleine roode trekpotjes en zeer kleine kopjes, doch (almede volgens Chinésche gewoonte) zonder melk, gedronken werd. Ze zaten allen aan bamboezen rekken of tafels, en aten met hunne twee stokjes, of met de vingertoppen der regterhand , zoo schrokkig en gulzig, en zoo ongemanierd, en praatten eu schreeuwden allen te gelijk zoo hard en zoo druk (almede volgens Chinésche manier), dat we de luidruchtige gasten maar spoedig alleen lieten. Vijfmalen daags zet de Chinésche kok der mijn hun zulk een’ maaltijd voor, en vijfmalen daags eten ze met denzelfden verslindenden eetlust!

Maksudnya
Beberapa saat kemudian, di kediaman kongsi dipukullah tontong (sepotong kayu berbentuk silinder yang dilubangi bagian dalamnya), sebagai tanda bagi para pekerja bahwa waktu makan telah tiba.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #126, Masjid Al Muttaqin, Kampung Pisang.

Mendengar isyarat itu, para pekerja berhamburan keluar dari tambang secepat lebah keluar dari sarangnya, dan berbondong-bondong masuk berkelompok yang terdiri dari 20 hingga 30 orang ke dalam 3 atau 4 pondok panjang berbahan bambu. Pondok-pondok ini salah satu sisinya tertutup pagar anyaman bambu, sedangkan sisi lainnya terbuka sepenuhnya.

Dengan seolah-olah kelaparan berat, mereka menyantap makan siang yang terdiri dari nasi, sayur-sayuran, daging, ikan kering yang ditaburi garam, serta teh—minuman yang tak tergantikan bagi orang Tionghoa. Sesuai kebiasaan mereka, teh diminum dari teko merah yang sangat kecil dan cangkir-cangkir mungil, namun tetap saja tanpa susu.

Mereka semua duduk berjejer di atas rak atau meja bambu, dan makan menggunakan dua batang sumpit atau dengan ujung jari tangan kanan. Makanlah dengan sangat lahap, terburu-buru, dan terkesan kurang sopan, sambil berbicara dan berteriak serentak dengan suara yang sangat keras dan riuh—lagi-lagi menurut kebiasaan orang Tionghoa—sehingga kami pun segera meninggalkan tamu-tamu yang berisik itu sendirian.

Koki Tionghoa di tambang ini menyajikan hidangan seperti itu hingga lima kali sehari, dan setiap kali makan mereka selalu menyantapnya dengan nafsu makan yang sama besarnya!


Foto : Kampement met woningen van Chinese contractarbeiders en loodsen bij een tinmijn te Soengeiliat
anonymous, 1907 – 1919
Sumber : Rijkmuseum.nl Pewarnaan AI

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments