Untitleddesign_20260718_075745_000

Oleh : Meilanto


Di Pangkalpinang, buruh tambang timah telah memeluk Agama Katholik. Tahun 1854, ada 146 orang Tionghoa di tambang timah Pangkalpinang, Belinyu, dan Sungai Liat yang telah bergabung dalam perkumpulan umat Kristen. Berikut tulisan Buddingh di halaman 67 pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.

Onder de Chinésche mijnwerkers te Pankal-pinan g zijn er, even als te Blienjoe, eenigen, die tot de Eoomsch-Katholijke Kerk bekeerd zijn. In het geheel waren er in J 854
bij de tinmijnen te Pankal-pinang , Blienjoe en Soengi-slan 146 Chinezen, die tot de Serani-hoe i of het Christelijk gezelschap (het Chinésche h o ei toch beteekent: genootschap, vereeniging,) behoorden, en wier overgang tot het Katholicisme door
wijlen den R, K. Missionaris J. J.LANGENHOFF bewerkt was. Bij eene der vele mijnen van Pankal-pinan g stond zelfs reeds eon Roomsch-Katholijk kerkje of kapel, gelijk mede een dito kapel bij eene der vele mijnen van Soengi-slan , alwaar zich ook de heer LANGENHOFF tijdelijk gevestigd had. De Katholijke Chinezen, die ik te Blienjo e en elders bezocht, hadden
in hunne woning een bidvertrekje afgezonderd, aan welks einde een klein, met een’ witten doek overdekt en met twee waskaarsjes bezet altaar stond, waarop een cmusTus-beeld, een MAMA-beeld en eenige gekleurde emblema’s of symbolen der R. K. Kerk geplaatst waren, – en één hunner had juist, toen ik bij hem intrad, een met plaatjes versierd gebedenboekje met
Nederduit sehen tekst in handen. Den tekst kon hij niet lezen, maar de plaaijes begreep hij, en, toen ik hein onder anderen, op een der plaatjes wijzende, vroeg, wat het beduidde, antwoordde hij in gebroken maleisch: „dit is de groote Heer JEZU’s die de kindere n zegent
.”

See also  Mengenal Paulus Tsen On Ngie, Rasul Penyebar Agama Katolik Di Pulau Bangka.

Terjemahan:

Di antara para penambang Tionghoa di Pangkalpinang, sebagaimana halnya di Belinyu, terdapat sejumlah orang yang telah memeluk agama Katolik Roma.

Secara keseluruhan, pada tahun 1854, terdapat 146 orang Tionghoa di tambang timah Pangkalpinang, Belinyu, dan Sungai Liat yang menjadi anggota Serani-hoei—atau perkumpulan umat Kristen (kata hoei dalam bahasa Tionghoa berarti perkumpulan atau asosiasi)—dan yang telah beralih memeluk agama Katolik berkat upaya mendiang misionaris Katolik Roma, J. J. Langenhoff.

Di salah satu dari sekian banyak tambang di Pangkalpinang, telah berdiri sebuah gereja kecil atau kapel Katolik Roma; begitu pula sebuah kapel serupa di salah satu tambang di Sungai Liat, tempat Tuan Langenhoff juga sempat tinggal untuk sementara waktu.

Umat Katolik Tionghoa yang saya kunjungi di Belinyu dan tempat-tempat lain telah menyediakan ruang doa kecil di rumah mereka; di bagian ujung ruangan terdapat sebuah altar mungil yang ditutupi kain putih dan dihiasi dua batang lilin, serta menampilkan sosok Kristus, sosok Maria, dan berbagai lambang atau simbol Gereja Katolik Roma yang berwarna-warni.

Bahkan, saat saya (Buddingh) memasuki rumah salah satu dari mereka, ia sedang memegang sebuah buku doa kecil yang dilengkapi ilustrasi gambar dan berisi teks berbahasa Belanda. Ia tidak dapat membaca teks tersebut, namun ia memahami gambar-gambarnya; ketika saya menunjuk salah satu ilustrasi dan bertanya apa maknanya, ia menjawab dalam bahasa Melayu yang terbata-bata: “Ini Tuhan Yesus yang agung sedang memberkati anak-anak.”


*Keterangan gambar: Mr. Buddingh

Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

See also  Koba, Dalam Catatan Buddingh (1854)

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments