14 Oktober 1850, Pertempuran Sengit Antara Pasukan Militer Belanda Melawan Pasukan Depati Amir di Tadjaubelah

IMG_20261014_072820

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Tadjaubelah adalah lokasi pertempuran sengit antara pasukan militer Belanda melawan pasukan Depati Amir yang terjadi pada Tanggal 14 Oktober 1850.

Posisi Tadjaubelah terletak di antara Kampung Lukok di Timur Laut dan Kampung Titi Medang di Barat Laut serta di antara kampung Titi Puak di Barat Daya dan kampung Petaling di Tenggara.

Depati Amir mengorganisir pasukan yang kuat, terdiri atas pasukan utama yang langsung berada di bawah komandonya berjumlah sekitar 300 orang dan ini belum termasuk pasukan pasukan kecil yang dibentuk dan berada di bawah komando masing-masing panglima perang di distrik-distrik di pulau Bangka.

Depati Amir dibantu adiknya Cing atau Hamzah sebagai panglima perang yang pada saat itu masih berusia 19 tahun. Hamzah membangun pasukannya bermarkas di Kampung Tjengal.

Beberapa panglima perang Depati Amir lainnya yaitu Awang, Bujang Singkip, Bujang Enggak, Dahan, Ubin, Bangul, Tata, dan Darip yang berasal dari berbagai distrik. Dalam pertempuran, pasukan Depati Amir sudah menggunakan Senjata Api (Donderbussen, Geweren dan Buksen), Meriam Lela, Sumpitan, Pidung (Ketapel besar dengan Pelentur batang pohon hidup), Siwar atau Keris Panjang dan senjata tradisional lainnya.

Pertempuran terjadi hampir di seluruh pelosok pulau Bangka. Pertempuran besar antara pasukan Depati Amir dengan pasukan Belanda terjadi di daerah Lukok, Cepurak, Mendara, Mentadai, Ampang, Ketiping, Titi Puwak dan Titi Medang. Pertempuran terbesar antara pasukan Depati Amir dan pasukan Belanda terjadi di daerah Tadjaubelah.

Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Keputusan tanggal 17 September 1850 nomor 1 yang memutuskan, bahwa untuk menundukkan dan menyelesaikan perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir harus dilakukan dengan kekuatan militer melalui operasi militer, dan Pulau Bangka ditetapkan dalam status Staat van Beleg atau darurat perang.

See also  Catatan Perjalanan J.E. Teijsmann, Ahli Botani Berkebangsaan Belanda, Di Pulau Bangka (Bagian 8)

Selanjutnya Pemerintah Hindia Belanda mengutus komisaris H.J. Severijn Haesebroek, dan Kolonel Buschkens untuk meneliti tentang kondisi masyarakat Bangka dan memberikan masukan-masukan penting kepada pemerintah Hindia Belanda guna mempercepat penyelesaian perang Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir, termasuk pengiriman kapal api perang untuk memblokade perairan pulau Bangka.

Dalam pertempuran di daerah Tandjaubelah, pasukan Depati Amir yang bermarkas di daerah Tampui dan Moendar di Kaki Gunung Maras, dikepung pasukan Belanda dari markas militernya di kampung Bakam, dan Pos- Pos militernya di Kampung Tiangtara, Ampang dan Pangkalmancung.

Pasukan Belanda dari Distrik Pangkalpinang dan pasukan di Tadjaubelah menghadang pasukan Depati Amir di daerah Tadjaubelah dan pasukan Belanda dari kampung Layang menghadang pasukan Depati Amir di daerah sekitar kampung Mabed untuk mencegah pasukan Depati Amir lari ke daerah Bakoong, Cempurak, Mendara/Menareh, Lukok, Kimak dan Depak.

Pasukan Depati Amir karena dikepung dari berbagai arah kemudian bergerak ke Selatan menuju daerah Tadjaubelah bergabung dengan pasukan di Moendar dan terus melalui daerah Tanabawa menuju daerah Tadjaubelah.

Pada Tanggal 14 Oktober 1850, terjadilah kontak senjata dan pertempuran sengit dengan pasukan Belanda dari Distrik Pangkalpinang yang menimbulkan korban besar di kedua pihak. Karena kekurangan persenjataan dan amunisi, pasukan Depati Amir kemudian menyingkir ke daerah Depak dan bergabung dengan anak pasukan lainnya yang dipimpin oleh Awang.

Pada saat pertempuran di Tadjaubelah panglima perang pasukan Depati Amir, Bujang Enggak gugur dan panglima perang Dahan putus tangannya.


*Keterangan gambar: Ilustrasi Pertempuran di Tadjaubelah, pada galeri Tindak Kepahlawanan Depati Amir, Koleksi Museum Timah Indonesia Pangkalpinang

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

See also  Catatan Perjalanan J.E. Teijsmann, Ahli Botani Berkebangsaan Belanda, Di Pulau Bangka (Bagian 12)

Related Images:

Comments

comments