15 Agustus 1850, Surat Mayor D.W. Becking No. 279 Tentang Rencana Mendatangkan Kompi Pasukan Afrika Dari Jawa.
Admin 15 August 2026
Oleh. Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Pemerintah sipil dan militer Belanda di Keresidenan Bangka bahu membahu dengan berbagai cara dan siasat berupaya secepatnya untuk menyelesaikan perang melawan rakyat Bangka yang dipimpin Depati Amir.
Tindakan-tindakan militer semakin meningkat dilakukan terutama setelah perundingan yang tidak menyepakati hasil di kampung Layang, tanggal 4 Agustus 1850 antara Depati Amir dan Lettu Dekker, komandan militer Belanda di wilayah Layang.
Komandan tertinggi militer Belanda di Bangka, Mayor D.W. Becking mendapatkan laporan besarnya kekuatan dan persenjataan pasukan utama Depati Amir ketika berada di kampung Layang, belum termasuk pasukan pasukan yang ada diberbagai distrik, sehingga harus memperkuat pasukan militer Belanda yang ada di Bangka.
Salah satu upaya memperkuat pasukan militernya untuk mengimbangi kekuatan pasukan Depati Amir, Komandan militer Bangka Mayor D.W. Becking mengusulkan untuk mendatangkan kompi pasukan Afrika dari pulau Jawa.
Dalam dokumen ANRI; Surat dari Mayor Militer Bangka kepada Inspektur di Pulau Bangka, tertanggal Muntok 15 Agustus 1850, No. 279: Rahasia Muntok, 15 Agustus 1850 No. 279, Kepada Inspektur dll. Ditugaskan dalam Misi ke Pulau Banka:
Menanggapi surat resmi dari Yang Mulia tertanggal 14 bulan ini, Lampiran H/rahasia, saya mendapat kehormatan untuk menyampaikan hal-hal berikut, bahwa untuk memenuhi rencana yang dimaksud di dalamnya, menurut hemat saya, masih perlu mengajukan permintaan penambahan satu kompi pasukan dari Jawa.
Pada saat pemanggilan (pertemuan) dengan Depati Amir di Laijang (Kampung Layang) pada tanggal 4 bulan ini untuk berunding, yang bersangkutan membawa pengikut sekitar 300 orang, dan 200 orang di antaranya bersenjata, serta di antara mereka ada sekitar 40 orang yang menggunakan senapan. Pada kesempatan tersebut dia (Depati Amir) pasti telah mengerahkan segala upaya untuk menunjukkan kekuatan sebesar mungkin, maka dapat diasumsikan bahwa kita tidak akan menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar dari ini.

Untuk menundukkannya, satu kompi pasukan saja tidak cukup. Jika dia memiliki kekuatan seperti ini, yang tampaknya kemungkinan besar demikian, maka operasi terhadap mereka dapat dimulai dengan pasukan gabungan, dan setelah membubarkan para pengikutnya, operasi dapat dilanjutkan sesuai dengan rencana yang dimaksud di atas.
Namun, untuk tujuan tersebut, 4 kompi dari Batalion yang saat ini ada di Banka tidak dapat digunakan. Karena jika pasukan tersebut meninggalkan titik-titik (pos militer) yang mereka duduki sekarang, maka wilayah tambang, terutama di daerah Sungailiat, akan terancam oleh gerombolan pengikut Amir yang berkeliaran.
Ruang gerak Amir akan semakin luas, pengejaran akan menjadi lebih sulit, dan pada akhirnya penduduk yang telah kembali dan menetap di bawah perlindungan pos-pos militer akan kembali terancam oleh tindakan kekerasan dari Amir. Terlebih lagi, sebelum mereka masuk ke dalam hutan (ladang padi), mereka akan cenderung melakukan perundingan, atau mereka akan kembali terbujuk untuk bersekutu dengannya.
Oleh karena itu, saya menganggap sangat perlu agar satu kompi pasukan lagi dalam kondisi siap perang, yang dilengkapi dengan perlengkapan lapangan yang memadai, segera dikirim dari Jawa. Pasukan Afrika akan menjadi yang paling cocok untuk tugas ini, karena mereka memiliki daya tahan yang baik terhadap kelelahan, dan yang terpenting, karena mereka akan memberikan dampak ketakutan yang lebih besar bagi penduduk setempat dibandingkan dengan pasukan pribumi.
Untuk memberikan kecepatan mobilitas yang diperlukan bagi pasukan, pemerintah sipil harus menyiapkan tambahan 60 kuli. Kuli-kuli ini dapat membawa amunisi dan bahan makanan yang diperlukan selama 5 hari untuk pasukan dan untuk kuli itu sendiri. Hal tersebut sudah cukup, asalkan pemerintah sipil memastikan bahwa depot-depot bahan makanan dibuat di tiga tempat yang telah ditentukan.
Dengan demikian, diperlukan 180 kuli untuk ketiga tempat pos pasukan tersebut. Jika dari jumlah kuli yang ada di Bangka saat ini setelah dikurangi jumlah di atas masih tersisa jumlah yang cukup untuk mengisi depot-depot yang dimaksud dan memasok bahan makanan ke pos-pos pertahanan (cordon), maka pengiriman kuli dari Jawa tidak diperlukan lagi. Jika persediaan bahan makanan di Banka tidak mencukupi, pemerintah sipil harus memastikan pengirimannya tepat waktu.
Mayor Komandan Militer Banka
(Tanda Tangan)
Becking.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
